‹
DN 15

Mahānidānasutta

Mahānidānasutta — Khotbah Agung tentang Sebab-Akibat

Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

DN 15
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 15

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini adalah salah satu khotbah terpenting tentang hukum sebab-akibat dalam ajaran Buddha. Meskipun terasa teknis, cobalah untuk mengikuti alur penalarannya yang berlapis—dari yang tampak sederhana hingga yang sangat dalam. Anda akan diajak untuk melihat bagaimana segala sesuatu saling terkait dan bagaimana pandangan tentang 'diri' hanyalah konstruksi yang tidak berdasar.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Dalam Mahānidānasutta, Yang Mulia Ānanda mengungkapkan kekagumannya bahwa hukum kemunculan bergantungan tampak dangkal baginya, namun Sang Buddha menegaskan bahwa ajaran ini sangat dalam dan merupakan kunci untuk melampaui saṁsāra. Sang Buddha kemudian menguraikan secara terperinci rantai sebab-akibat dari usia tua dan kematian hingga kesadaran dan nama-dan-bentuk, saling bergantung satu sama lain. Setelah itu, Beliau membahas berbagai cara pandang tentang diri, tujuh landasan kesadaran, delapan pembebasan, dan memuncak pada penjelasan tentang dua jenis kebebasan tertinggi: kebebasan melalui kebijaksanaan dan kebebasan kedua cara.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
dn15:18.1

‘Taṇhaṁ paṭicca pariyesanā’ti iti kho panetaṁ vuttaṁ, tadānanda, imināpetaṁ pariyāyena veditabbaṁ, yathā taṇhaṁ paṭicca pariyesanā.

‘Nafsu keinginan menjadi landasan bagi pencarian’—demikianlah dikatakan. Dan, Ānanda, melalui cara ini pula hendaknya dipahami bagaimana nafsu keinginan menjadi landasan bagi pencarian.

‘Craving gives rise to searching’—that’s what I said. And this is a way to understand how this is so.

dn15:18.2

Taṇhā ca hi, ānanda, nābhavissa sabbena sabbaṁ sabbathā sabbaṁ kassaci kimhici, seyyathidaṁ—

Jika, Ānanda, sama sekali tidak ada nafsu keinginan bagi siapa pun di mana pun, yaitu—

Suppose there were totally and utterly no craving for anyone anywhere.

dn15:18.3

kāmataṇhā bhavataṇhā vibhavataṇhā, sabbaso taṇhāya asati taṇhānirodhā api nu kho pariyesanā paññāyethā”ti?

nafsu keinginan terhadap kenikmatan indria, nafsu keinginan terhadap kelangsungan hidup, dan nafsu keinginan terhadap pemusnahan, ketika tidak ada nafsu keinginan sama sekali, dengan lenyapnya nafsu keinginan, apakah pencarian masih akan tampak?”

That is, craving for sensual pleasures, craving for continued existence, and craving for nonexistence. When there’s no craving at all, with the cessation of craving, would searching still be found?”

dn15:18.4

“No hetaṁ, bhante”.

“Tidak, Bhante.”

“No, sir.”

dn15:18.5

“Tasmātihānanda, eseva hetu etaṁ nidānaṁ esa samudayo esa paccayo pariyesanāya, yadidaṁ taṇhā.

“Oleh karena itu, Ānanda, inilah sebabnya, inilah sumbernya, inilah asal-mulanya, inilah alasannya bagi pencarian, yaitu nafsu keinginan.”

“That’s why this is the cause, source, origin, and reason of searching, namely craving.

dn15:18.6

Iti kho, ānanda, ime dve dhammā dvayena vedanāya ekasamosaraṇā bhavanti.

Demikianlah, Ānanda, kedua hal ini bertemu dalam dua aspek perasaan.

And so, Ānanda, these two things meet at the two aspects of feeling.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.