‹
DN 2

Sāmaññaphalasutta

Samaññaphala Sutta

Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

DN 2
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 2

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini adalah salah satu diskursus terpanjang dan terpenting dalam Digha Nikaya. Bacalah dengan perlahan, bayangkan Anda sedang duduk di pendopo bersama raja yang gelisah, dan ikuti alur penjelasan Buddha yang disusun secara sistematis dan mendalam tentang apa arti sebenarnya dari kehidupan pertapaan yang membuahkan hasil.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Raja Ajātasattu dari Magadha, di malam purnama yang indah, merasa gelisah dan ingin mencari ketenangan batin. Ia bertanya kepada para menterinya tentang petapa atau brahmana yang layak dikunjungi. Setelah mendengar usulan tentang enam guru terkenal, ia akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Buddha atas saran Jīvaka. Di hadapan Buddha, ia menceritakan kekecewaannya atas jawaban para guru lain tentang 'buah kehidupan pertapaan yang terlihat langsung', lalu Buddha menjelaskan berbagai tingkatan buah tersebut, mulai dari kebebasan seorang budak hingga pencapaian pengetahuan tertinggi yang mengakhiri kekotoran batin.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
dn2:41.1

Taṁ dhammaṁ suṇāti gahapati vā gahapatiputto vā aññatarasmiṁ vā kule paccājāto.

Seorang perumah tangga mendengar ajaran itu, atau anak seorang perumah tangga, atau seseorang yang terlahir kembali dalam keluarga yang baik.

A householder hears that teaching, or a householder’s child, or someone reborn in a good family.

dn2:41.2

So taṁ dhammaṁ sutvā tathāgate saddhaṁ paṭilabhati.

Setelah mendengar ajaran itu, mereka memperoleh keyakinan pada Tathāgata.

They gain faith in the Realized One

dn2:41.3

So tena saddhāpaṭilābhena samannāgato iti paṭisañcikkhati:

Dengan memiliki keyakinan itu, mereka merenungkan:

and reflect:

dn2:41.4

‘sambādho gharāvāso rajopatho, abbhokāso pabbajjā.

‘Kehidupan berumah tangga itu sempit dan penuh debu, sedangkan kehidupan meninggalkan keduniawian itu lapang.

‘Life at home is cramped and dirty, life gone forth is wide open.

dn2:41.5

Nayidaṁ sukaraṁ agāraṁ ajjhāvasatā ekantaparipuṇṇaṁ ekantaparisuddhaṁ saṅkhalikhitaṁ brahmacariyaṁ carituṁ.

Tidaklah mudah bagi seseorang yang hidup berumah tangga untuk menjalani kehidupan spiritual yang sepenuhnya sempurna dan sepenuhnya murni, bagaikan kulit kerang yang dipoles.

It’s not easy for someone living at home to lead the spiritual life utterly full and pure, like a polished shell.

dn2:41.6

Yannūnāhaṁ kesamassuṁ ohāretvā kāsāyāni vatthāni acchādetvā agārasmā anagāriyaṁ pabbajeyyan’ti.

Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning, lalu meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah?’

Why don’t I shave off my hair and beard, dress in ocher robes, and go forth from the lay life to homelessness?’

dn2:41.7

So aparena samayena appaṁ vā bhogakkhandhaṁ pahāya mahantaṁ vā bhogakkhandhaṁ pahāya appaṁ vā ñātiparivaṭṭaṁ pahāya mahantaṁ vā ñātiparivaṭṭaṁ pahāya kesamassuṁ ohāretvā kāsāyāni vatthāni acchādetvā agārasmā anagāriyaṁ pabbajati.

Pada suatu saat kemudian, setelah meninggalkan harta kekayaan yang sedikit ataupun banyak, setelah meninggalkan kerabat yang sedikit ataupun banyak, ia mencukur rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning, lalu meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

After some time they give up a large or small fortune, and a large or small family circle. They shave off hair and beard, dress in ocher robes, and go forth from the lay life to homelessness.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.