Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 29
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini diawali dengan kisah perpecahan sebuah komunitas agama lain, yang menjadi titik tolak bagi Buddha untuk berbicara tentang bagaimana menjaga keutuhan dan kemurnian sebuah ajaran. Mari kita simak bagaimana Beliau merespons peristiwa tersebut dengan ajaran yang mendalam namun praktis.
Setelah kematian Nigaṇṭha Nāṭaputta, para pengikutnya terpecah dan saling bertikai. Cunda dan Ānanda melaporkan hal ini kepada Buddha, yang kemudian menjelaskan perbedaan antara ajaran yang tidak baik dan ajaran yang baik, serta bagaimana sebuah kehidupan suci dapat menjadi lengkap dan bertahan lama. Buddha menekankan pentingnya membacakan ajaran secara bersama-sama tanpa perselisihan, dan menguraikan berbagai pandangan spekulatif tentang masa lalu dan masa depan yang tidak perlu dijawab, serta ajaran-ajaran inti yang telah dinyatakan-Nya.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
Dan apa pun, Cunda, di dunia ini—dengan para dewanya, Māra, dan Brahmā, di antara generasi ini dengan para petapa dan brahmana, para dewa dan manusia—yang terlihat, terdengar, terasa, tersadari, tercapai, dicari, dan direnungkan oleh pikiran, semuanya telah dipahami sepenuhnya oleh Tathāgata.
In this world—with its gods, Māras, and divinities, this population with its ascetics and brahmins, its gods and humans—whatever is seen, heard, thought, known, attained, sought, and explored by the mind, all that has been understood by the Realized One.
Para Cunda, sejak malam ketika Tathāgata mencapai penerangan sempurna yang tiada bandingnya, hingga malam ketika ia mencapai parinibbāna dalam unsur nibbāna tanpa sisa, segala yang ia ucapkan, katakan, dan ajarkan, semuanya demikian adanya, tidak berbeda.
From the night when the Realized One awakens to the supreme perfect awakening until the night he becomes fully extinguished—in the element of extinguishment with no residue—everything he speaks, says, and expresses is real, not otherwise.
Di dunia ini, Cunda, dengan para dewanya, Māra, dan Brahmā, di tengah generasi ini yang terdiri dari para petapa dan brahmana, para dewa dan manusia, Tathāgata adalah penakluk yang tak tertaklukkan, yang melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, yang menguasai segalanya. Oleh karena itu ia disebut ‘Tathāgata’.
In this world—with its gods, Māras, and divinities, this population with its ascetics and brahmins, gods and humans—the Realized One is the vanquisher, the unvanquished, the universal seer, the wielder of power.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.