‹
DN 1

Brahmajālasutta

Brahmajālasutta

Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

Brahmajāla Sutta — DN 1
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 1

Kenali dunia dalam sutta ini

DN 1, Brahmajāla Sutta, membuka pembahasan dengan perjalanan Buddha dan para bhikkhu dari Rājagaha menuju Nāḷandā. Di tengah perjalanan, perdebatan tentang pujian dan celaan terhadap Buddha menjadi pintu masuk untuk menjelaskan bagaimana manusia membentuk pandangan tentang diri, dunia, dan kehidupan.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Buddha menjelaskan berbagai pandangan yang dapat muncul dari pengalaman dan ingatan tentang masa lalu maupun spekulasi tentang masa depan. Sutta ini kemudian menguraikan 62 jenis pandangan, sekaligus menunjukkan bahwa keterikatan pada pandangan tersebut masih berada dalam lingkaran pengalaman yang berkondisi dan belum membawa pada pembebasan.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
dn1:3.1.0

3.2.2. Asaññīvāda

3.2.2. Kehidupan Setelah Kematian Tanpa Persepsi

3.2.2. Non-Percipient Life After Death

dn1:3.1.1

Santi, bhikkhave, eke samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā asaññīvādā uddhamāghātanaṁ asaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi.

Ada, para bhikkhu, beberapa petapa dan brahmana yang menganut pandangan tentang kehidupan setelah kematian tanpa persepsi, yang menyatakan bahwa diri bertahan setelah kematian dalam bentuk tanpa persepsi berdasarkan delapan landasan.

There are some ascetics and brahmins who say there is life after death, and assert that the self lives on after death in a non-percipient form on eight grounds.

dn1:3.1.2

Te ca bhonto samaṇabrāhmaṇā kimāgamma kimārabbha uddhamāghātanikā asaññīvādā uddhamāghātanaṁ asaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi?

Berdasarkan apakah, dengan berpijak pada apakah, para petapa dan brahmana yang mulia itu menganut pandangan tentang kehidupan setelah kematian tanpa persepsi dan menyatakan bahwa diri bertahan setelah kematian dalam bentuk tanpa persepsi berdasarkan delapan landasan?

And what are the eight grounds on which they rely?

dn1:3.2.1

‘Rūpī attā hoti arogo paraṁ maraṇā asaññī’ti naṁ paññapenti.

Mereka menyatakan: ‘Diri yang sehat dan tanpa persepsi setelah kematian, dan ia berbentuk …

They assert: ‘The self is healthy and non-percipient after death, and it is formed …

dn1:3.2.2

‘Arūpī attā hoti arogo paraṁ maraṇā asaññī’ti naṁ paññapenti.

‘Diri yang tanpa bentuk …

formless …

dn1:3.2.3

‘Rūpī ca arūpī ca attā hoti …pe….

‘Diri yang berbentuk dan tanpa bentuk …

both formed and formless …

dn1:3.2.4

‘Nevarūpī nārūpī attā hoti ….

‘Diri yang bukan berbentuk maupun tanpa bentuk …

neither formed nor formless …

dn1:3.2.5

‘Antavā attā hoti ….

‘Diri yang terbatas …

finite …

dn1:3.2.6

‘Anantavā attā hoti ….

‘Diri yang tidak terbatas …

infinite …

dn1:3.2.7

‘Antavā ca anantavā ca attā hoti ….

‘Diri yang terbatas dan tidak terbatas …

both finite and infinite …

dn1:3.2.8

‘Nevantavā nānantavā attā hoti arogo paraṁ maraṇā asaññī’ti naṁ paññapenti.

‘Diri tidak terbatas maupun terbatas, sehat setelah kematian, dan tidak memiliki kesadaran’—demikianlah mereka menetapkannya.

neither finite nor infinite.’

dn1:3.3.1

Imehi kho te, bhikkhave, samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā asaññīvādā uddhamāghātanaṁ asaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi.

Para bhikkhu, inilah delapan landasan yang menjadi dasar para petapa dan brahmana yang menganut pandangan tentang diri yang tidak memiliki kesadaran setelah kematian, yang menetapkan diri yang tidak memiliki kesadaran setelah kematian.

These are the eight grounds on which those ascetics and brahmins assert that the self lives on after death in a non-percipient form.

dn1:3.3.2

Ye hi keci, bhikkhave, samaṇā vā brāhmaṇā vā uddhamāghātanikā asaññīvādā uddhamāghātanaṁ asaññiṁ attānaṁ paññapenti, sabbe te imeheva aṭṭhahi vatthūhi, etesaṁ vā aññatarena, natthi ito bahiddhā …

Para bhikkhu, petapa atau brahmana mana pun yang menganut pandangan tentang diri yang tidak memiliki kesadaran setelah kematian, yang menetapkan diri yang tidak memiliki kesadaran setelah kematian, semuanya melakukannya berdasarkan salah satu dari delapan landasan ini atau salah satu di antaranya; tidak ada di luar ini.

Any ascetics and brahmins who assert that the self lives on after death in a non-percipient form do so on one or other of these eight grounds. Outside of this there is none.

dn1:3.4.1

pe…

… Sang Tathāgata memahami hal ini …

The Realized One understands this …

dn1:3.4.2

yehi tathāgatassa yathābhuccaṁ vaṇṇaṁ sammā vadamānā vadeyyuṁ.

… dan mereka yang dengan benar memuji Sang Tathāgata akan mengucapkan hal-hal ini sebagaimana adanya.

And those who genuinely praise the Realized One would rightly speak of these things.

dn1:3.5.0

3.2.3. Nevasaññīnāsaññīvāda

3.2.3. Ajaran tentang Kehidupan Setelah Kematian dalam Keadaan Tanpa Persepsi dan Tanpa Tanpa Persepsi

3.2.3. Neither Percipient Nor Non-Percipient Life After Death

dn1:3.5.1

Santi, bhikkhave, eke samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā nevasaññīnāsaññīvādā, uddhamāghātanaṁ nevasaññīnāsaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi.

Para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang menganut pandangan tentang kehidupan setelah kematian dalam keadaan tanpa persepsi dan tanpa tanpa persepsi, yang menyatakan bahwa diri setelah kematian berada dalam keadaan tanpa persepsi dan tanpa tanpa persepsi berdasarkan delapan landasan.

There are some ascetics and brahmins who say there is life after death, and assert that the self lives on after death in a neither percipient nor non-percipient form on eight grounds.

dn1:3.5.2

Te ca bhonto samaṇabrāhmaṇā kimāgamma kimārabbha uddhamāghātanikā nevasaññīnāsaññīvādā uddhamāghātanaṁ nevasaññīnāsaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi?

Dan atas dasar apakah, dengan berpijak pada apakah, para petapa dan brahmana yang mulia itu menganut pandangan tentang kehidupan setelah kematian dalam keadaan tanpa persepsi dan tanpa tanpa persepsi, yang menyatakan bahwa diri setelah kematian berada dalam keadaan tanpa persepsi dan tanpa tanpa persepsi berdasarkan delapan landasan?

And what are the eight grounds on which they rely?

dn1:3.6.1

‘Rūpī attā hoti arogo paraṁ maraṇā nevasaññīnāsaññī’ti naṁ paññapenti.

Mereka menyatakan: ‘Diri itu sehat dan tidak lagi memiliki persepsi maupun tanpa persepsi setelah kematian, dan ia berbentuk …

They assert: ‘The self is healthy and neither percipient nor non-percipient after death, and it is formed …

dn1:3.6.2

‘Arūpī attā hoti …pe….

tanpa bentuk …

formless …

dn1:3.6.3

‘Rūpī ca arūpī ca attā hoti ….

‘Diri yang berbentuk dan tidak berbentuk …

both formed and formless …

dn1:3.6.4

‘Nevarūpī nārūpī attā hoti ….

‘Diri yang bukan berbentuk maupun tidak berbentuk …

neither formed nor formless …

dn1:3.6.5

‘Antavā attā hoti ….

‘Diri yang terbatas …

finite …

dn1:3.6.6

‘Anantavā attā hoti ….

‘Diri yang tidak terbatas …

infinite …

dn1:3.6.7

‘Antavā ca anantavā ca attā hoti ….

‘Diri yang terbatas dan tidak terbatas …

both finite and infinite …

dn1:3.6.8

‘Nevantavā nānantavā attā hoti arogo paraṁ maraṇā nevasaññīnāsaññī’ti naṁ paññapenti.

‘Diri yang bukan terbatas maupun tidak terbatas, sehat setelah kematian, mereka tetapkan sebagai yang bukan berpikir maupun tidak berpikir.’

neither finite nor infinite.’

dn1:3.7.1

Imehi kho te, bhikkhave, samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā nevasaññīnāsaññīvādā uddhamāghātanaṁ nevasaññīnāsaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut pandangan tentang bukan berpikir maupun tidak berpikir setelah kematian, menetapkan diri sebagai yang bukan berpikir maupun tidak berpikir setelah kematian berdasarkan delapan landasan ini.

These are the eight grounds on which those ascetics and brahmins assert that the self lives on after death in a neither percipient nor non-percipient form.

dn1:3.7.2

Ye hi keci, bhikkhave, samaṇā vā brāhmaṇā vā uddhamāghātanikā nevasaññīnāsaññīvādā uddhamāghātanaṁ nevasaññīnāsaññiṁ attānaṁ paññapenti, sabbe te imeheva aṭṭhahi vatthūhi …

Para bhikkhu, petapa atau brahmana mana pun yang menganut pandangan tentang bukan berpikir maupun tidak berpikir setelah kematian, menetapkan diri sebagai yang bukan berpikir maupun tidak berpikir setelah kematian, semuanya melakukannya berdasarkan delapan landasan ini …

Any ascetics and brahmins who assert that the self lives on after death in a neither percipient nor non-percipient form do so on one or other of these eight grounds. Outside of this there is none.

dn1:3.8.1

pe…

…

The Realized One understands this …

dn1:3.8.2

yehi tathāgatassa yathābhuccaṁ vaṇṇaṁ sammā vadamānā vadeyyuṁ.

yang dengannya mereka yang benar-benar memuji Yang Tathāgata akan berkata dengan benar.

