Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 19
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini diawali dengan suasana surgawi yang penuh kegembiraan, lalu berubah menjadi sebuah kisah masa lampau yang epik. Mari kita simak bagaimana sebuah kisah tentang seorang penasihat agung pada zaman dahulu menjadi landasan untuk memahami keunikan ajaran Buddha.
Pañcasikha, seorang gandhabba, menceritakan kepada Buddha tentang pertemuan para dewa Tāvatiṁsa di Balai Sudhammā. Dalam pertemuan itu, Sakka memuji Buddha dengan delapan pujian sejati, dan Brahmā Sanaṅkumāra muncul untuk membenarkan pujian tersebut. Sanaṅkumāra kemudian menceritakan kisah kehidupan lampau Buddha sebagai brahmana Mahāgovinda, seorang penasihat agung yang meninggalkan keduniawian setelah menerima petunjuk dari Brahmā. Buddha mengakhiri kisah dengan menjelaskan bahwa jalan yang diajarkan-Nya saat ini, Jalan Mulia Berunsur Delapan, melampaui tujuan kelahiran di alam Brahmā dan menuntun menuju Nibbāna.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
dn19:55.1 “A fortnight is too long, sirs. I cannot wait that long.
dn19:55.2 Who knows what will happen to the living?
dn19:55.3 We are headed for lives to come. We must be thoughtful and wake up! We must do what’s good and lead the spiritual life, for no one born can escape death.
dn19:55.4 As I understand what the Divinity says about putrefaction, it’s not easy to quell while living at home.
dn19:55.5 I shall go forth from the lay life to homelessness.”
dn19:55.6 “Well then, sir, please wait for a week, so that we can instruct our sons and brothers in kingship. When a week has passed, we shall go forth. Your destiny shall be ours.”
dn19:55.7 “A week is not too long, sirs. I will wait that long.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.