Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 8
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna spiritualitas sejati di balik praktik lahiriah. Mari kita simak bagaimana Buddha meluruskan pandangan Kassapa tentang pertapaan dan menunjukkan jalan menuju kebebasan sejati.
Petapa telanjang Kassapa mendatangi Buddha untuk mengklarifikasi tuduhan bahwa Buddha mencela semua praktik pertapaan keras. Buddha menjelaskan bahwa ia tidak menghakimi praktik lahiriah, melainkan menilai buahnya. Ia mengajarkan bahwa pertapaan sejati bukanlah sekadar penyiksaan diri, melainkan pengembangan moralitas, pikiran, dan kebijaksanaan melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan. Di akhir sutta, Kassapa memutuskan untuk menjadi pengikut Buddha dan ditahbiskan menjadi bhikkhu.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
“Ye te, kassapa, evamāhaṁsu: ‘samaṇo gotamo sabbaṁ tapaṁ garahati, sabbaṁ tapassiṁ lūkhājīviṁ ekaṁsena upakkosati upavadatī’ti, na me te vuttavādino, abbhācikkhanti ca pana maṁ te asatā abhūtena.
“Kassapa, mereka yang berkata demikian tidak mengulangi apa yang telah Kukatakan. Mereka memfitnah-Ku dengan hal yang tidak benar, tidak berdasar, dan tidak sesuai kenyataan.
“Kassapa, those who say this do not repeat what I have said. They misrepresent me with what is false, baseless, and untrue.
Di sini, Kassapa, dengan mata dewa yang jernih dan melampaui kemampuan manusia, Aku melihat sebagian pertapa yang keras dan hidup sederhana, setelah kematian dan hancurnya badan, terlahir kembali di alam sengsara, alam buruk, alam kehancuran, neraka.
With clairvoyance that is purified and superhuman, I see some fervent mortifier who lives rough reborn in a place of loss, a bad place, the underworld, hell.
Akan tetapi, Kassapa, aku melihat dengan mata dewa yang murni dan melampaui penglihatan manusia, seorang pertapa yang tekun dan hidup sederhana, setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam yang baik, alam surga.
But I see another fervent mortifier who lives rough reborn in a good place, a heavenly realm.
Di sini, Kassapa, dengan mata dewa yang murni dan melampaui penglihatan manusia, aku melihat seorang petapa yang hidup tanpa banyak penderitaan, setelah kematian dan hancurnya badan, terlahir kembali di alam sengsara, alam yang buruk, alam kejatuhan, bahkan neraka.
I see some fervent mortifier who takes it easy reborn in a place of loss.
Akan tetapi di sini, Kassapa, dengan mata dewa yang murni dan melampaui penglihatan manusia, aku melihat seorang petapa lain yang hidup tanpa banyak penderitaan, setelah kematian dan hancurnya badan, terlahir kembali di alam yang baik, alam surga.
But I see another fervent mortifier who takes it easy reborn in a good place, a heavenly realm.
Kassapa, karena aku sungguh memahami sebagaimana adanya kedatangan dan kepergian, kematian dan kelahiran kembali dari para pertapa yang tekun ini, bagaimana mungkin aku akan mencela segala bentuk pertapaan, atau dengan tegas mengutuk dan mengecam para pertapa yang tekun dan hidup sederhana itu?
Since I truly understand the coming and going, passing away and rebirth of these fervent mortifiers in this way, how could I criticize all forms of mortification, or categorically condemn and denounce those fervent mortifiers who live rough?
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
DN 8 · Khotbah Singa kepada Petapa Telanjang Kassapa | Tiga Keranjang