‹
DN 14

Mahāpadānasutta

Mahāpadānasutta

Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

DN 14
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 14

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini adalah salah satu kisah terlengkap tentang kehidupan seorang Buddha sebelum Gotama. Saat membacanya, perhatikan bagaimana pola kehidupan Buddha Vipassī—dari kelahiran hingga pengajaran—menjadi cetak biru yang diulang oleh para Buddha lainnya, dan bagaimana Sang Buddha Gotama menegaskan bahwa pengetahuan-Nya tentang masa lampau adalah akurat.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Suatu sore, Sang Buddha mendengar para bhikkhu berbincang tentang kehidupan lampau. Beliau lalu membabarkan kisah tentang para Buddha masa lampau, dimulai dari Buddha Vipassī yang hidup sembilan puluh satu kappa lalu. Kisah ini terinci, meliputi kelahiran, masa muda, empat pertanda yang menggugah, pelepasan keduniawian, perjuangan mencapai pencerahan, hingga permohonan Brahmā agar mengajarkan Dhamma. Sutta ini juga menegaskan bahwa pengetahuan Sang Buddha tentang para Buddha lampau berasal dari penembusan langsung atas prinsip Dhamma dan juga dari informasi para dewa.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
dn14:2.1.0

5. Jiṇṇapurisa

5. Orang Tua

5. The Old Man

dn14:2.1.1

Atha kho, bhikkhave, vipassī kumāro bahūnaṁ vassānaṁ bahūnaṁ vassasatānaṁ bahūnaṁ vassasahassānaṁ accayena sārathiṁ āmantesi:

Kemudian, para bhikkhu, setelah berlalu bertahun-tahun, beratus-ratus tahun, beribu-ribu tahun, Pangeran Vipassī berkata kepada saisnya:

Then, after many years, many hundred years, many thousand years had passed, Prince Vipassī addressed his charioteer,

dn14:2.1.2

‘yojehi, samma sārathi, bhaddāni bhaddāni yānāni uyyānabhūmiṁ gacchāma subhūmidassanāyā’ti.

‘Sahabat sais, persiapkanlah kereta-kereta yang terbaik. Kita akan pergi ke taman untuk melihat pemandangan yang indah.’

‘My dear charioteer, harness the finest chariots. We will go to a park and see the scenery.’

dn14:2.1.3

‘Evaṁ, devā’ti kho, bhikkhave, sārathi vipassissa kumārassa paṭissutvā bhaddāni bhaddāni yānāni yojetvā vipassissa kumārassa paṭivedesi:

‘Baik, Tuanku,’ jawab sais itu kepada Pangeran Vipassī. Setelah mempersiapkan kereta-kereta yang terbaik, ia memberitahu Pangeran Vipassī:

‘Yes, sir,’ replied the charioteer. He harnessed the chariots and informed the prince,

dn14:2.1.4

‘yuttāni kho te, deva, bhaddāni bhaddāni yānāni,

‘Tuanku, kereta-kereta yang terbaik telah siap,

‘Your Majesty, the finest chariots are harnessed.

dn14:2.1.5

yassadāni kālaṁ maññasī’ti.

kini saatnya Tuanku berangkat sesuai kehendak.’

Please go at your convenience.’

dn14:2.1.6

Atha kho, bhikkhave, vipassī kumāro bhaddaṁ bhaddaṁ yānaṁ abhiruhitvā bhaddehi bhaddehi yānehi uyyānabhūmiṁ niyyāsi.

Kemudian, para bhikkhu, Pangeran Vipassī menaiki kereta yang indah dan, bersama dengan kereta-kereta indah lainnya, berangkat menuju taman.

Then Prince Vipassī mounted a fine carriage and, along with other fine carriages, set out for the park.

dn14:2.2.1

Addasā kho, bhikkhave, vipassī kumāro uyyānabhūmiṁ niyyanto purisaṁ jiṇṇaṁ gopānasivaṅkaṁ bhoggaṁ daṇḍaparāyanaṁ pavedhamānaṁ gacchantaṁ āturaṁ gatayobbanaṁ.

Dalam perjalanan ke taman, para bhikkhu, Pangeran Vipassī melihat seorang lelaki tua, bungkuk, bengkok, bertopang pada tongkat, berjalan gemetar, sakit, dan melewati masa mudanya.

Along the way he saw an elderly man, bent double, crooked, leaning on a staff, trembling as he walked, ailing, past his prime.

dn14:2.2.2

Disvā sārathiṁ āmantesi:

Setelah melihatnya, ia berkata kepada saisnya:

He addressed his charioteer,

dn14:2.2.3

‘ayaṁ pana, samma sārathi, puriso kiṅkato?

'Saisku yang baik, apakah yang telah terjadi pada lelaki itu?

‘My dear charioteer, what has that man done?

dn14:2.2.4

Kesāpissa na yathā aññesaṁ, kāyopissa na yathā aññesan’ti.