And those who genuinely praise the Realized One would rightly speak of these things.

dn1:3.9.0

3.2.4. Ucchedavāda

3.2.4. Ajaran Pemusnahan

3.2.4. Annihilationism

dn1:3.9.1

Santi, bhikkhave, eke samaṇabrāhmaṇā ucchedavādā sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti sattahi vatthūhi.

Para bhikkhu, ada sebagian petapa dan brahmana yang menganut ajaran pemusnahan. Mereka mengajarkan pemusnahan, kehancuran, dan ketiadaan makhluk yang telah ada berdasarkan tujuh landasan.

There are some ascetics and brahmins who are annihilationists. They assert the annihilation, eradication, and nonexistence of an existing being on seven grounds.

dn1:3.9.2

Te ca bhonto samaṇabrāhmaṇā kimāgamma kimārabbha ucchedavādā sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti sattahi vatthūhi?

Dan atas dasar apakah, dengan berpijak pada apakah, para petapa dan brahmana yang mulia itu menganut ajaran pemusnahan, mengajarkan pemusnahan, kehancuran, dan ketiadaan makhluk yang telah ada berdasarkan tujuh landasan?

And what are the seven grounds on which they rely?

dn1:3.10.1

Idha, bhikkhave, ekacco samaṇo vā brāhmaṇo vā evaṁvādī hoti evaṁdiṭṭhi:

Di sini, para bhikkhu, terdapat sebagian petapa atau brahmana yang berpandangan dan berkeyakinan demikian:

There are some ascetics and brahmins who have this doctrine and view:

dn1:3.10.2

‘yato kho, bho, ayaṁ attā rūpī cātumahābhūtiko mātāpettikasambhavo kāyassa bhedā ucchijjati vinassati, na hoti paraṁ maraṇā, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā sammā samucchinno hotī’ti.

‘Sungguh, tuan, sejak diri ini berbentuk, terdiri dari empat unsur utama, lahir dari ayah dan ibu, maka ketika tubuh hancur, ia lenyap dan musnah, tidak ada lagi setelah kematian; sejauh itulah, tuan, diri ini sepenuhnya terputus dengan benar.’

‘This self is formed, made up of the four principal states, and produced by mother and father. Since it’s annihilated and destroyed when the body breaks up, and doesn’t exist after death, that’s how this self becomes rightly annihilated.’

dn1:3.10.3

Ittheke sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang menetapkan pemusnahan, kebinasaan, dan ketiadaan makhluk yang ada.

That is how some assert the annihilation of an existing being.

dn1:3.11.1

Tamañño evamāha:

Tetapi orang lain berkata kepada mereka:

But someone else says to them:

dn1:3.11.2

‘atthi kho, bho, eso attā, yaṁ tvaṁ vadesi, neso natthīti vadāmi;

‘Tuan, diri yang Tuan maksudkan itu sungguh ada; aku tidak mengatakan bahwa ia tidak ada.

‘<em>That</em> self of which you speak does exist, I don’t deny it.

dn1:3.11.3

no ca kho, bho, ayaṁ attā ettāvatā sammā samucchinno hoti.

Akan tetapi, Tuan, bukan dengan cara demikian diri ini menjadi sepenuhnya terputus dengan benar.

But that’s not how <em>this</em> self becomes rightly annihilated.

dn1:3.11.4

Atthi kho, bho, añño attā dibbo rūpī kāmāvacaro kabaḷīkārāhārabhakkho.

Ada, Tuan, diri lain yang bersifat surgawi, berbentuk, menikmati kenikmatan indrawi, dan memakan makanan yang dilumatkan.

There is another self that is heavenly, formed, sensual, consuming edible food.

dn1:3.11.5

Taṁ tvaṁ na jānāsi na passasi.

Engkau tidak mengetahui dan tidak melihat hal itu.

You don’t know or see that.

dn1:3.11.6

Tamahaṁ jānāmi passāmi.

Tetapi aku mengetahui dan melihatnya.

But I know it and see it.

dn1:3.11.7

So kho, bho, attā yato kāyassa bhedā ucchijjati vinassati, na hoti paraṁ maraṇā, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā sammā samucchinno hotī’ti.

Karena diri ini, ketika tubuh hancur, terputus dan musnah, tidak ada lagi setelah kematian—sejauh itulah, Tuan, diri ini menjadi benar-benar terputus.’

Since this self is annihilated and destroyed when the body breaks up, and doesn’t exist after death, that’s how this self becomes rightly annihilated.’

dn1:3.11.8

Ittheke sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang mengajarkan pemutusan, kemusnahan, dan ketiadaan bagi makhluk yang ada.

That is how some assert the annihilation of an existing being.

dn1:3.12.1

Tamañño evamāha:

Tetapi orang lain berkata kepada mereka:

But someone else says to them:

dn1:3.12.2

‘atthi kho, bho, eso attā, yaṁ tvaṁ vadesi, neso natthīti vadāmi;

‘Tuan, diri yang engkau maksud itu sungguh ada; aku tidak mengatakan ia tidak ada.

‘<em>That</em> self of which you speak does exist, I don’t deny it.

dn1:3.12.3

no ca kho, bho, ayaṁ attā ettāvatā sammā samucchinno hoti.

Akan tetapi, Tuan, bukanlah sejauh itu diri ini menjadi benar-benar terputus.

But that’s not how <em>this</em> self becomes rightly annihilated.

dn1:3.12.4

Atthi kho, bho, añño attā dibbo rūpī manomayo sabbaṅgapaccaṅgī ahīnindriyo.

Ada diri lain yang bersifat surgawi, berbentuk, tercipta dari pikiran, lengkap dengan seluruh anggota tubuhnya, tidak kurang satu indria pun.

There is another self that is heavenly, formed, mind-made, whole in its major and minor limbs, not deficient in any faculty.

dn1:3.12.5

Taṁ tvaṁ na jānāsi na passasi.

Engkau tidak mengetahui dan tidak melihat hal itu.

You don’t know or see that.

dn1:3.12.6

Tamahaṁ jānāmi passāmi.

Tetapi aku mengetahui dan melihatnya.

But I know it and see it.

dn1:3.12.7

So kho, bho, attā yato kāyassa bhedā ucchijjati vinassati, na hoti paraṁ maraṇā, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā sammā samucchinno hotī’ti.

Karena diri ini, Tuan, hancur dan musnah ketika tubuh hancur, dan tidak ada setelah kematian, maka demikianlah diri ini menjadi sepenuhnya musnah dengan benar.’

Since this self is annihilated and destroyed when the body breaks up, and doesn’t exist after death, that’s how this self becomes rightly annihilated.’

dn1:3.12.8

Ittheke sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang menyatakan pemusnahan, kehancuran, dan ketiadaan makhluk yang ada.

That is how some assert the annihilation of an existing being.

dn1:3.13.1

Tamañño evamāha:

Tetapi orang lain berkata kepada mereka:

But someone else says to them:

dn1:3.13.2

‘atthi kho, bho, eso attā, yaṁ tvaṁ vadesi, neso natthīti vadāmi;

‘Tuan, diri yang engkau maksud itu memang ada, aku tidak mengatakan ia tidak ada;

‘<em>That</em> self of which you speak does exist, I don’t deny it.

dn1:3.13.3

no ca kho, bho, ayaṁ attā ettāvatā sammā samucchinno hoti.

tetapi, Tuan, bukan dengan cara demikian diri ini menjadi sepenuhnya musnah dengan benar.

But that’s not how <em>this</em> self becomes rightly annihilated.

dn1:3.13.4

Atthi kho, bho, añño attā sabbaso rūpasaññānaṁ samatikkamā paṭighasaññānaṁ atthaṅgamā nānattasaññānaṁ amanasikārā “ananto ākāso”ti ākāsānañcāyatanūpago.

Ada, Tuan, diri lain yang sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi sentuhan, tanpa memperhatikan persepsi keberagaman, menyadari “ruang adalah tak terbatas”, terlahir kembali di alam landasan ruang tak terbatas.

There is another self which has gone totally beyond perceptions of form. With the disappearance of perceptions of impingement, not focusing on perceptions of diversity, aware that “space is infinite”, it’s reborn in the dimension of infinite space.

dn1:3.13.5

Taṁ tvaṁ na jānāsi na passasi.

Itu tidak engkau ketahui dan tidak engkau lihat.

You don’t know or see that.

dn1:3.13.6

Tamahaṁ jānāmi passāmi.

Tetapi aku mengetahui dan melihatnya.

But I know it and see it.

dn1:3.13.7

So kho, bho, attā yato kāyassa bhedā ucchijjati vinassati, na hoti paraṁ maraṇā, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā sammā samucchinno hotī’ti.

Karena diri ini, Tuan, hancur dan musnah ketika tubuh hancur, dan tidak ada setelah kematian, maka demikianlah diri ini menjadi sepenuhnya musnah dengan benar.’

Since this self is annihilated and destroyed when the body breaks up, and doesn’t exist after death, that’s how this self becomes rightly annihilated.’

dn1:3.13.8

Ittheke sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang menyatakan pemusnahan, kehancuran, dan ketiadaan makhluk yang ada.

That is how some assert the annihilation of an existing being.

dn1:3.14.1

Tamañño evamāha:

Tetapi orang lain berkata kepada mereka:

But someone else says to them:

dn1:3.14.2

‘atthi kho, bho, eso attā yaṁ tvaṁ vadesi, neso natthīti vadāmi;

‘Saudara, diri yang engkau maksud itu sungguh ada, aku tidak mengatakan ia tidak ada;

‘<em>That</em> self of which you speak does exist, I don’t deny it.

dn1:3.14.3

no ca kho, bho, ayaṁ attā ettāvatā sammā samucchinno hoti.

