Seyyathāpi, mahārāja, majjhe siṅghāṭake pāsādo. Tattha cakkhumā puriso ṭhito passeyya manusse gehaṁ pavisantepi nikkhamantepi rathikāyapi vīthiṁ sañcarante majjhe siṅghāṭake nisinnepi. Tassa evamassa: ‘ete manussā gehaṁ pavisanti, ete nikkhamanti, ete rathikāya vīthiṁ sañcaranti, ete majjhe siṅghāṭake nisinnā’ti.
Misalnya, Baginda, seperti sebuah rumah panggung bertingkat di tengah persimpangan jalan. Di sana seorang yang bermata jernih berdiri dan dapat melihat orang-orang yang masuk dan keluar rumah, berjalan di sepanjang jalan raya dan lorong, serta duduk di tengah persimpangan. Ia akan berpikir: ‘Orang-orang ini masuk dan keluar rumah, berjalan di sepanjang jalan raya dan lorong, dan duduk di tengah persimpangan.’
Suppose there was a stilt longhouse at the central square. A person with clear eyes standing there might see humans entering and leaving a house, walking along the streets and paths, and sitting at the central square. They’d think: ‘These are people entering and leaving a house, walking along the streets and paths, and sitting at the central square.’



