4.2. Dhammānupassanākhandhapabba
4.2. Perenungan Fenomena: Kelompok-Kelompok Unsur Kehidupan
4.2. The Aggregates
Mahāsatipaṭṭhānasutta
Sutta ini adalah salah satu khotbah terpenting tentang meditasi dalam tradisi Buddhis. Mari kita telusuri bersama bagaimana Sang Buddha menguraikan jalan perhatian ini secara bertahap, dari yang paling sederhana seperti mengamati napas, hingga pemahaman mendalam tentang kebenaran-kebenaran mulia.
Dalam Mahāsatipaṭṭhānasutta, Sang Buddha membabarkan empat penegakan perhatian (satipaṭṭhāna) sebagai jalan tunggal menuju pemurnian batin dan realisasi Nibbāna. Sutta ini menguraikan secara terperinci cara merenungkan tubuh, perasaan, pikiran, dan fenomena-fenomena (dhamma) dengan penuh kesadaran. Setiap bagian dijelaskan dengan contoh-contoh konkret, mulai dari pengamatan napas hingga perenungan empat kebenaran mulia. Di akhir sutta, Buddha menegaskan bahwa siapa pun yang mengembangkan praktik ini, bahkan hanya selama tujuh hari, dapat mencapai salah satu dari dua buah: pengetahuan langsung dalam kehidupan ini atau tingkat yang tidak kembali lagi.
4.2. Dhammānupassanākhandhapabba
4.2. Perenungan Fenomena: Kelompok-Kelompok Unsur Kehidupan
4.2. The Aggregates
Puna caparaṁ, bhikkhave, bhikkhu dhammesu dhammānupassī viharati pañcasu upādānakkhandhesu.
Selanjutnya, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan fenomena dalam fenomena pada kelima kelompok unsur kehidupan yang dilekati.
Furthermore, a mendicant meditates by observing an aspect of principles with respect to the five grasping aggregates.
Kathañca pana, bhikkhave, bhikkhu dhammesu dhammānupassī viharati pañcasu upādānakkhandhesu?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan fenomena dalam fenomena pada kelima kelompok unsur kehidupan yang dilekati?
And how does a mendicant meditate observing an aspect of principles with respect to the five grasping aggregates?
Idha, bhikkhave, bhikkhu:
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu merenungkan:
It’s when a mendicant contemplates:
‘iti rūpaṁ, iti rūpassa samudayo, iti rūpassa atthaṅgamo;
‘Demikianlah bentuk, demikianlah asal mula bentuk, demikianlah lenyapnya bentuk;
‘Such is form, such is the origin of form, such is the disappearance of form.
iti vedanā, iti vedanāya samudayo, iti vedanāya atthaṅgamo;
demikianlah perasaan, demikianlah asal mula perasaan, demikianlah lenyapnya perasaan;
Such is feeling, such is the origin of feeling, such is the disappearance of feeling.
iti saññā, iti saññāya samudayo, iti saññāya atthaṅgamo;
demikianlah persepsi, demikianlah asal mula persepsi, demikianlah lenyapnya persepsi;
Such is perception, such is the origin of perception, such is the disappearance of perception.
iti saṅkhārā, iti saṅkhārānaṁ samudayo, iti saṅkhārānaṁ atthaṅgamo,
demikianlah bentukan-bentukan pikiran, demikianlah asal mula bentukan-bentukan pikiran, demikianlah lenyapnya bentukan-bentukan pikiran.
Such are choices, such is the origin of choices, such is the disappearance of choices.
iti viññāṇaṁ, iti viññāṇassa samudayo, iti viññāṇassa atthaṅgamo’ti,
Demikianlah kesadaran, demikianlah asal mula kesadaran, demikianlah lenyapnya kesadaran.’
Such is consciousness, such is the origin of consciousness, such is the disappearance of consciousness.’
iti ajjhattaṁ vā dhammesu dhammānupassī viharati, bahiddhā vā dhammesu dhammānupassī viharati, ajjhattabahiddhā vā dhammesu dhammānupassī viharati.
Demikianlah ia berdiam dengan merenungkan prinsip-prinsip pada fenomena batin, atau merenungkan prinsip-prinsip pada fenomena lahir, atau merenungkan prinsip-prinsip pada fenomena batin dan lahir.
And so they meditate observing an aspect of principles internally …
Samudayadhammānupassī vā dhammesu viharati, vayadhammānupassī vā dhammesu viharati, samudayavayadhammānupassī vā dhammesu viharati.
Ia berdiam dengan merenungkan sifat timbulnya dalam fenomena-fenomena, atau berdiam dengan merenungkan sifat lenyapnya dalam fenomena-fenomena, atau berdiam dengan merenungkan sifat timbul dan lenyapnya dalam fenomena-fenomena.
‘Atthi dhammā’ti vā panassa sati paccupaṭṭhitā hoti yāvadeva ñāṇamattāya paṭissatimattāya, anissito ca viharati, na ca kiñci loke upādiyati.
Atau, kesadaran yang tegak padanya adalah, ‘Ada fenomena-fenomena,’ hanya sejauh untuk pengetahuan dan perhatian penuh. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apa pun di dunia.
Evampi kho, bhikkhave, bhikkhu dhammesu dhammānupassī viharati pañcasu upādānakkhandhesu.
Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan fenomena-fenomena dalam fenomena-fenomena, yaitu pada lima kelompok kehidupan yang menjadi objek kemelekatan.
That’s how a mendicant meditates by observing an aspect of principles with respect to the five grasping aggregates.
Khandhapabbaṁ niṭṭhitaṁ.
Selesai bagian tentang kelompok-kelompok (khanda).
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.