Akan tetapi, Tuan, dengan demikian belum sepenuhnya diri ini dimusnahkan dengan benar.

But that’s not how <em>this</em> self becomes rightly annihilated.

dn1:3.14.4

Atthi kho, bho, añño attā sabbaso ākāsānañcāyatanaṁ samatikkamma “anantaṁ viññāṇan”ti viññāṇañcāyatanūpago.

Ada, Tuan, diri lain yang sepenuhnya melampaui alam ruang tanpa batas, dengan menyadari 'kesadaran adalah tanpa batas', ia terlahir kembali di alam kesadaran tanpa batas.

There is another self which has gone totally beyond the dimension of infinite space. Aware that “consciousness is infinite”, it’s reborn in the dimension of infinite consciousness.

dn1:3.14.5

Taṁ tvaṁ na jānāsi na passasi.

Itu tidak engkau ketahui dan tidak engkau lihat.

You don’t know or see that.

dn1:3.14.6

Tamahaṁ jānāmi passāmi.

Tetapi aku mengetahui dan melihatnya.

But I know it and see it.

dn1:3.14.7

So kho, bho, attā yato kāyassa bhedā ucchijjati vinassati, na hoti paraṁ maraṇā, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā sammā samucchinno hotī’ti.

Karena diri ini, ketika tubuh hancur, terputus dan musnah, tidak ada lagi setelah kematian—demikianlah, Tuan, diri ini sepenuhnya terputus dengan benar.’

Since this self is annihilated and destroyed when the body breaks up, and doesn’t exist after death, that’s how this self becomes rightly annihilated.’

dn1:3.14.8

Ittheke sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang menegaskan pemutusan, kemusnahan, dan ketiadaan dari makhluk yang ada.

That is how some assert the annihilation of an existing being.

dn1:3.15.1

Tamañño evamāha:

Tetapi orang lain berkata kepada mereka:

But someone else says to them:

dn1:3.15.2

‘atthi kho, bho, so attā, yaṁ tvaṁ vadesi, neso natthīti vadāmi;

‘Saudara, diri yang engkau maksud itu sungguh ada, aku tidak mengatakan ia tidak ada;

‘<em>That</em> self of which you speak does exist, I don’t deny it.

dn1:3.15.3

no ca kho, bho, ayaṁ attā ettāvatā sammā samucchinno hoti.

Akan tetapi, para brahmana, bukanlah demikian cara diri ini dimusnahkan sepenuhnya dengan benar.

But that’s not how <em>this</em> self becomes rightly annihilated.

dn1:3.15.4

Atthi kho, bho, añño attā sabbaso viññāṇañcāyatanaṁ samatikkamma “natthi kiñcī”ti ākiñcaññāyatanūpago.

Ada, para brahmana, diri lain yang sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, dengan menyadari “tidak ada apa pun”, ia masuk ke landasan kekosongan.

There is another self that has gone totally beyond the dimension of infinite consciousness. Aware that “there is nothing at all”, it’s been reborn in the dimension of nothingness.

dn1:3.15.5

Taṁ tvaṁ na jānāsi na passasi.

Itu tidak engkau ketahui dan tidak engkau lihat.

You don’t know or see that.

dn1:3.15.6

Tamahaṁ jānāmi passāmi.

Tetapi aku mengetahui dan melihatnya.

But I know it and see it.

dn1:3.15.7

So kho, bho, attā yato kāyassa bhedā ucchijjati vinassati, na hoti paraṁ maraṇā, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā sammā samucchinno hotī’ti.

Karena diri ini lenyap dan musnah ketika tubuh hancur, dan tidak ada setelah kematian, maka demikianlah, Tuan, diri ini menjadi benar-benar terputus.’

Since this self is annihilated and destroyed when the body breaks up, and doesn’t exist after death, that’s how this self becomes rightly annihilated.’

dn1:3.15.8

Ittheke sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang menetapkan pemusnahan, kebinasaan, dan ketiadaan makhluk yang ada.

That is how some assert the annihilation of an existing being.

dn1:3.16.1

Tamañño evamāha:

Tetapi orang lain berkata kepada mereka:

But someone else says to them:

dn1:3.16.2

‘atthi kho, bho, eso attā, yaṁ tvaṁ vadesi, neso natthīti vadāmi;

‘Tuan, diri yang tuan maksudkan itu sungguh ada; aku tidak mengatakan ia tidak ada.

‘<em>That</em> self of which you speak does exist, I don’t deny it.

dn1:3.16.3

no ca kho, bho, ayaṁ attā ettāvatā sammā samucchinno hoti.

Akan tetapi, Tuan, diri itu belum sepenuhnya terputus dengan benar hanya sampai di sini.

But that’s not how <em>this</em> self becomes rightly annihilated.

dn1:3.16.4

Atthi kho, bho, añño attā sabbaso ākiñcaññāyatanaṁ samatikkamma “santametaṁ paṇītametan”ti nevasaññānāsaññāyatanūpago.

Ada, Tuan, diri lain yang sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, dengan menyadari “ini damai, ini luhur”, ia mencapai landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi.’

There is another self that has gone totally beyond the dimension of nothingness. Aware that “this is peaceful, this is sublime”, it passes on to the dimension of neither perception nor non-perception.

dn1:3.16.5

Taṁ tvaṁ na jānāsi na passasi.

Engkau tidak mengetahui dan tidak melihat itu.

You don’t know or see that.

dn1:3.16.6

Tamahaṁ jānāmi passāmi.

Tetapi aku mengetahui dan melihatnya.

But I know it and see it.

dn1:3.16.7

So kho, bho, attā yato kāyassa bhedā ucchijjati vinassati, na hoti paraṁ maraṇā, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā sammā samucchinno hotī’ti.

Karena diri ini, ketika tubuh hancur, terputus dan musnah, tidak ada lagi setelah kematian—sejauh itulah, tuan, diri ini sepenuhnya terputus.’

Since this self is annihilated and destroyed when the body breaks up, and doesn’t exist after death, that’s how this self becomes rightly annihilated.’

dn1:3.16.8

Ittheke sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang menyatakan pemutusan, kemusnahan, dan ketiadaan bagi makhluk yang ada.

That is how some assert the annihilation of an existing being.

dn1:3.17.1

Imehi kho te, bhikkhave, samaṇabrāhmaṇā ucchedavādā sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti sattahi vatthūhi.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana penganut ajaran pemutusan ini menyatakan pemutusan, kemusnahan, dan ketiadaan bagi makhluk yang ada berdasarkan tujuh landasan ini.

These are the seven grounds on which those ascetics and brahmins assert the annihilation, eradication, and nonexistence of an existing being.

dn1:3.17.2

Ye hi keci, bhikkhave, samaṇā vā brāhmaṇā vā ucchedavādā sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti, sabbe te imeheva sattahi vatthūhi …

Para bhikkhu, petapa atau brahmana mana pun yang menganut ajaran pemutusan dan menyatakan pemutusan, kemusnahan, serta ketiadaan bagi makhluk yang ada, semuanya menyatakannya berdasarkan salah satu dari tujuh landasan ini, atau salah satu di antaranya, tanpa melampauinya.

Any ascetics and brahmins who assert the annihilation, eradication, and nonexistence of an existing being do so on one or other of these seven grounds. Outside of this there is none.

Sang Tathāgata memahami hal ini …

The Realized One understands this …

dn1:3.18.2

yehi tathāgatassa yathābhuccaṁ vaṇṇaṁ sammā vadamānā vadeyyuṁ.

… dan mereka yang dengan benar memuji Sang Tathāgata akan mengucapkan hal-hal ini sebagaimana adanya.

And those who genuinely praise the Realized One would rightly speak of these things.

dn1:3.19.0

3.2.5. Diṭṭhadhammanibbānavāda

3.2.5. Nibbāna dalam Kehidupan Ini

3.2.5. Extinguishment of Suffering in This Life

dn1:3.19.1

Santi, bhikkhave, eke samaṇabrāhmaṇā diṭṭhadhammanibbānavādā sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti pañcahi vatthūhi.

Para bhikkhu, ada sebagian petapa dan brahmana yang menganut ajaran nibbāna dalam kehidupan ini. Mereka menyatakan nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini bagi makhluk yang ada berdasarkan lima landasan.

There are some ascetics and brahmins who speak of extinguishment in this life. They assert ultimate extinguishment for an existing being in this life on five grounds.

dn1:3.19.2

Te ca bhonto samaṇabrāhmaṇā kimāgamma kimārabbha diṭṭhadhammanibbānavādā sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti pañcahi vatthūhi?

Dan apakah lima landasan yang mereka andalkan?

And what are the five grounds on which they rely?

dn1:3.20.1

Idha, bhikkhave, ekacco samaṇo vā brāhmaṇo vā evaṁvādī hoti evaṁdiṭṭhi:

Di sini, para bhikkhu, ada sebagian petapa atau brahmana yang berpandangan dan berkeyakinan demikian:

There are some ascetics and brahmins who have this doctrine and view:

dn1:3.20.2

‘yato kho, bho, ayaṁ attā pañcahi kāmaguṇehi samappito samaṅgībhūto paricāreti, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ patto hotī’ti.

‘Ketika, tuan, diri ini bersenang-senang, dilengkapi dan dipenuhi dengan lima jenis kenikmatan indria, maka pada saat itulah, tuan, diri ini mencapai kebebasan akhir yang tertinggi dalam kehidupan ini.’

