Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 29
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini diawali dengan kisah perpecahan sebuah komunitas agama lain, yang menjadi titik tolak bagi Buddha untuk berbicara tentang bagaimana menjaga keutuhan dan kemurnian sebuah ajaran. Mari kita simak bagaimana Beliau merespons peristiwa tersebut dengan ajaran yang mendalam namun praktis.
Setelah kematian Nigaṇṭha Nāṭaputta, para pengikutnya terpecah dan saling bertikai. Cunda dan Ānanda melaporkan hal ini kepada Buddha, yang kemudian menjelaskan perbedaan antara ajaran yang tidak baik dan ajaran yang baik, serta bagaimana sebuah kehidupan suci dapat menjadi lengkap dan bertahan lama. Buddha menekankan pentingnya membacakan ajaran secara bersama-sama tanpa perselisihan, dan menguraikan berbagai pandangan spekulatif tentang masa lalu dan masa depan yang tidak perlu dijawab, serta ajaran-ajaran inti yang telah dinyatakan-Nya.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
Kemudian, setelah menetap selama musim hujan di Pāvā, bhikkhu muda Cunda mendatangi Sāma-gāma, menemui Yang Mulia Ānanda. Setelah menghormat, ia duduk di satu sisi. Sambil duduk di satu sisi, bhikkhu muda Cunda berkata kepada Yang Mulia Ānanda:
And then, after completing the rainy season residence near Pāvā, the novice Cunda went to see Venerable Ānanda at Sāma village. He bowed, sat down to one side, and told him what had happened.
Setelah kematiannya, para Nigaṇṭha terpecah menjadi dua kubu yang saling bertikai … [seperti sebelumnya] … dengan panji-panji yang patah dan tanpa perlindungan.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.