dn29:3.1 Atha kho āyasmā ca ānando cundo ca samaṇuddeso yena bhagavā tenupasaṅkamiṁsu; upasaṅkamitvā bhagavantaṁ abhivādetvā ekamantaṁ nisīdiṁsu. Ekamantaṁ nisinno kho āyasmā ānando bhagavantaṁ etadavoca:
Khotbah yang Mengagumkan
Sutta ini diawali dengan kisah perpecahan sebuah komunitas agama lain, yang menjadi titik tolak bagi Buddha untuk berbicara tentang bagaimana menjaga keutuhan dan kemurnian sebuah ajaran. Mari kita simak bagaimana Beliau merespons peristiwa tersebut dengan ajaran yang mendalam namun praktis.
Setelah kematian Nigaṇṭha Nāṭaputta, para pengikutnya terpecah dan saling bertikai. Cunda dan Ānanda melaporkan hal ini kepada Buddha, yang kemudian menjelaskan perbedaan antara ajaran yang tidak baik dan ajaran yang baik, serta bagaimana sebuah kehidupan suci dapat menjadi lengkap dan bertahan lama. Buddha menekankan pentingnya membacakan ajaran secara bersama-sama tanpa perselisihan, dan menguraikan berbagai pandangan spekulatif tentang masa lalu dan masa depan yang tidak perlu dijawab, serta ajaran-ajaran inti yang telah dinyatakan-Nya.
dn29:3.1 Atha kho āyasmā ca ānando cundo ca samaṇuddeso yena bhagavā tenupasaṅkamiṁsu; upasaṅkamitvā bhagavantaṁ abhivādetvā ekamantaṁ nisīdiṁsu. Ekamantaṁ nisinno kho āyasmā ānando bhagavantaṁ etadavoca:
dn29:3.2 “ayaṁ, bhante, cundo samaṇuddeso evamāha, ‘nigaṇṭho, bhante, nāṭaputto pāvāyaṁ adhunākālaṅkato,
dn29:3.3 tassa kālaṅkiriyāya bhinnā nigaṇṭhā …pe… bhinnathūpe appaṭisaraṇe’”ti.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.