‘When this self amuses itself, supplied and provided with the five kinds of sensual stimulation, that’s how this self attains ultimate extinguishment in this life.’

dn1:3.20.3

Ittheke sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang menegaskan kebebasan akhir yang tertinggi dalam kehidupan ini bagi makhluk yang ada.

That is how some assert ultimate extinguishment for an existing being in this life.

dn1:3.21.1

Tamañño evamāha:

Tetapi orang lain berkata kepada mereka:

But someone else says to them:

dn1:3.21.2

‘atthi kho, bho, eso attā, yaṁ tvaṁ vadesi, neso natthīti vadāmi;

‘Tuan, diri yang engkau maksudkan itu sungguh ada, aku tidak menyangkalnya.

‘<em>That</em> self of which you speak does exist, I don’t deny it.

dn1:3.21.3

no ca kho, bho, ayaṁ attā ettāvatā paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ patto hoti.

Akan tetapi, tuan, bukan pada saat itulah diri ini mencapai kebebasan akhir yang tertinggi dalam kehidupan ini.

But that’s not how <em>this</em> self attains ultimate extinguishment in this life.

dn1:3.21.4

Taṁ kissa hetu?

Mengapa demikian?

Why is that?

dn1:3.21.5

Kāmā hi, bho, aniccā dukkhā vipariṇāmadhammā, tesaṁ vipariṇāmaññathābhāvā uppajjanti sokaparidevadukkhadomanassupāyāsā.

Karena kenikmatan indria, tuan, adalah tidak kekal, menyakitkan, dan tunduk pada perubahan. Dari perubahan dan perbedaannya timbullah dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputusasaan.

Because sensual pleasures are impermanent, suffering, and perishable. Their decay and perishing give rise to sorrow, lamentation, pain, sadness, and distress.

dn1:3.21.6

Yato kho, bho, ayaṁ attā vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi savitakkaṁ savicāraṁ vivekajaṁ pītisukhaṁ paṭhamaṁ jhānaṁ upasampajja viharati, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ patto hotī’ti.

Tetapi ketika, tuan, diri ini, dengan terasing sepenuhnya dari kenikmatan indria, terasing dari kualitas-kualitas yang tidak bermanfaat, masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai pemikiran dan penilaian, yang lahir dari keterasingan, berisi kegembiraan dan kebahagiaan—maka pada saat itulah, tuan, diri ini mencapai kebebasan akhir yang tertinggi dalam kehidupan ini.’

Quite secluded from sensual pleasures, secluded from unskillful qualities, this self enters and remains in the first absorption, which has the rapture and bliss born of seclusion, while placing the mind and keeping it connected. That’s how this self attains ultimate extinguishment in this life.’

dn1:3.21.7

Ittheke sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang menetapkan kebebasan akhir yang dicapai dalam kehidupan ini bagi makhluk yang masih hidup.

That is how some assert ultimate extinguishment for an existing being in this life.

dn1:3.22.1

Tamañño evamāha:

Tetapi orang lain berkata kepada mereka:

But someone else says to them:

dn1:3.22.2

‘atthi kho, bho, eso attā, yaṁ tvaṁ vadesi, neso natthīti vadāmi;

‘Saudara, diri yang engkau maksud itu sungguh ada; aku tidak mengatakan ia tidak ada;

‘<em>That</em> self of which you speak does exist, I don’t deny it.

dn1:3.22.3

no ca kho, bho, ayaṁ attā ettāvatā paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ patto hoti.

Akan tetapi, tuan, bukanlah demikian bahwa diri ini mencapai Nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini hanya sampai di sini.

But that’s not how <em>this</em> self attains ultimate extinguishment in this life.

dn1:3.22.4

Taṁ kissa hetu?

Apakah sebabnya?

Why is that?

dn1:3.22.5

Yadeva tattha vitakkitaṁ vicāritaṁ, etenetaṁ oḷārikaṁ akkhāyati.

Karena pengarahan pikiran dan pemeliharaan pikiran di sana itulah yang dikatakan sebagai yang kasar.

Because the placing of the mind and the keeping it connected there are coarse.

dn1:3.22.6

Yato kho, bho, ayaṁ attā vitakkavicārānaṁ vūpasamā ajjhattaṁ sampasādanaṁ cetaso ekodibhāvaṁ avitakkaṁ avicāraṁ samādhijaṁ pītisukhaṁ dutiyaṁ jhānaṁ upasampajja viharati, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ patto hotī’ti.

‘Sahabat, ketika diri ini, dengan meredanya pengarahan dan pemeliharaan pikiran, mencapai dan berdiam dalam jhāna kedua, yang memiliki ketenangan batin, keterpusatan pikiran pada satu titik, tanpa pengarahan dan pemeliharaan pikiran, yang lahir dari konsentrasi, disertai kegembiraan dan kebahagiaan—maka, sahabat, pada tingkat inilah diri ini mencapai Nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini.’

But when the placing of the mind and keeping it connected are stilled, this self enters and remains in the second absorption, which has the rapture and bliss born of immersion, with internal clarity and mind at one, without placing the mind and keeping it connected. That’s how this self attains ultimate extinguishment in this life.’

dn1:3.22.7

Ittheke sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang menyatakan Nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini bagi makhluk yang masih ada.

That is how some assert ultimate extinguishment for an existing being in this life.

dn1:3.23.1

Tamañño evamāha:

Yang lain berkata kepadanya:

But someone else says to them:

dn1:3.23.2

‘atthi kho, bho, eso attā, yaṁ tvaṁ vadesi, neso natthīti vadāmi;

‘Sahabat, ada diri itu yang engkau maksudkan; aku tidak mengatakan ia tidak ada.

‘<em>That</em> self of which you speak does exist, I don’t deny it.

dn1:3.23.3

no ca kho, bho, ayaṁ attā ettāvatā paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ patto hoti.

Akan tetapi, Tuan, bukanlah demikian bahwa diri ini mencapai Nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini.

But that’s not how <em>this</em> self attains ultimate extinguishment in this life.

dn1:3.23.4

Taṁ kissa hetu?

Apakah sebabnya?

Why is that?

dn1:3.23.5

Yadeva tattha pītigataṁ cetaso uppilāvitattaṁ, etenetaṁ oḷārikaṁ akkhāyati.

Karena kegembiraan dan gejolak batin di sana masih bersifat kasar.

Because the rapture and emotional elation there are coarse.

dn1:3.23.6

Yato kho, bho, ayaṁ attā pītiyā ca virāgā upekkhako ca viharati, sato ca sampajāno, sukhañca kāyena paṭisaṁvedeti, yaṁ taṁ ariyā ācikkhanti “upekkhako satimā sukhavihārī”ti, tatiyaṁ jhānaṁ upasampajja viharati, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ patto hotī’ti.

Akan tetapi, Tuan, ketika dengan meluruhnya kegembiraan, diri ini berdiam dengan keseimbangan, dengan penuh perhatian dan kewaspadaan, dan merasakan kebahagiaan pada jasmani, yang oleh para mulia dikatakan sebagai ‘diam dengan seimbang, penuh perhatian, dan berdiam dalam kebahagiaan’, maka ia masuk dan berdiam dalam jhāna ketiga. Sejauh itulah, Tuan, diri ini mencapai Nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini.’

But with the fading away of rapture, this self enters and remains in the third absorption, where it meditates with equanimity, mindful and aware, experiencing for themselves the bliss of which the noble ones declare, “Equanimous and mindful, one meditates in bliss”. That’s how this self attains ultimate extinguishment in this life.’

dn1:3.23.7

Ittheke sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang menyatakan Nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini bagi makhluk yang masih ada.

That is how some assert ultimate extinguishment for an existing being in this life.

dn1:3.24.1

Tamañño evamāha:

Tetapi orang lain berkata kepadanya:

But someone else says to them:

dn1:3.24.2

‘atthi kho, bho, eso attā, yaṁ tvaṁ vadesi, neso natthīti vadāmi;

‘Tuan, diri yang engkau maksudkan itu memang ada, aku tidak mengatakan ia tidak ada.

‘<em>That</em> self of which you speak does exist, I don’t deny it.

dn1:3.24.3

no ca kho, bho, ayaṁ attā ettāvatā paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ patto hoti.

Akan tetapi, Tuan, bukanlah demikian bahwa diri ini mencapai Nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini.

But that’s not how <em>this</em> self attains ultimate extinguishment in this life.

dn1:3.24.4

Taṁ kissa hetu?

Apakah sebabnya?

Why is that?

dn1:3.24.5

Yadeva tattha sukhamiti cetaso ābhogo, etenetaṁ oḷārikaṁ akkhāyati.

Karena pikiran yang mengarah pada hal itu sebagai ‘bahagia’ masih dikatakan bersifat kasar.

Because mentally partaking in that as ‘blissful’ is said to be coarse.

dn1:3.24.6

Yato kho, bho, ayaṁ attā sukhassa ca pahānā dukkhassa ca pahānā pubbeva somanassadomanassānaṁ atthaṅgamā adukkhamasukhaṁ upekkhāsatipārisuddhiṁ catutthaṁ jhānaṁ upasampajja viharati, ettāvatā kho, bho, ayaṁ attā paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ patto hotī’ti.

Akan tetapi, dengan meninggalkan kesenangan dan kesakitan, serta dengan lenyapnya sebelumnya suka dan duka, diri ini masuk dan berdiam dalam jhāna keempat, yang tanpa kesenangan maupun kesakitan, dengan keseimbangan batin dan perhatian murni. Demikianlah diri ini mencapai Nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini.’

But with the giving up of pleasure and pain and the disappearance of former happiness and sadness, this self enters and remains in the fourth absorption, without pleasure or pain, with pure equanimity and mindfulness. That’s how this self attains ultimate extinguishment in this life.’

dn1:3.24.7

Ittheke sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti.

Demikianlah sebagian orang menyatakan Nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini bagi makhluk yang masih ada.

