4.3. Catuparikkhāra
4.3. Empat Perlengkapan Lainnya
4.3. Four More Accessories
Kūṭadantasutta
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna pengorbanan dan persembahan. Mari kita simak bagaimana Buddha mengubah pemahaman seorang brahmana tentang ritual, dari yang berpusat pada kekerasan menjadi yang berpusat pada kedamaian dan pengembangan batin.
Brahmana Kūṭadanta, yang sedang bersiap melakukan pengorbanan besar, mendatangi Buddha untuk bertanya tentang cara melengkapi pengorbanan dengan tiga cara dan enam belas perlengkapan. Buddha menjawab dengan kisah Raja Mahāvijita, yang pengorbanannya dilakukan tanpa kekerasan dan dengan persetujuan rakyat, lalu secara bertahap mengarahkan Kūṭadanta pada pemahaman bahwa pengorbanan tertinggi adalah menjalankan kehidupan spiritual hingga mencapai pencerahan. Kūṭadanta akhirnya melepaskan hewan-hewan kurban, berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, serta mencapai tingkat pemasuk-arus.
4.3. Catuparikkhāra
4.3. Empat Perlengkapan Lainnya
4.3. Four More Accessories
Purohito brāhmaṇo catūhaṅgehi samannāgato,
Dan brahmana pendeta istana memiliki empat faktor.
And the brahmin high priest had four factors.
ubhato sujāto mātito ca pitito ca saṁsuddhagahaṇiko yāva sattamā pitāmahayugā akkhitto anupakkuṭṭho jātivādena;
Ia terlahir baik dari pihak ibu dan ayah, berasal dari keturunan yang bersih, dengan silsilah yang tak terbantahkan dan tak tercela hingga tujuh generasi kebapakan.
He was well born on both his mother’s and father’s side, stemming from a clean vessel, with irrefutable and impeccable genealogy back to the seventh paternal generation.
ajjhāyako mantadharo tiṇṇaṁ vedānaṁ pāragū sanighaṇḍukeṭubhānaṁ sākkharappabhedānaṁ itihāsapañcamānaṁ padako veyyākaraṇo lokāyatamahāpurisalakkhaṇesu anavayo;
Ia mahir membaca dan menghafal mantra, menguasai tiga Veda beserta kosakata dan tata cara ritualnya, fonologi dan klasifikasi katanya, serta kitab-kitab sejarah sebagai yang kelima. Ia mengetahui kata demi kata dan tata bahasanya. Ia sangat ahli dalam kosmologi dan tanda-tanda manusia agung.
He recited and remembered the hymns, and had mastered the three Vedas, together with their vocabularies and ritual performance, their phonology and word classification, and the testaments as fifth. He knew them word-by-word, and their grammar. He was well versed in cosmology and the marks of a great man.
sīlavā vuddhasīlī vuddhasīlena samannāgato;
Ia bermoral, matang dalam perilaku moral.
He was ethical, mature in ethical conduct.
paṇḍito viyatto medhāvī paṭhamo vā dutiyo vā sujaṁ paggaṇhantānaṁ.
Ia cerdas, cakap, dan bijaksana, menjadi yang pertama atau kedua dalam memegang sendok persembahan.
He was astute, competent, and intelligent, being the first or second to hold the sacrificial ladle.
Purohito brāhmaṇo imehi catūhaṅgehi samannāgato.
Brahmana pendeta istana memiliki empat faktor ini.
These are the four factors that the brahmin high priest possessed.
Iti imānipi cattāri aṅgāni tasseva yaññassa parikkhārā bhavanti.
Demikianlah empat faktor ini juga menjadi perlengkapan bagi upacara pengorbanan itu.
And so these four factors also became accessories to the sacrifice.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.