dn2:91.0 4.3.3.5. Mengetahui Pikiran Makhluk Lain
dn2:91.1 Ketika pikirannya telah menjadi tenang dalam samādhi seperti ini—suci, jernih, tanpa cela, terbebas dari kekotoran, lentur, mudah diarahkan, mantap, dan tidak tergoyahkan—ia mengarahkan dan membentangkannya menuju pengetahuan tentang pikiran makhluk lain.
dn2:91.2 Ia memahami pikiran makhluk lain dan individu lain, setelah melingkupinya dengan pikirannya sendiri—
dn2:91.3 pikiran bernafsu, ia memahami sebagai ‘pikiran bernafsu’,
dn2:91.4 dan pikiran tanpa keserakahan, ia memahami sebagai ‘pikiran tanpa keserakahan’.
dn2:91.5 pikiran dengan kebencian, ia memahami sebagai ‘pikiran dengan kebencian’ …
dn2:91.6 Atau pikiran tanpa kebencian, ia memahami, ‘pikiran tanpa kebencian’.
dn2:91.7 Atau pikiran dengan delusi, ia memahami, ‘pikiran dengan delusi’.
dn2:91.8 Atau pikiran tanpa delusi, ia memahami, ‘pikiran tanpa delusi’.
dn2:91.9 Atau pikiran yang mengerut, ia memahami, ‘pikiran yang mengerut’.
dn2:91.10 Atau pikiran yang kacau, ia memahami, ‘pikiran yang kacau’.
dn2:91.11 Ia memahami pikiran yang luas sebagai ‘pikiran yang luas’,
dn2:91.12 Ia memahami pikiran yang tidak luas sebagai ‘pikiran yang tidak luas’,
dn2:91.13 Ia memahami pikiran yang tidak tertandingi sebagai ‘pikiran yang tidak tertandingi’,
dn2:91.14 Ia memahami pikiran yang tertandingi sebagai ‘pikiran yang tertandingi’,
dn2:91.15 Ia memahami pikiran yang terkonsentrasi sebagai ‘pikiran yang terkonsentrasi’,
dn2:91.16 Ia memahami pikiran yang tidak terkonsentrasi sebagai ‘pikiran yang tidak terkonsentrasi’,
dn2:91.17 pikiran yang terbebaskan sebagai ‘pikiran yang terbebaskan’,
dn2:91.18 dan pikiran yang tidak terbebaskan sebagai ‘pikiran yang tidak terbebaskan’.



