Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah yang kudengar:
So I have heard.
Aggaññasutta
Sutta ini mengajak kita merenungkan asal-usul tatanan sosial dan ukuran sejati kemuliaan manusia. Mari kita simak bagaimana Buddha menjawab hinaan para brahmana dengan sebuah narasi kosmologis yang mendalam dan mencerahkan.
Dua pemuda brahmana, Vāseṭṭha dan Bhāradvāja, yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjadi bhikkhu, menceritakan kepada Buddha bagaimana mereka dicaci oleh para brahmana karena dianggap meninggalkan kasta terbaik. Buddha menjawab dengan menunjukkan bahwa klaim superioritas berdasarkan kelahiran tidak berdasar, karena kebaikan dan keburukan dapat ditemukan di semua kasta. Beliau kemudian menuturkan kisah asal-usul dunia dan masyarakat manusia, yang dikenal sebagai Aggañña, untuk menunjukkan bahwa sistem kasta bukanlah tatanan abadi, melainkan berkembang dari kondisi sosial, dan yang terbaik di antara manusia adalah mereka yang sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, bukan mereka yang lahir di kasta tertentu.
Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah yang kudengar:
So I have heard.
ekaṁ samayaṁ bhagavā sāvatthiyaṁ viharati pubbārāme migāramātupāsāde.
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī, di Pubbārāma, di istana beratap tinggi milik ibu Migāra.
At one time the Buddha was staying near Sāvatthī in the stilt longhouse of Migāra’s mother in the Eastern Monastery.
Tena kho pana samayena vāseṭṭhabhāradvājā bhikkhūsu parivasanti bhikkhubhāvaṁ ākaṅkhamānā.
Pada saat itu, Vāseṭṭha dan Bhāradvāja sedang berdiam di antara para bhikkhu, mengharapkan penahbisan sebagai bhikkhu.
Now at that time Vāseṭṭha and Bhāradvāja were living on probation among the mendicants in hopes of being ordained.
Atha kho bhagavā sāyanhasamayaṁ paṭisallānā vuṭṭhito pāsādā orohitvā pāsādapacchāyāyaṁ abbhokāse caṅkamati.
Kemudian pada sore hari, setelah keluar dari keterasingan, Sang Bhagavā turun dari rumah panjang dan berjalan mondar-mandir di udara terbuka, di bawah naungan rumah panjang itu.
Then in the late afternoon, the Buddha came downstairs from the longhouse and was walking mindfully in the open air, beneath the shade of the longhouse.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.