That is how some assert ultimate extinguishment for an existing being in this life.

dn1:3.25.1

Imehi kho te, bhikkhave, samaṇabrāhmaṇā diṭṭhadhammanibbānavādā sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti pañcahi vatthūhi.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut pandangan tentang Nibbāna dalam kehidupan ini ini, menyatakan Nibbāna tertinggi bagi makhluk yang masih ada dalam kehidupan ini berdasarkan lima landasan.

These are the five grounds on which those ascetics and brahmins assert ultimate extinguishment for an existing being in this life.

dn1:3.25.2

Ye hi keci, bhikkhave, samaṇā vā brāhmaṇā vā diṭṭhadhammanibbānavādā sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti, sabbe te imeheva pañcahi vatthūhi …

Para petapa dan brahmana mana pun, para bhikkhu, yang menganut ajaran tentang kebebasan mutlak dalam kehidupan ini dan menyatakan bahwa bagi makhluk yang masih hidup terdapat kebebasan mutlak tertinggi dalam kehidupan ini, semuanya melakukannya berdasarkan salah satu dari lima landasan ini. Di luar ini tidak ada yang lain.

Any ascetics and brahmins who assert ultimate extinguishment for an existing being in this life do so on one or other of these five grounds. Outside of this there is none.

… Sang Tathāgata memahami hal ini …

The Realized One understands this …

dn1:3.26.2

yehi tathāgatassa yathābhuccaṁ vaṇṇaṁ sammā vadamānā vadeyyuṁ.

Dan mereka yang dengan jujur memuji Yang Tathāgata akan dengan benar mengucapkan hal-hal ini.

And those who genuinely praise the Realized One would rightly speak of these things.

dn1:3.27.1

Imehi kho te, bhikkhave, samaṇabrāhmaṇā aparantakappikā aparantānudiṭṭhino aparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti catucattārīsāya vatthūhi.

Ini, para bhikkhu, adalah empat puluh empat landasan yang dengannya para petapa dan brahmana yang berspekulasi dan berteori tentang akhir zaman mengemukakan berbagai macam pandangan berdasarkan kepercayaan mereka mengenai akhir zaman.

These are the forty-four grounds on which those ascetics and brahmins who speculate and theorize about the final end propose various hypotheses concerning the final end.

dn1:3.27.2

Ye hi keci, bhikkhave, samaṇā vā brāhmaṇā vā aparantakappikā aparantānudiṭṭhino aparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti, sabbe te imeheva catucattārīsāya vatthūhi …

Para petapa atau brahmana mana pun, para bhikkhu, yang berspekulasi dan berteori tentang akhir zaman, dan mengemukakan berbagai macam pandangan berdasarkan kepercayaan mereka mengenai akhir zaman, semuanya melakukannya berdasarkan salah satu dari empat puluh empat landasan ini. Di luar ini tidak ada yang lain.

Any ascetics and brahmins who speculate and theorize about the final end do so on one or other of these forty-four grounds. Outside of this there is none.

… (pe) …

The Realized One understands this …

dn1:3.28.2

yehi tathāgatassa yathābhuccaṁ vaṇṇaṁ sammā vadamānā vadeyyuṁ.

Dan mereka yang dengan jujur memuji Yang Tathāgata akan dengan benar mengucapkan hal-hal ini.

And those who genuinely praise the Realized One would rightly speak of these things.

dn1:3.29.1

Imehi kho te, bhikkhave, samaṇabrāhmaṇā pubbantakappikā ca aparantakappikā ca pubbantāparantakappikā ca pubbantāparantānudiṭṭhino pubbantāparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti dvāsaṭṭhiyā vatthūhi.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa lampau dan masa depan, yang berspekulasi tentang masa lampau dan masa depan, yang berpandangan tentang masa lampau dan masa depan, mengemukakan berbagai macam pandangan berdasarkan enam puluh dua landasan mengenai masa lampau dan masa depan.

These are the sixty-two grounds on which those ascetics and brahmins who speculate and theorize about the first beginning and the final end propose various hypotheses concerning the first beginning and the final end.

dn1:3.29.2

Ye hi keci, bhikkhave, samaṇā vā brāhmaṇā vā pubbantakappikā vā aparantakappikā vā pubbantāparantakappikā vā pubbantāparantānudiṭṭhino pubbantāparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti, sabbe te imeheva dvāsaṭṭhiyā vatthūhi, etesaṁ vā aññatarena; natthi ito bahiddhā.

Para bhikkhu, petapa atau brahmana mana pun, baik yang berspekulasi tentang masa lampau, masa depan, maupun yang berspekulasi tentang masa lampau dan masa depan, yang berpandangan tentang masa lampau dan masa depan, yang mengemukakan berbagai macam pandangan mengenai masa lampau dan masa depan, semuanya melakukannya berdasarkan enam puluh dua landasan ini atau salah satu di antaranya; tidak ada di luar ini.

Any ascetics and brahmins who speculate and theorize about the first beginning or the final end do so on one or other of these sixty-two grounds. Outside of this there is none.

dn1:3.30.1

Tayidaṁ, bhikkhave, tathāgato pajānāti:

Para bhikkhu, Sang Tathāgata memahami hal ini:

The Realized One understands this:

dn1:3.30.2

‘ime diṭṭhiṭṭhānā evaṅgahitā evaṁparāmaṭṭhā evaṅgatikā bhavanti evaṁabhisamparāyā’ti.

‘Pandangan-pandangan ini, jika dipegang dan dilekati, akan membawa pada tujuan demikian di kehidupan mendatang.’

‘If you hold on to and attach to these grounds for views it leads to such a destiny in the next life.’

dn1:3.30.3

Tañca tathāgato pajānāti, tato ca uttaritaraṁ pajānāti, tañca pajānanaṁ na parāmasati, aparāmasato cassa paccattaññeva nibbuti viditā.

Ia memahami hal itu, dan apa yang melampauinya. Dan karena ia tidak melekat pada pemahaman itu, ia telah merealisasikan padamnya api dalam dirinya sendiri.

He understands this, and what goes beyond this. And since he does not misapprehend that understanding, he has realized quenching within himself.

dn1:3.30.4

Vedanānaṁ samudayañca atthaṅgamañca assādañca ādīnavañca nissaraṇañca yathābhūtaṁ viditvā anupādāvimutto, bhikkhave, tathāgato.

Setelah memahami sebagaimana adanya kemunculan, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan keluar dari perasaan-perasaan, para bhikkhu, Sang Tathāgata terbebaskan melalui ketidakmelekatan.

Having truly understood the origin, disappearance, gratification, drawback, and escape from feelings, the Realized One is freed by not grasping.

dn1:3.31.1

Ime kho te, bhikkhave, dhammā gambhīrā duddasā duranubodhā santā paṇītā atakkāvacarā nipuṇā paṇḍitavedanīyā, ye tathāgato sayaṁ abhiññā sacchikatvā pavedeti, yehi tathāgatassa yathābhuccaṁ vaṇṇaṁ sammā vadamānā vadeyyuṁ.

Ini adalah ajaran-ajaran yang dalam, sulit dilihat, sulit dipahami, damai, luhur, melampaui jangkauan logika, halus, hanya dapat dimengerti oleh para bijaksana—yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata setelah beliau merealisasikannya sendiri dengan kebijaksanaan langsungnya. Dan mereka yang dengan tulus memuji Sang Tathāgata akan berbicara dengan benar tentang hal-hal ini.

These are the principles—deep, hard to see, hard to understand, peaceful, sublime, beyond the scope of logic, subtle, comprehensible to the astute—which the Realized One makes known after realizing them with his own insight. And those who genuinely praise the Realized One would rightly speak of these things.

dn1:3.32.0.1

4. Attālokapaññattivatthu

4. Landasan-landasan Pernyataan tentang Diri dan Kosmos

4. The Grounds For Assertions About the Self and the Cosmos

dn1:3.32.0.2

4.1. Paritassitavipphanditavāra

4.1. Kegelisahan dan Penghindaran

4.1. Anxiety and Evasiveness

dn1:3.32.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā sassatavādā sassataṁ attānañca lokañca paññapenti catūhi vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham keabadian dan menyatakan bahwa diri dan kosmos adalah kekal berdasarkan empat landasan—itu pun hanya merupakan perasaan dari mereka yang tidak mengetahui dan tidak melihat, kegelisahan dan penghindaran dari mereka yang dikuasai oleh nafsu keinginan.

