dn8:11.1 Aparampi no, kassapa, viññū samanuyuñjantaṁ samanugāhantaṁ samanubhāsantaṁ satthārā vā satthāraṁ saṅghena vā saṅghaṁ.
Khotbah Singa kepada Petapa Telanjang Kassapa
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna spiritualitas sejati di balik praktik lahiriah. Mari kita simak bagaimana Buddha meluruskan pandangan Kassapa tentang pertapaan dan menunjukkan jalan menuju kebebasan sejati.
Petapa telanjang Kassapa mendatangi Buddha untuk mengklarifikasi tuduhan bahwa Buddha mencela semua praktik pertapaan keras. Buddha menjelaskan bahwa ia tidak menghakimi praktik lahiriah, melainkan menilai buahnya. Ia mengajarkan bahwa pertapaan sejati bukanlah sekadar penyiksaan diri, melainkan pengembangan moralitas, pikiran, dan kebijaksanaan melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan. Di akhir sutta, Kassapa memutuskan untuk menjadi pengikut Buddha dan ditahbiskan menjadi bhikkhu.
dn8:11.1 Aparampi no, kassapa, viññū samanuyuñjantaṁ samanugāhantaṁ samanubhāsantaṁ satthārā vā satthāraṁ saṅghena vā saṅghaṁ.
dn8:11.2 ‘Ye imesaṁ bhavataṁ dhammā kusalā kusalasaṅkhātā, anavajjā anavajjasaṅkhātā, sevitabbā sevitabbasaṅkhātā, alamariyā alamariyasaṅkhātā, sukkā sukkasaṅkhātā.
dn8:11.3 Ko ime dhamme anavasesaṁ samādāya vattati, gotamasāvakasaṅgho vā, pare vā pana bhonto gaṇācariyasāvakasaṅghā’ti?
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.