Mahānidānasutta — Khotbah Agung tentang Sebab-Akibat
Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 15
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini adalah salah satu khotbah terpenting tentang hukum sebab-akibat dalam ajaran Buddha. Meskipun terasa teknis, cobalah untuk mengikuti alur penalarannya yang berlapis—dari yang tampak sederhana hingga yang sangat dalam. Anda akan diajak untuk melihat bagaimana segala sesuatu saling terkait dan bagaimana pandangan tentang 'diri' hanyalah konstruksi yang tidak berdasar.
Dalam Mahānidānasutta, Yang Mulia Ānanda mengungkapkan kekagumannya bahwa hukum kemunculan bergantungan tampak dangkal baginya, namun Sang Buddha menegaskan bahwa ajaran ini sangat dalam dan merupakan kunci untuk melampaui saṁsāra. Sang Buddha kemudian menguraikan secara terperinci rantai sebab-akibat dari usia tua dan kematian hingga kesadaran dan nama-dan-bentuk, saling bergantung satu sama lain. Setelah itu, Beliau membahas berbagai cara pandang tentang diri, tujuh landasan kesadaran, delapan pembebasan, dan memuncak pada penjelasan tentang dua jenis kebebasan tertinggi: kebebasan melalui kebijaksanaan dan kebebasan kedua cara.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
Perasaan menyenangkan, Ānanda, juga tidak kekal, terkondisi, muncul bergantung pada sebab, bersifat hancur, bersifat lenyap, bersifat surut, bersifat berhenti.
Pleasant feelings, painful feelings, and neutral feelings are all impermanent, conditioned, dependently originated, liable to end, vanish, fade away, and cease.
Demikian pula, Ānanda, perasaan yang menyakitkan adalah tidak kekal, terkondisi, muncul bergantung pada sebab, bersifat hancur, bersifat lenyap, bersifat surut, bersifat berhenti.
Demikian pula, Ānanda, perasaan yang netral—bukan menyakitkan maupun menyenangkan—adalah tidak kekal, terkondisi, muncul bergantung pada sebab, bersifat hancur, bersifat lenyap, bersifat surut, bersifat berhenti.
Iti so diṭṭheva dhamme aniccasukhadukkhavokiṇṇaṁ uppādavayadhammaṁ attānaṁ samanupassamāno samanupassati, yo so evamāha: ‘vedanā me attā’ti.
Demikianlah, dalam kehidupan ini juga, mereka yang berkata ‘perasaan adalah diriku’ memandang diri sebagai sesuatu yang nyata tidak kekal, bercampur suka dan duka, serta tunduk pada muncul dan lenyap.
So those who say ‘feeling is my self’ regard as self that which is evidently impermanent, mixed with pleasure and pain, and liable to rise and fall.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
DN 15 · Mahānidānasutta — Khotbah Agung tentang Sebab-Akibat | Tiga Keranjang