Now, these things are only the feeling of those who do not know or see, the anxiety and evasiveness of those under the sway of craving. Namely, when those ascetics and brahmins assert that the self and the cosmos are eternal on four grounds …

dn1:3.33.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā ekaccasassatikā ekaccaasassatikā ekaccaṁ sassataṁ ekaccaṁ asassataṁ attānañca lokañca paññapenti catūhi vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham sebagian kekal dan sebagian tidak kekal, yang menyatakan diri dan dunia sebagian kekal dan sebagian tidak kekal berdasarkan empat landasan—itu pun merupakan pengalaman dari para petapa dan brahmana yang mulia itu, yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh keinginan, dan yang menggelepar dalam kegelisahan.

partially eternal on four grounds …

dn1:3.34.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā antānantikā antānantaṁ lokassa paññapenti catūhi vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham terbatas atau tidak terbatas, yang menyatakan dunia terbatas atau tidak terbatas berdasarkan empat landasan—itu pun merupakan pengalaman dari para petapa dan brahmana yang mulia itu, yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh keinginan, dan yang menggelepar dalam kegelisahan.

finite or infinite on four grounds …

dn1:3.35.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā amarāvikkhepikā tattha tattha pañhaṁ puṭṭhā samānā vācāvikkhepaṁ āpajjanti amarāvikkhepaṁ catūhi vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham mengelak, yang ketika ditanya berbagai pertanyaan, mereka menjawab dengan mengelak dan berputar-putar berdasarkan empat landasan—itu pun merupakan pengalaman dari para petapa dan brahmana yang mulia itu, yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh keinginan, dan yang menggelepar dalam kegelisahan.

or they resort to flip-flops on four grounds …

dn1:3.36.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā adhiccasamuppannikā adhiccasamuppannaṁ attānañca lokañca paññapenti dvīhi vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham muncul secara kebetulan, yang menyatakan diri dan dunia muncul secara kebetulan berdasarkan dua landasan—itu pun merupakan pengalaman dari para petapa dan brahmana yang mulia itu, yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh keinginan, dan yang menggelepar dalam kegelisahan.

or they assert that the self and the cosmos arose anomalously on two grounds …

dn1:3.37.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā pubbantakappikā pubbantānudiṭṭhino pubbantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti aṭṭhārasahi vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa lampau, yang menganut pandangan tentang masa lampau, yang mengemukakan berbagai macam pernyataan keyakinan mengenai masa lampau berdasarkan delapan belas landasan—itu pun merupakan pengalaman dari para petapa dan brahmana yang mulia itu, yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh keinginan, dan yang menggelepar dalam kegelisahan.

they speculate and theorize about the first beginning on these eighteen grounds …

dn1:3.38.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā saññīvādā uddhamāghātanaṁ saññiṁ attānaṁ paññapenti soḷasahi vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham tentang kehidupan setelah kematian, yang menyatakan diri yang memiliki persepsi setelah kematian berdasarkan enam belas landasan—itu pun merupakan pengalaman dari para petapa dan brahmana yang mulia itu, yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh keinginan, dan yang menggelepar dalam kegelisahan.

or they assert that the self lives on after death in a percipient form on sixteen grounds …

dn1:3.39.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā asaññīvādā uddhamāghātanaṁ asaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham tentang kehidupan setelah kematian, yang menyatakan diri yang tidak memiliki persepsi setelah kematian berdasarkan delapan landasan—itu pun merupakan pengalaman dari para petapa dan brahmana yang mulia itu, yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh keinginan, dan yang menggelepar dalam kegelisahan.

or that the self lives on after death in a non-percipient form on eight grounds …

dn1:3.40.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā nevasaññīnāsaññīvādā uddhamāghātanaṁ nevasaññīnāsaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham tentang kehidupan setelah kematian, yang menyatakan diri yang bukan memiliki persepsi maupun tidak memiliki persepsi setelah kematian berdasarkan delapan landasan—itu pun merupakan pengalaman dari para petapa dan brahmana yang mulia itu, yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh keinginan, dan yang menggelepar dalam kegelisahan.

or that the self lives on after death in a neither percipient nor non-percipient form on eight grounds …

dn1:3.41.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā ucchedavādā sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti sattahi vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham pemusnahan, yang menyatakan pemusnahan, kehancuran, dan ketiadaan makhluk yang ada berdasarkan tujuh landasan—itu pun merupakan pengalaman dari para petapa dan brahmana yang mulia itu, yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh keinginan, dan yang menggelepar dalam kegelisahan.

or they assert the annihilation of an existing being on seven grounds …

dn1:3.42.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā diṭṭhadhammanibbānavādā sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti pañcahi vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham nibbana dalam kehidupan ini, yang menyatakan nibbana tertinggi dalam kehidupan ini bagi makhluk yang ada berdasarkan lima landasan—itu pun merupakan pengalaman dari para petapa dan brahmana yang mulia itu, yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh keinginan, dan yang menggelepar dalam kegelisahan.

or they assert ultimate extinguishment for an existing being in this life on five grounds …

dn1:3.43.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā aparantakappikā aparantānudiṭṭhino aparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti catucattārīsāya vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa depan, menganut pandangan-pandangan tentang masa depan, dan mengemukakan berbagai macam pernyataan keyakinan sehubungan dengan masa depan berdasarkan empat puluh empat dasar—itu pun hanya merupakan perasaan dari mereka yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh nafsu keinginan, serta kegelisahan dan gejolak batin belaka.

they speculate and theorize about the final end on these forty-four grounds …

dn1:3.44.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā pubbantakappikā ca aparantakappikā ca pubbantāparantakappikā ca pubbantāparantānudiṭṭhino pubbantāparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti dvāsaṭṭhiyā vatthūhi, tadapi tesaṁ bhavataṁ samaṇabrāhmaṇānaṁ ajānataṁ apassataṁ vedayitaṁ taṇhāgatānaṁ paritassitavipphanditameva.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa lampau dan masa depan, menganut pandangan-pandangan tentang masa lampau dan masa depan, dan mengemukakan berbagai macam pernyataan keyakinan sehubungan dengan masa lampau dan masa depan berdasarkan enam puluh dua dasar—itu pun hanya merupakan perasaan dari mereka yang tidak mengetahui, tidak melihat, yang dikuasai oleh nafsu keinginan, serta kegelisahan dan gejolak batin belaka.

When those ascetics and brahmins speculate and theorize about the first beginning and the final end on these sixty-two grounds, these things are only the feeling of those who do not know or see, the anxiety and evasiveness of those under the sway of craving.

dn1:3.45.0

4.2. Phassapaccayāvāra

4.2. Bergantung pada Kontak

4.2. Dependent On contact

dn1:3.45.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā sassatavādā sassataṁ attānañca lokañca paññapenti catūhi vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham kekekalan, yang menyatakan diri dan dunia adalah kekal berdasarkan empat landasan, semua itu juga bergantung pada kontak.

Now, these things are dependent on contact. Namely, when those ascetics and brahmins assert that the self and the cosmos are eternal on four grounds …

dn1:3.46.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā ekaccasassatikā ekaccaasassatikā ekaccaṁ sassataṁ ekaccaṁ asassataṁ attānañca lokañca paññapenti catūhi vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham sebagian kekal dan sebagian tidak kekal, yang menyatakan diri dan dunia sebagian kekal dan sebagian tidak kekal berdasarkan empat landasan, semua itu juga bergantung pada kontak.

partially eternal on four grounds …

dn1:3.47.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā antānantikā antānantaṁ lokassa paññapenti catūhi vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menyatakan bahwa dunia ini terbatas atau tidak terbatas berdasarkan empat landasan, itu juga disebabkan oleh kontak.

finite or infinite on four grounds …

dn1:3.48.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā amarāvikkhepikā tattha tattha pañhaṁ puṭṭhā samānā vācāvikkhepaṁ āpajjanti amarāvikkhepaṁ catūhi vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang bersikap mengelak, yang ketika ditanya berbagai pertanyaan, menjawab dengan berbelit-belit dan mengelak berdasarkan empat landasan, itu juga disebabkan oleh kontak.

or they resort to flip-flops on four grounds …

dn1:3.49.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā adhiccasamuppannikā adhiccasamuppannaṁ attānañca lokañca paññapenti dvīhi vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menyatakan bahwa diri dan dunia muncul secara kebetulan berdasarkan dua landasan, itu juga disebabkan oleh kontak.

or they assert that the self and the cosmos arose anomalously on two grounds …

dn1:3.50.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā pubbantakappikā pubbantānudiṭṭhino pubbantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti aṭṭhārasahi vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut teori tentang masa lampau, yang berpegang pada pandangan tentang masa lampau, dan yang mengemukakan berbagai pernyataan keyakinan tentang masa lampau berdasarkan delapan belas landasan—itu semua juga disebabkan oleh kontak.

they speculate and theorize about the first beginning on these eighteen grounds …

dn1:3.51.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā saññīvādā uddhamāghātanaṁ saññiṁ attānaṁ paññapenti soḷasahi vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut teori tentang kehidupan setelah kematian, yang mengajarkan bahwa diri memiliki kesadaran setelah kematian berdasarkan enam belas landasan—itu semua juga disebabkan oleh kontak.

or they assert that the self lives on after death in a percipient form on sixteen grounds …

dn1:3.52.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā asaññīvādā uddhamāghātanaṁ asaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut pandangan tentang kehidupan setelah kematian dalam bentuk tanpa persepsi, yang menyatakan diri yang tanpa persepsi setelah kematian berdasarkan delapan landasan, itu juga bergantung pada kontak.

or that the self lives on after death in a non-percipient form on eight grounds …

dn1:3.53.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā nevasaññīnāsaññīvādā uddhamāghātanaṁ nevasaññīnāsaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut pandangan tentang kehidupan setelah kematian dalam bentuk bukan persepsi maupun bukan tanpa persepsi, yang menyatakan diri yang bukan persepsi maupun bukan tanpa persepsi setelah kematian berdasarkan delapan landasan, itu juga bergantung pada kontak.

or that the self lives on after death in a neither percipient nor non-percipient form on eight grounds …

dn1:3.54.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā ucchedavādā sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti sattahi vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut pandangan nihilisme, yang menyatakan kehancuran, kemusnahan, dan ketiadaan makhluk yang ada berdasarkan tujuh landasan, itu juga bergantung pada kontak.

or they assert the annihilation of an existing being on seven grounds …

dn1:3.55.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā diṭṭhadhammanibbānavādā sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti pañcahi vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut pandangan tentang Nibbāna dalam kehidupan ini, yang menyatakan Nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini bagi makhluk yang ada berdasarkan lima landasan, itu juga bergantung pada kontak.

or they assert ultimate extinguishment for an existing being in this life on five grounds …

dn1:3.56.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā aparantakappikā aparantānudiṭṭhino aparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti catucattārīsāya vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa depan, yang menganut pandangan tentang masa depan, yang mengemukakan berbagai macam pernyataan keyakinan mengenai masa depan berdasarkan empat puluh empat landasan, itu juga bergantung pada kontak.

they speculate and theorize about the final end on these forty-four grounds …

dn1:3.57.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā pubbantakappikā ca aparantakappikā ca pubbantāparantakappikā ca pubbantāparantānudiṭṭhino pubbantāparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti dvāsaṭṭhiyā vatthūhi, tadapi phassapaccayā.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa lampau dan masa depan, yang menganut pandangan tentang masa lampau dan masa depan, yang mengemukakan berbagai macam pernyataan keyakinan mengenai masa lampau dan masa depan berdasarkan enam puluh dua landasan, itu juga bergantung pada kontak.

