dn2:64.0.1 4.3.2. Samādhi
dn2:64.0.2 4.3.2.1. Pengendalian Indria
dn2:64.1 Dan bagaimanakah, Baginda, seorang bhikkhu menjaga pintu-pintu indria?
dn2:64.2 Di sini, Baginda, seorang bhikkhu setelah melihat bentuk dengan mata, tidak menangkap ciri-ciri (nimitta) dan tidak menangkap rincian-rincian (anubyañjana).
dn2:64.3 Jika indra mata tidak terkekang, maka keserakahan dan kesedihan, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil, akan melanda dirinya. Oleh karena itu, ia berlatih untuk mengekangnya, menjaga indra mata, dan mencapai kekangan atas indra mata.
dn2:64.4 Setelah mendengar suara dengan telinga …
dn2:64.5 Setelah mencium bau dengan hidung …
dn2:64.6 Setelah mengecap rasa dengan lidah …
dn2:64.7 Setelah merasakan sentuhan dengan tubuh …
dn2:64.8 Setelah mengetahui objek pikiran (dhamma) dengan pikiran, ia tidak menangkap ciri-ciri (nimitta) dan tidak menangkap rincian-rincian (anubyañjana).
dn2:64.9 Jika indra pikiran tidak terkekang, maka keserakahan dan kesedihan, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil, akan melanda dirinya. Oleh karena itu, ia berlatih untuk mengekangnya, menjaga indra pikiran, dan mencapai kekangan atas indra pikiran.
dn2:64.10 Dengan memiliki kekangan indra yang mulia ini, ia mengalami kebahagiaan yang tidak ternoda di dalam batinnya.
dn2:64.11 Demikianlah, Baginda, seorang bhikkhu menjaga pintu-pintu indranya.



