dn19:10.1 Juga, Sang Bhagavā telah memperoleh para sahabat, baik para siswa yang masih berlatih maupun para siswa yang telah melenyapkan kekotoran batin dan telah menyelesaikan perjalanan spiritual.
Mahāgovindasutta
Sutta ini diawali dengan suasana surgawi yang penuh kegembiraan, lalu berubah menjadi sebuah kisah masa lampau yang epik. Mari kita simak bagaimana sebuah kisah tentang seorang penasihat agung pada zaman dahulu menjadi landasan untuk memahami keunikan ajaran Buddha.
Pañcasikha, seorang gandhabba, menceritakan kepada Buddha tentang pertemuan para dewa Tāvatiṁsa di Balai Sudhammā. Dalam pertemuan itu, Sakka memuji Buddha dengan delapan pujian sejati, dan Brahmā Sanaṅkumāra muncul untuk membenarkan pujian tersebut. Sanaṅkumāra kemudian menceritakan kisah kehidupan lampau Buddha sebagai brahmana Mahāgovinda, seorang penasihat agung yang meninggalkan keduniawian setelah menerima petunjuk dari Brahmā. Buddha mengakhiri kisah dengan menjelaskan bahwa jalan yang diajarkan-Nya saat ini, Jalan Mulia Berunsur Delapan, melampaui tujuan kelahiran di alam Brahmā dan menuntun menuju Nibbāna.
dn19:10.1 Juga, Sang Bhagavā telah memperoleh para sahabat, baik para siswa yang masih berlatih maupun para siswa yang telah melenyapkan kekotoran batin dan telah menyelesaikan perjalanan spiritual.
dn19:10.2 Sang Bhagavā tidak mengusir mereka, melainkan berdiam dengan tekun dalam kegembiraan kesendirian.
dn19:10.3 Kami tidak melihat guru mana pun, baik di masa lampau maupun masa kini, yang begitu tekun dalam kegembiraan kesendirian, selain dari Sang Bhagavā itu.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.