Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 5
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna pengorbanan dan persembahan. Mari kita simak bagaimana Buddha mengubah pemahaman seorang brahmana tentang ritual, dari yang berpusat pada kekerasan menjadi yang berpusat pada kedamaian dan pengembangan batin.
Brahmana Kūṭadanta, yang sedang bersiap melakukan pengorbanan besar, mendatangi Buddha untuk bertanya tentang cara melengkapi pengorbanan dengan tiga cara dan enam belas perlengkapan. Buddha menjawab dengan kisah Raja Mahāvijita, yang pengorbanannya dilakukan tanpa kekerasan dan dengan persetujuan rakyat, lalu secara bertahap mengarahkan Kūṭadanta pada pemahaman bahwa pengorbanan tertinggi adalah menjalankan kehidupan spiritual hingga mencapai pencerahan. Kūṭadanta akhirnya melepaskan hewan-hewan kurban, berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, serta mencapai tingkat pemasuk-arus.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
“Ko nu kho, bho gotama, hetu ko paccayo, yena taṁ niccadānaṁ anukulayaññaṁ imāya tividhāya yaññasampadāya soḷasaparikkhārāya appaṭṭhatarañca appasamārambhatarañca mahapphalatarañca mahānisaṁsatarañcā”ti?
“Apakah sebabnya, Bhante Gotama, apakah alasannya, sehingga pemberian rutin sebagai pengorbanan yang baik ini, dengan tiga cara dan enam belas perlengkapannya, memiliki lebih sedikit kewajiban dan lebih sedikit usaha, namun lebih besar buahnya dan lebih besar manfaatnya?”
“What is the cause, Worthy Gotama, what is the reason why those regular gifts as propitious sacrifice have fewer obligations and undertakings, yet are more fruitful and beneficial, compared with the sacrifice accomplished with three modes and sixteen accessories?”
Karena di sana terlihat pemukulan dan pencekikan, Brahmana, oleh karena itu para Arahat atau mereka yang telah mencapai jalan menuju Kearahatan tidak menghadiri pengorbanan semacam itu.
Karena di sana tidak terlihat pukulan-pukulan maupun cekikan-cekikan, brahmana. Oleh karena itu, para Arahant atau mereka yang telah memasuki jalan menuju Arahant menghadiri upacara pengorbanan semacam itu.
Because no beatings and throttlings are seen there.
Inilah sebabnya, brahmana, inilah alasannya mengapa pemberian rutin sebagai pengorbanan yang membawa keberuntungan itu lebih ringan kewajibannya dan lebih sedikit persiapannya, namun lebih besar buahnya dan lebih besar manfaatnya, dibandingkan dengan upacara pengorbanan yang dilengkapi dengan tiga cara dan enam belas perlengkapan itu.”
This is the cause, brahmin, this is the reason why those regular gifts as propitious sacrifice have fewer obligations and undertakings, yet are more fruitful and beneficial, compared with the sacrifice accomplished with three modes and sixteen accessories.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.