Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 5
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna pengorbanan dan persembahan. Mari kita simak bagaimana Buddha mengubah pemahaman seorang brahmana tentang ritual, dari yang berpusat pada kekerasan menjadi yang berpusat pada kedamaian dan pengembangan batin.
Brahmana Kūṭadanta, yang sedang bersiap melakukan pengorbanan besar, mendatangi Buddha untuk bertanya tentang cara melengkapi pengorbanan dengan tiga cara dan enam belas perlengkapan. Buddha menjawab dengan kisah Raja Mahāvijita, yang pengorbanannya dilakukan tanpa kekerasan dan dengan persetujuan rakyat, lalu secara bertahap mengarahkan Kūṭadanta pada pemahaman bahwa pengorbanan tertinggi adalah menjalankan kehidupan spiritual hingga mencapai pencerahan. Kūṭadanta akhirnya melepaskan hewan-hewan kurban, berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, serta mencapai tingkat pemasuk-arus.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
Kemudian brahmana Kūṭadanta, yang telah melihat Dhamma, mencapai Dhamma, memahami Dhamma, dan mendalami Dhamma, yang telah melampaui keragu-raguan, terbebas dari kebimbangan, mencapai keyakinan penuh, tidak bergantung pada orang lain dalam ajaran Sang Guru, berkata kepada Bhagavā:
Then Kūṭadanta saw, attained, understood, and fathomed the Dhamma. He went beyond doubt, got rid of indecision, and became self-assured and independent of others regarding the Teacher’s instructions. He said to the Buddha,
Kemudian brahmana Kūṭadanta, setelah mengetahui penerimaan Bhagavā, bangkit dari tempat duduknya, memberi hormat kepada Bhagavā, berjalan mengelilingi Beliau dengan menghadapkan sisi kanannya, lalu pergi.
Then, knowing that the Buddha had consented, Kūṭadanta rose from his seat, bowed, and respectfully circled the Buddha, keeping him on his right, before leaving.
Dan ketika malam telah berlalu, brahmana Kūṭadanta menyiapkan makanan keras dan lunak yang lezat di tempat persembahan korban miliknya sendiri. Kemudian ia memberitahukan waktunya kepada Bhagavā, dengan berkata,
And when the night had passed Kūṭadanta had delicious fresh and cooked foods prepared in his own sacrificial enclosure. Then he had the Buddha informed of the time, saying,
Kemudian pada pagi hari, Bhagavā merapikan jubah-Nya, membawa mangkuk dan jubah, bersama dengan para bhikkhu Saṅgha, mendatangi tempat persembahan korban brahmana Kūṭadanta. Setelah tiba, Beliau duduk di tempat yang telah disediakan.
Then the Buddha robed up in the morning and, taking his bowl and robe, went to the sacrificial enclosure of Kūṭadanta together with the mendicant Saṅgha, where he sat down on the seat spread out.
Kemudian brahmana Kūṭadanta dengan tangannya sendiri melayani dan memuaskan Saṅgha para bhikkhu yang dipimpin oleh Buddha dengan makanan keras dan lunak yang lezat.
Then Kūṭadanta served and satisfied the mendicant Saṅgha headed by the Buddha with his own hands with delicious fresh and cooked foods.
Kemudian Sang Buddha mengajar, mendorong, membangkitkan semangat, dan menggembirakan Brahmana Kūṭadanta yang duduk di satu sisi itu dengan khotbah Dhamma, setelah itu Beliau bangkit dari tempat duduknya dan pergi.
Then the Buddha educated, encouraged, fired up, and inspired him with a Dhamma talk, after which he rose from his seat and left.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.