dn29:11.1 Etehi cepi, cunda, aṅgehi samannāgataṁ brahmacariyaṁ hoti, satthā ca hoti thero rattaññū cirapabbajito addhagato vayoanuppatto, no ca khvassa therā bhikkhū sāvakā honti viyattā vinītā visāradā pattayogakkhemā.
Khotbah yang Mengagumkan
Sutta ini diawali dengan kisah perpecahan sebuah komunitas agama lain, yang menjadi titik tolak bagi Buddha untuk berbicara tentang bagaimana menjaga keutuhan dan kemurnian sebuah ajaran. Mari kita simak bagaimana Beliau merespons peristiwa tersebut dengan ajaran yang mendalam namun praktis.
Setelah kematian Nigaṇṭha Nāṭaputta, para pengikutnya terpecah dan saling bertikai. Cunda dan Ānanda melaporkan hal ini kepada Buddha, yang kemudian menjelaskan perbedaan antara ajaran yang tidak baik dan ajaran yang baik, serta bagaimana sebuah kehidupan suci dapat menjadi lengkap dan bertahan lama. Buddha menekankan pentingnya membacakan ajaran secara bersama-sama tanpa perselisihan, dan menguraikan berbagai pandangan spekulatif tentang masa lalu dan masa depan yang tidak perlu dijawab, serta ajaran-ajaran inti yang telah dinyatakan-Nya.
dn29:11.1 Etehi cepi, cunda, aṅgehi samannāgataṁ brahmacariyaṁ hoti, satthā ca hoti thero rattaññū cirapabbajito addhagato vayoanuppatto, no ca khvassa therā bhikkhū sāvakā honti viyattā vinītā visāradā pattayogakkhemā.
dn29:11.2 Alaṁ samakkhātuṁ saddhammassa, alaṁ uppannaṁ parappavādaṁ sahadhammehi suniggahitaṁ niggahetvā sappāṭihāriyaṁ dhammaṁ desetuṁ.
dn29:11.3 Evaṁ taṁ brahmacariyaṁ aparipūraṁ hoti tenaṅgena.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.