Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 27
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini mengajak kita merenungkan asal-usul tatanan sosial dan ukuran sejati kemuliaan manusia. Mari kita simak bagaimana Buddha menjawab hinaan para brahmana dengan sebuah narasi kosmologis yang mendalam dan mencerahkan.
Dua pemuda brahmana, Vāseṭṭha dan Bhāradvāja, yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjadi bhikkhu, menceritakan kepada Buddha bagaimana mereka dicaci oleh para brahmana karena dianggap meninggalkan kasta terbaik. Buddha menjawab dengan menunjukkan bahwa klaim superioritas berdasarkan kelahiran tidak berdasar, karena kebaikan dan keburukan dapat ditemukan di semua kasta. Beliau kemudian menuturkan kisah asal-usul dunia dan masyarakat manusia, yang dikenal sebagai Aggañña, untuk menunjukkan bahwa sistem kasta bukanlah tatanan abadi, melainkan berkembang dari kondisi sosial, dan yang terbaik di antara manusia adalah mereka yang sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, bukan mereka yang lahir di kasta tertentu.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
Adapun kalian, Vāseṭṭha, berasal dari kelahiran, nama, marga, dan keluarga yang berbeda-beda, namun telah meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.
Vāseṭṭha, you have different births, names, clans, and families, yet have gone forth from the lay life to homelessness.
Tetapi, Vāseṭṭha, hanya bagi seseorang yang keyakinannya kepada Tathāgata telah tertanam, berakar, kokoh berdiri, kuat, dan tidak dapat digoyahkan oleh petapa mana pun, brahmana mana pun, dewa, Māra, Brahmā, atau siapa pun di dunia ini, maka pantas baginya untuk berkata:
But only when someone has faith in the Realized One—settled, rooted, and planted deep, strong, not to be shifted by any ascetic or brahmin or god or Māra or divinity or by anyone in the world—is it appropriate for them to say:
Sebab, Vāseṭṭha, itulah sebutan bagi Tathāgata: ‘berbadankan Dhamma’, ‘berbadankan Brahmā’, ‘menjadi Dhamma’, dan ‘menjadi Brahmā’.
For these are terms for the Realized One: ‘the embodiment of principle’, and ‘the embodiment of divinity’, and ‘the manifestation of principle’, and ‘the manifestation of divinity’.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.