dn29:1.1 Demikianlah yang kudengar:
dn29:1.2 Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di negeri para Sakya, di sebuah rumah panggung di dalam hutan mangga milik para Sakya yang bernama Vedhaññā.
dn29:1.3 Pada saat itu, Nigaṇṭha Nāṭaputta baru saja meninggal dunia di Pāvā.
dn29:1.4 Dengan wafatnya, para petapa Jaina terpecah menjadi dua kubu, saling bertengkar, berbantah, dan berselisih, senantiasa saling melukai dengan kata-kata tajam:
dn29:1.5 "Engkau tidak memahami Dhamma dan Vinaya ini; aku yang memahaminya. Apa yang engkau pahami tentang Dhamma dan Vinaya ini? Engkau berlatih keliru, aku berlatih benar. Ucapanku selaras, ucapammu tidak. Yang seharusnya dikatakan lebih dulu, engkau katakan kemudian; yang seharusnya dikatakan kemudian, engkau katakan lebih dulu. Apa yang telah engkau renungkan lama telah terbantahkan. Doktrinmu telah dipatahkan. Cobalah selamatkan doktrinmu! Engkau terjebak; bebaskan dirimu—jika engkau mampu!"
dn29:1.6 Seolah-olah hanya pembantaian yang terjadi di antara para petapa Jaina.
dn29:1.7 Bahkan para pengikut awam Nigaṇṭha Nāṭaputta yang mengenakan jubah putih pun merasa jijik, kecewa, dan muak terhadap para petapa Jaina itu—demikianlah akibat dari Dhamma dan Vinaya yang buruk diajarkan, buruk dibabarkan, tidak menuntun pada kebebasan, tidak menuntun pada kedamaian, dibabarkan oleh seorang yang bukan Buddha yang tercerahkan sempurna, dengan tiang suci yang runtuh dan tanpa perlindungan.


