‹
DN 9

Poṭṭhapādasutta

Khotbah dengan Poṭṭhapāda

Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

DN 9
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 9

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana pikiran dan persepsi bekerja, serta apa yang benar-benar penting dalam praktik spiritual. Mari kita simak dialog antara Buddha dan Poṭṭhapāda yang mengupas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang persepsi, diri, dan kebenaran.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Sang Buddha mengunjungi pengembara Poṭṭhapāda di taman Mallikā dan menjawab pertanyaannya tentang bagaimana penghentian persepsi terjadi. Buddha menjelaskan bahwa persepsi muncul dan lenyap karena sebab, dan melalui latihan bertahap hingga mencapai puncak persepsi. Percakapan kemudian beralih ke pertanyaan-pertanyaan metafisik yang tidak dijawab Buddha, dan diakhiri dengan penjelasan tentang tiga jenis kelahiran kembali serta penggunaan bahasa duniawi tanpa melekat padanya.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
dn9:56.1

Alattha kho citto hatthisāriputto bhagavato santike pabbajjaṁ, alattha upasampadaṁ.

Dan Citta Hatthisāriputta pun menerima penahbisan, menerima upasampadā di hadapan Bhagavā.

And Citta Hatthisāriputta received the going forth, the ordination in the Buddha’s presence.

dn9:56.2

Acirūpasampanno kho panāyasmā citto hatthisāriputto eko vūpakaṭṭho appamatto ātāpī pahitatto viharanto na cirasseva—yassatthāya kulaputtā sammadeva agārasmā anagāriyaṁ pabbajanti, tadanuttaraṁ—brahmacariyapariyosānaṁ diṭṭheva dhamme sayaṁ abhiññā sacchikatvā upasampajja vihāsi.

Tidak lama setelah penahbisannya, Yang Mulia Citta Hatthisāriputta, hidup menyendiri, terasing, tekun, bersemangat, dan bertekad, dengan segera mencapai tujuan tertinggi dari kehidupan suci—akhir dari perjalanan spiritual—yang karenanya para putra keluarga dengan benar meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ia hidup setelah merealisasikan dengan kebijaksanaan langsungnya sendiri dalam kehidupan ini juga.

Not long after his ordination, Venerable Citta Hatthisāriputta, living alone, withdrawn, diligent, keen, and resolute, soon realized the supreme culmination of the spiritual path in this very life. He lived having achieved with his own insight the goal for which gentlemen rightly go forth from the lay life to homelessness.

dn9:56.3

“khīṇā jāti, vusitaṁ brahmacariyaṁ, kataṁ karaṇīyaṁ, nāparaṁ itthAttāyā”ti abbhaññāsi.

Ia memahami: “Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk kehidupan ini.”

He understood: “Rebirth is ended; the spiritual journey has been completed; what had to be done has been done; there is nothing further for this place.”

dn9:56.4

Aññataro kho panāyasmā citto hatthisāriputto arahataṁ ahosīti.

Dan Yang Mulia Citta Hatthisāriputta menjadi salah satu dari para Arahant.

And Venerable Citta Hatthisāriputta became one of the perfected.

dn9:56.5

Poṭṭhapādasuttaṁ niṭṭhitaṁ navamaṁ.

Selesailah Sutta Poṭṭhapāda, yang kesembilan.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.