When those ascetics and brahmins speculate and theorize about the first beginning and the final end on these sixty-two grounds, that too is dependent on contact.

dn1:3.58.0

4.3. Netaṁṭhānaṁvijjativāra

4.3. Bukan Suatu Kemungkinan

4.3. Not Possible

dn1:3.58.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā sassatavādā sassataṁ attānañca lokañca paññapenti catūhi vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut pandangan keabadian, yang menyatakan diri dan dunia yang abadi berdasarkan empat landasan, sungguh, tanpa kontak mereka akan mengalami [hal itu]—ini bukanlah suatu kemungkinan.

dn1:3.59.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā ekaccasassatikā ekaccaasassatikā ekaccaṁ sassataṁ ekaccaṁ asassataṁ attānañca lokañca paññapenti catūhi vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut pandangan sebagian abadi dan sebagian tidak abadi, yang menyatakan sebagian abadi dan sebagian tidak abadi pada diri dan dunia berdasarkan empat landasan, sungguh, tanpa kontak mereka akan mengalami [hal itu]—ini bukanlah suatu kemungkinan.

dn1:3.60.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā antānantikā antānantaṁ lokassa paññapenti catūhi vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut pandangan tentang dunia yang terbatas atau tidak terbatas, yang menyatakan dunia yang terbatas atau tidak terbatas berdasarkan empat landasan, sungguh, tanpa kontak mereka akan mengalami [hal itu]—ini bukanlah suatu kemungkinan.

dn1:3.61.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā amarāvikkhepikā tattha tattha pañhaṁ puṭṭhā samānā vācāvikkhepaṁ āpajjanti amarāvikkhepaṁ catūhi vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham amarāvikkhepika (penghindar pertanyaan), ketika ditanya berbagai pertanyaan, mereka menjawab dengan berbelit-belit dan mengelak berdasarkan empat hal. Bahwa mereka akan merasakan tanpa kontak—hal ini tidak mungkin terjadi.

dn1:3.62.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā adhiccasamuppannikā adhiccasamuppannaṁ attānañca lokañca paññapenti dvīhi vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham adhiccasamuppannika (muncul kebetulan), yang mengajarkan bahwa diri dan dunia muncul secara kebetulan berdasarkan dua hal. Bahwa mereka akan merasakan tanpa kontak—hal ini tidak mungkin terjadi.

dn1:3.63.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā pubbantakappikā pubbantānudiṭṭhino pubbantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti aṭṭhārasahi vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa lampau, yang berpandangan tentang masa lampau, yang mengemukakan berbagai macam pernyataan keyakinan sehubungan dengan masa lampau berdasarkan delapan belas hal. Bahwa mereka akan merasakan tanpa kontak—hal ini tidak mungkin terjadi.

dn1:3.64.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā saññīvādā uddhamāghātanaṁ saññiṁ attānaṁ paññapenti soḷasahi vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa depan, yang menganut paham diri yang memiliki persepsi, yang mengajarkan bahwa diri memiliki persepsi setelah kematian berdasarkan enam belas hal. Bahwa mereka akan merasakan tanpa kontak—hal ini tidak mungkin terjadi.

dn1:3.65.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā asaññīvādā, uddhamāghātanaṁ asaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa depan, yang menganut paham diri tanpa persepsi, yang mengajarkan bahwa diri tanpa persepsi setelah kematian berdasarkan delapan hal. Bahwa mereka akan merasakan tanpa kontak—hal ini tidak mungkin terjadi.

dn1:3.66.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā nevasaññīnāsaññīvādā uddhamāghātanaṁ nevasaññīnāsaññiṁ attānaṁ paññapenti aṭṭhahi vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa depan, yang menganut paham diri tanpa persepsi maupun tanpa tanpa persepsi, yang mengajarkan bahwa diri tanpa persepsi maupun tanpa tanpa persepsi setelah kematian berdasarkan delapan hal. Bahwa mereka akan merasakan tanpa kontak—hal ini tidak mungkin terjadi.

dn1:3.67.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā ucchedavādā sato sattassa ucchedaṁ vināsaṁ vibhavaṁ paññapenti sattahi vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham pemusnahan, yang mengajarkan pemusnahan, kehancuran, dan kebinasaan makhluk yang ada berdasarkan tujuh hal. Bahwa mereka akan merasakan tanpa kontak—hal ini tidak mungkin terjadi.

dn1:3.68.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā diṭṭhadhammanibbānavādā sato sattassa paramadiṭṭhadhammanibbānaṁ paññapenti pañcahi vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham Nibbāna di kehidupan ini, yang mengajarkan Nibbāna tertinggi di kehidupan ini bagi makhluk yang ada berdasarkan lima hal. Bahwa mereka akan merasakan tanpa kontak—hal ini tidak mungkin terjadi.

dn1:3.69.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā aparantakappikā aparantānudiṭṭhino aparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti catucattārīsāya vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa depan, yang berpandangan tentang masa depan, yang mengemukakan berbagai macam pernyataan keyakinan sehubungan dengan masa depan berdasarkan empat puluh empat hal. Bahwa mereka akan merasakan tanpa kontak—hal ini tidak mungkin terjadi.

dn1:3.70.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā pubbantakappikā ca aparantakappikā ca pubbantāparantakappikā ca pubbantāparantānudiṭṭhino pubbantāparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti dvāsaṭṭhiyā vatthūhi, te vata aññatra phassā paṭisaṁvedissantīti netaṁ ṭhānaṁ vijjati.

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa lampau dan masa depan, yang berpandangan tentang masa lampau dan masa depan, yang mengemukakan berbagai macam pernyataan keyakinan sehubungan dengan masa lampau dan masa depan berdasarkan enam puluh dua hal. Bahwa mereka akan merasakan tanpa kontak—hal ini tidak mungkin terjadi.

Now, when those ascetics and brahmins speculate and theorize about the first beginning and the final end on these sixty-two grounds, it is not possible that they should experience these things without contact.

dn1:3.71.0

4.4. Diṭṭhigatikādhiṭṭhānavaṭṭakathā

4.4. Kisah Siklus Pandangan dan Penetapan

4.4. Dependent Origination

dn1:3.71.1

Tatra, bhikkhave, ye te samaṇabrāhmaṇā sassatavādā sassataṁ attānañca lokañca paññapenti catūhi vatthūhi, yepi te samaṇabrāhmaṇā ekaccasassatikā ekaccaasassatikā …pe…

Di sini, para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganut paham keabadian, yang mengajarkan bahwa diri dan dunia adalah abadi berdasarkan empat hal; juga para petapa dan brahmana yang menganut paham sebagian abadi dan sebagian tidak abadi …

dn1:3.71.2

yepi te samaṇabrāhmaṇā antānantikā …

juga para petapa dan brahmana yang menganut paham terbatas dan tidak terbatas …

dn1:3.71.3

yepi te samaṇabrāhmaṇā amarāvikkhepikā …

juga para petapa dan brahmana yang menganut paham amarāvikkhepika (penghindar pertanyaan) …

dn1:3.71.4

yepi te samaṇabrāhmaṇā adhiccasamuppannikā …

juga para petapa dan brahmana yang menganut paham adhiccasamuppannika (muncul kebetulan) …

dn1:3.71.5

yepi te samaṇabrāhmaṇā pubbantakappikā …

juga para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa lampau …

dn1:3.71.6

yepi te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā saññīvādā …

juga para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa depan, yang menganut paham diri yang memiliki persepsi …

dn1:3.71.7

yepi te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā asaññīvādā …

juga para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa depan, yang menganut paham diri tanpa persepsi …

dn1:3.71.8

yepi te samaṇabrāhmaṇā uddhamāghātanikā nevasaññīnāsaññīvādā …

juga para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa depan, yang menganut paham diri tanpa persepsi maupun tanpa tanpa persepsi …

dn1:3.71.9

yepi te samaṇabrāhmaṇā ucchedavādā …

juga para petapa dan brahmana yang menganut paham pemusnahan …

dn1:3.71.10

yepi te samaṇabrāhmaṇā diṭṭhadhammanibbānavādā …

Demikian pula para petapa dan brahmana yang menganut ajaran tentang Nibbāna dalam kehidupan ini …

dn1:3.71.11

yepi te samaṇabrāhmaṇā aparantakappikā …

Demikian pula para petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa depan …

dn1:3.71.12

yepi te samaṇabrāhmaṇā pubbantakappikā ca aparantakappikā ca pubbantāparantakappikā ca pubbantāparantānudiṭṭhino pubbantāparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti dvāsaṭṭhiyā vatthūhi, sabbe te chahi phassāyatanehi phussa phussa paṭisaṁvedenti tesaṁ vedanāpaccayā taṇhā, taṇhāpaccayā upādānaṁ, upādānapaccayā bhavo, bhavapaccayā jāti, jātipaccayā jarāmaraṇaṁ sokaparidevadukkhadomanassupāyāsā sambhavanti.

Dan semua petapa dan brahmana yang berspekulasi tentang masa lampau dan masa depan, yang menganut pandangan tentang masa lampau dan masa depan, yang mengemukakan berbagai macam pernyataan keyakinan mengenai masa lampau dan masa depan berdasarkan enam puluh dua landasan ini—mereka semua mengalami hal ini melalui kontak berulang-ulang pada enam bidang kontak. Perasaan mereka menjadi kondisi bagi ketagihan; ketagihan menjadi kondisi bagi kemelekatan; kemelekatan menjadi kondisi bagi kelangsungan; kelangsungan menjadi kondisi bagi kelahiran; kelahiran menjadi kondisi bagi penuaan dan kematian, duka, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputusasaan untuk muncul.

