dn2:10.1 Kemudian Raja Ajātasattu dari Magadha, putra Videhi, menaikkan para wanita pada masing-masing dari lima ratus gajah betina itu, lalu ia sendiri menaiki gajah jantan tunggangannya. Dengan obor-obor yang dibawa, ia berangkat dari Rājagaha dengan segala kemegahan kerajaan menuju Hutan Mangga Jīvaka.
dn2:10.2 Namun ketika raja Magadha, Ajātasattu putra Videhi, mendekati hutan mangga itu, timbullah ketakutan, kegentaran, dan bulu romanya berdiri.
dn2:10.3 Kemudian Raja Ajātasattu dari Magadha, putra Videhi, yang ketakutan, cemas, dan merinding, berkata kepada Jīvaka Komārabhacca:
dn2:10.4 “Jīvaka yang baik, kuharap engkau tidak menipuku!
dn2:10.5 Kuharap engkau tidak mengkhianatiku, Jīvaka yang baik!
dn2:10.6 Kuharap engkau tidak menyerahkanku kepada musuh-musuhku!
dn2:10.7 Bagaimana mungkin dalam Saṅgha bhikkhu yang begitu besar, dengan seribu dua ratus lima puluh bhikkhu, tidak ada suara batuk, tidak ada suara berdeham, maupun suara kegaduhan?”
dn2:10.8 “Jangan takut, Raja Agung, jangan takut, Raja Agung.
dn2:10.9 Aku tidak menipumu, Yang Mulia;
dn2:10.10 tidak mengkhianatimu,
dn2:10.11 dan tidak menyerahkanmu kepada musuh-musuhmu.
dn2:10.12 Maju, Raja Agung, maju! Itulah pelita-pelita yang menyala di pendopo.”



