dn19:50.1 “Sace bhavaṁ govindo agārasmā anagāriyaṁ pabbajissati, mayampi agārasmā anagāriyaṁ pabbajissāma, atha yā te gati, sā no gati bhavissatī”ti.
Mahāgovindasutta
Sutta ini diawali dengan suasana surgawi yang penuh kegembiraan, lalu berubah menjadi sebuah kisah masa lampau yang epik. Mari kita simak bagaimana sebuah kisah tentang seorang penasihat agung pada zaman dahulu menjadi landasan untuk memahami keunikan ajaran Buddha.
Pañcasikha, seorang gandhabba, menceritakan kepada Buddha tentang pertemuan para dewa Tāvatiṁsa di Balai Sudhammā. Dalam pertemuan itu, Sakka memuji Buddha dengan delapan pujian sejati, dan Brahmā Sanaṅkumāra muncul untuk membenarkan pujian tersebut. Sanaṅkumāra kemudian menceritakan kisah kehidupan lampau Buddha sebagai brahmana Mahāgovinda, seorang penasihat agung yang meninggalkan keduniawian setelah menerima petunjuk dari Brahmā. Buddha mengakhiri kisah dengan menjelaskan bahwa jalan yang diajarkan-Nya saat ini, Jalan Mulia Berunsur Delapan, melampaui tujuan kelahiran di alam Brahmā dan menuntun menuju Nibbāna.
dn19:50.1 “Sace bhavaṁ govindo agārasmā anagāriyaṁ pabbajissati, mayampi agārasmā anagāriyaṁ pabbajissāma, atha yā te gati, sā no gati bhavissatī”ti.
dn19:50.2 “Sace jahatha kāmāni,
dn19:50.3 yattha satto puthujjano;
dn19:50.4 Ārambhavho daḷhā hotha,
dn19:50.5 khantībalasamāhitā.
dn19:50.6 Esa maggo ujumaggo,
dn19:50.7 esa maggo anuttaro;
dn19:50.8 Saddhammo sabbhi rakkhito,
dn19:50.9 brahmalokūpapattiyā”ti.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.