Now, when those ascetics and brahmins speculate and theorize about the first beginning and the final end on these sixty-two grounds, all of them experience this by repeated contact through the six fields of contact. Their feeling is a condition for craving. Craving is a condition for grasping. Grasping is a condition for continued existence. Continued existence is a condition for rebirth. Rebirth is a condition for old age and death, sorrow, lamentation, pain, sadness, and distress to come to be.

dn1:3.72.0

5. Vivaṭṭakathādi

5. Uraian tentang Pelepasan

5. The End of the Round

dn1:3.72.1

Yato kho, bhikkhave, bhikkhu channaṁ phassāyatanānaṁ samudayañca atthaṅgamañca assādañca ādīnavañca nissaraṇañca yathābhūtaṁ pajānāti, ayaṁ imehi sabbeheva uttaritaraṁ pajānāti.

Ketika, para bhikkhu, seorang bhikkhu memahami sebagaimana adanya kemunculan, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan keluar dari enam bidang kontak, maka ia memahami apa yang melampaui semua hal ini.

When a mendicant truly understands the six fields of contact’s origin, disappearance, gratification, drawback, and escape, they understand what lies beyond all these things.

dn1:3.72.2

Ye hi keci, bhikkhave, samaṇā vā brāhmaṇā vā pubbantakappikā vā aparantakappikā vā pubbantāparantakappikā vā pubbantāparantānudiṭṭhino pubbantāparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti, sabbe te imeheva dvāsaṭṭhiyā vatthūhi antojālīkatā, ettha sitāva ummujjamānā ummujjanti, ettha pariyāpannā antojālīkatāva ummujjamānā ummujjanti.

Para bhikkhu, para petapa atau brahmana mana pun, baik yang berspekulasi tentang masa lampau, masa depan, atau keduanya, yang menganut pandangan tentang masa lampau dan masa depan, dan mengemukakan berbagai macam pernyataan keyakinan sehubungan dengan masa lampau dan masa depan, semuanya terjaring dalam enam puluh dua landasan ini. Ke mana pun mereka muncul, mereka terperangkap dan terjaring di sini juga.

All of these ascetics and brahmins who speculate and theorize about the first beginning or the final end are trapped in the net of these sixty-two grounds, so that wherever they emerge they are caught and trapped in this very net.

dn1:3.72.3

Seyyathāpi, bhikkhave, dakkho kevaṭṭo vā kevaṭṭantevāsī vā sukhumacchikena jālena parittaṁ udakadahaṁ otthareyya. Tassa evamassa: ‘ye kho keci imasmiṁ udakadahe oḷārikā pāṇā, sabbe te antojālīkatā. Ettha sitāva ummujjamānā ummujjanti; ettha pariyāpannā antojālīkatāva ummujjamānā ummujjantī’ti;

Misalkan, para bhikkhu, seorang nelayan yang cakap atau murid nelayan yang cakap menebarkan jaring bermata halus ke sebuah kolam kecil. Ia akan berpikir: ‘Makhluk-makhluk besar apa pun yang ada di kolam ini akan terjaring. Ke mana pun mereka muncul, mereka terperangkap dan terjaring di sini juga.’

Suppose a deft fisherman or his apprentice were to cast a fine-meshed net over a small pond. They’d think: ‘Any sizable creatures in this pond will be trapped in the net. Wherever they emerge they are caught and trapped in this very net.’

dn1:3.72.4

evameva kho, bhikkhave, ye hi keci samaṇā vā brāhmaṇā vā pubbantakappikā vā aparantakappikā vā pubbantāparantakappikā vā pubbantāparantānudiṭṭhino pubbantāparantaṁ ārabbha anekavihitāni adhimuttipadāni abhivadanti, sabbe te imeheva dvāsaṭṭhiyā vatthūhi antojālīkatā ettha sitāva ummujjamānā ummujjanti, ettha pariyāpannā antojālīkatāva ummujjamānā ummujjanti.

Demikian pula, para bhikkhu, para petapa atau brahmana mana pun, baik yang berspekulasi tentang masa lampau, masa depan, atau keduanya, yang menganut pandangan tentang masa lampau dan masa depan, dan mengemukakan berbagai macam pernyataan keyakinan sehubungan dengan masa lampau dan masa depan, semuanya terjaring dalam enam puluh dua landasan ini. Ke mana pun mereka muncul, mereka terperangkap dan terjaring di sini juga.

In the same way, all of these ascetics and brahmins who speculate and theorize about the first beginning or the final end are trapped in the net of these sixty-two grounds, so that wherever they emerge they are caught and trapped in this very net.

dn1:3.73.1

Ucchinnabhavanettiko, bhikkhave, tathāgatassa kāyo tiṭṭhati.

Para bhikkhu, tubuh Sang Tathāgata tetap ada, tetapi tali pengikatnya pada kelahiran kembali telah terputus.

The Realized One’s body remains, but his leash to existence has been cut off.

dn1:3.73.2

Yāvassa kāyo ṭhassati, tāva naṁ dakkhanti devamanussā.

Selama tubuhnya masih ada, selama itu pula ia akan terlihat oleh para dewa dan manusia.

As long as his body remains he will be seen by gods and humans.

dn1:3.73.3

Kāyassa bhedā uddhaṁ jīvitapariyādānā na naṁ dakkhanti devamanussā.

Akan tetapi, setelah hancurnya jasmani, setelah berakhirnya kehidupan, para dewa dan manusia tidak akan melihatnya lagi.

But when his body breaks up, after life has ended, gods and humans will see him no more.

dn1:3.73.4

Seyyathāpi, bhikkhave, ambapiṇḍiyā vaṇṭacchinnāya yāni kānici ambāni vaṇṭapaṭibandhāni, sabbāni tāni tadanvayāni bhavanti;

Bagaikan, para bhikkhu, seikat mangga yang tangkainya terpotong, mangga apa pun yang masih menempel pada tangkai itu, semuanya akan mengikuti ke mana tangkai itu pergi;

When the stalk of a bunch of mangoes is cut, all the mangoes attached to the stalk will follow along.

dn1:3.73.5

evameva kho, bhikkhave, ucchinnabhavanettiko tathāgatassa kāyo tiṭṭhati,

demikian pula, para bhikkhu, tubuh Tathāgata tetap berdiri, tetapi ikatan kelahiran kembali telah terputus;

In the same way, the Realized One’s body remains, but his leash to existence has been cut off.

dn1:3.73.6

yāvassa kāyo ṭhassati, tāva naṁ dakkhanti devamanussā,

selama tubuhnya masih berdiri, selama itu pula para dewa dan manusia akan melihatnya;

As long as his body remains he will be seen by gods and humans.

dn1:3.73.7

kāyassa bhedā uddhaṁ jīvitapariyādānā na naṁ dakkhanti devamanussā”ti.

tetapi setelah hancurnya jasmani, setelah berakhirnya kehidupan, para dewa dan manusia tidak akan melihatnya lagi."

But when his body breaks up, after life has ended, gods and humans will see him no more.”

dn1:3.74.1

Evaṁ vutte, āyasmā ānando bhagavantaṁ etadavoca:

Setelah hal itu dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Bhagavā:

When he had spoken, Venerable Ānanda said to the Buddha,

dn1:3.74.2

“acchariyaṁ, bhante, abbhutaṁ, bhante, ko nāmo ayaṁ, bhante, dhammapariyāyo”ti?

"Sungguh menakjubkan, Bhante, sungguh luar biasa, Bhante. Apakah nama dari uraian Dhamma ini, Bhante?"

“It’s incredible, sir, it’s amazing! What is the name of this exposition of the teaching?”

dn1:3.74.3

“Tasmātiha tvaṁ, ānanda, imaṁ dhammapariyāyaṁ atthajālantipi naṁ dhārehi, dhammajālantipi naṁ dhārehi, brahmajālantipi naṁ dhārehi, diṭṭhijālantipi naṁ dhārehi, anuttaro saṅgāmavijayotipi naṁ dhārehī”ti.

"Maka dari itu, Ānanda, engkau boleh mengingat uraian Dhamma ini sebagai 'Jaring Makna', atau juga engkau boleh mengingatnya sebagai 'Jaring Dhamma', atau juga sebagai 'Jaring Brahmā', atau juga sebagai 'Jaring Pandangan', atau juga sebagai 'Kemenangan Tertinggi dalam Pertempuran'."

“Well then, Ānanda, you may remember this exposition of the teaching as ‘The Net of Meaning’, or else ‘The Net of the Teaching’, or else ‘The Divine Net’, or else ‘The Net of Views’, or else ‘The Supreme Victory in Battle’.”

dn1:3.74.4

Idamavoca bhagavā.

Demikianlah Bhagavā bersabda.

That is what the Buddha said.

dn1:3.74.5

Attamanā te bhikkhū bhagavato bhāsitaṁ abhinandunti.

Dengan gembira, para bhikkhu itu menyambut baik apa yang telah disabdakan oleh Bhagavā.

Satisfied, the mendicants approved what the Buddha said.

dn1:3.74.6

Imasmiñca pana veyyākaraṇasmiṁ bhaññamāne dasasahassī lokadhātu akampitthāti.

Dan ketika khotbah ini sedang disampaikan, alam semesta yang sepuluh ribu lipat itu bergetar.

And while this discourse was being spoken, the ten-thousandfold galaxy shook.

dn1:3.74.7

Brahmajālasuttaṁ niṭṭhitaṁ paṭhamaṁ.

Selesailah Brahmajālasutta, yang pertama.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.