dn23:2.0 1. Kisah Pāyāsi, Kepala Suku
dn23:2.1 Pada saat itu, kepala suku Pāyāsi telah muncul dalam pikirannya pandangan salah yang merugikan sebagai berikut:
dn23:2.2 “Tidak ada alam setelah kematian, tidak ada makhluk yang terlahir secara spontan, tidak ada buah maupun akibat dari perbuatan baik dan buruk.”
dn23:2.3 Para brahmana dan perumah tangga di Setavyā mendengar,
dn23:2.4 “Sungguh, Bhante, Petapa Kumārakassapa, seorang siswa Petapa Gotama, sedang berkelana di negeri Kosala bersama dengan sekelompok besar bhikkhu, yaitu sekitar lima ratus bhikkhu, dan telah tiba di Setabyā. Ia berdiam di Setabyā, di hutan pohon siṁsapā di sebelah utara Setabyā.
dn23:2.5 Dan mengenai Yang Mulia Kumārakassapa itu, tersebarlah kabar baik yang demikian:
dn23:2.6 ‘Ia bijaksana, cakap, cerdas, terpelajar, pandai berbicara, memiliki daya penalaran yang baik, tua dan layak dihormati.’
dn23:2.7 Sungguh baik melihat para Arahanta yang demikian itu.”
dn23:2.8 Kemudian para brahmana dan perumah tangga dari Setavya itu keluar dari Setavya, berkelompok-kelompok dan berbondong-bondong, menghadap ke utara menuju hutan Simsapa.

