Tatra kho āyasmā mahāmoggallāno bhikkhū āmantesi:
Di sana Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata kepada para bhikkhu:
There Venerable Mahāmoggallāna addressed the mendicants:
Khotbah tentang Pernyataan
Sutta ini mengajak kita untuk merenungkan tentang kejujuran dalam menilai kemajuan spiritual kita sendiri. Mari kita simak bagaimana Yang Mulia Mahāmoggallāna memaparkan kriteria ketat untuk menguji klaim pencapaian spiritual, dan apa saja sepuluh kualitas yang justru menjadi penghalang bagi pertumbuhan sejati.
Yang Mulia Mahāmoggallāna menjelaskan kepada para bhikkhu bagaimana seorang bhikkhu yang menyatakan telah mencapai pencerahan akan diuji oleh Sang Tathāgata atau siswa-Nya yang mahir. Pengujian ini mengungkap sepuluh kualitas batin yang masih melekat, seperti kemarahan, dendam, dan iri hati, yang semuanya merupakan tanda kemunduran dalam Dhamma dan Vinaya. Sutta ini menegaskan bahwa tanpa melepaskan sepuluh kualitas negatif ini, mustahil mencapai pertumbuhan sejati dalam kehidupan suci.
Tatra kho āyasmā mahāmoggallāno bhikkhū āmantesi:
Di sana Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata kepada para bhikkhu:
There Venerable Mahāmoggallāna addressed the mendicants:
“āvuso bhikkhave”ti.
“Sahabat-sahabat, para bhikkhu!”
“Reverends, mendicants!”
“Āvuso”ti kho te bhikkhū āyasmato mahāmoggallānassa paccassosuṁ.
“Sahabat,” para bhikkhu itu menjawab Yang Mulia Mahāmoggallāna.
“Reverend,” they replied.
Āyasmā mahāmoggallāno etadavoca:
Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata demikian:
Venerable Mahāmoggallāna said this:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.