Rambutnya dan tubuhnya tidak seperti orang lain.'

For his hair and his body are unlike those of other men.’

dn14:2.2.5

‘Eso kho, deva, jiṇṇo nāmā’ti.

'Itu, Yang Mulia, disebut orang tua.'

‘That, Your Majesty, is called an old man.’

dn14:2.2.6

‘Kiṁ paneso, samma sārathi, jiṇṇo nāmā’ti?

'Tetapi mengapa ia disebut orang tua, saisku yang baik?'

‘But why is he called an old man?’

dn14:2.2.7

‘Eso kho, deva, jiṇṇo nāma. Na dāni tena ciraṁ jīvitabbaṁ bhavissatī’ti.

'Ia disebut orang tua, Yang Mulia, karena ia tidak akan hidup lama lagi.'

‘He’s called an old man because now he has not long to live.’

dn14:2.2.8

‘Kiṁ pana, samma sārathi, ahampi jarādhammo, jaraṁ anatīto’ti?

'Tetapi, saisku yang baik, apakah aku juga tunduk pada penuaan? Apakah aku tidak terbebas dari usia tua?'

‘But my dear charioteer, am I liable to grow old? Am I not exempt from old age?’

dn14:2.2.9

‘Tvañca, deva, mayañcamha sabbe jarādhammā, jaraṁ anatītā’ti.

'Anda, Yang Mulia, dan kami semua tunduk pada penuaan. Tidak ada yang terbebas dari usia tua.'

‘Everyone is liable to grow old, Your Majesty, including you. No one is exempt from old age.’

dn14:2.2.10

‘Tena hi, samma sārathi, alaṁ dānajja uyyānabhūmiyā. Itova antepuraṁ paccaniyyāhī’ti.

'Kalau begitu, saisku yang baik, cukuplah untuk hari ini pergi ke taman. Mari kita kembali ke istana.'

‘Well then, my dear charioteer, that’s enough of the park for today. Let’s return to the royal compound.’

dn14:2.2.11

‘Evaṁ, devā’ti kho, bhikkhave, sārathi vipassissa kumārassa paṭissutvā tatova antepuraṁ paccaniyyāsi.

'Baik, Yang Mulia,' jawab sais itu kepada Pangeran Vipassī, lalu kembali ke istana.

‘Yes, Your Majesty,’ replied the charioteer and did so.

dn14:2.2.12

Tatra sudaṁ, bhikkhave, vipassī kumāro antepuraṁ gato dukkhī dummano pajjhāyati:

Setibanya di istana, para bhikkhu, Pangeran Vipassī merenung, sedih dan murung:

Back at the royal compound, the prince brooded, miserable and sad:

dn14:2.2.13

‘dhiratthu kira, bho, jāti nāma, yatra hi nāma jātassa jarā paññāyissatī’ti.

'Celakalah kelahiran ini, karena bagi siapa pun yang dilahirkan, usia tua akan datang.'

‘Curse this thing called rebirth, since old age will come to anyone who’s born.’

dn14:2.3.1

Atha kho, bhikkhave, bandhumā rājā sārathiṁ āmantāpetvā etadavoca:

Kemudian, para bhikkhu, Raja Bandhumā memanggil sais itu dan berkata:

Then King Bandhumā summoned the charioteer and said,

dn14:2.3.2

‘kacci, samma sārathi, kumāro uyyānabhūmiyā abhiramittha? Kacci, samma sārathi, kumāro uyyānabhūmiyā attamano ahosī’ti?

'Saisku yang baik, apakah pangeran menikmati taman itu? Apakah pangeran senang di sana?'

‘My dear charioteer, I hope the prince enjoyed himself at the park? I hope he was happy there?’

dn14:2.3.3

‘Na kho, deva, kumāro uyyānabhūmiyā abhiramittha, na kho, deva, kumāro uyyānabhūmiyā attamano ahosī’ti.

'Tidak, Yang Mulia, pangeran tidak menikmati taman itu. Pangeran tidak senang di sana.'

‘No, Your Majesty, the prince didn’t enjoy himself at the park.’

dn14:2.3.4

‘Kiṁ pana, samma sārathi, addasa kumāro uyyānabhūmiṁ niyyanto’ti?

'Tetapi, saisku yang baik, apakah yang dilihat pangeran dalam perjalanan ke taman?'

‘But what did he see on the way to the park?’

dn14:2.3.5

‘Addasā kho, deva, kumāro uyyānabhūmiṁ niyyanto purisaṁ jiṇṇaṁ gopānasivaṅkaṁ bhoggaṁ daṇḍaparāyanaṁ pavedhamānaṁ gacchantaṁ āturaṁ gatayobbanaṁ.

Dan sais itu menceritakan kepada raja tentang melihat orang tua itu dan reaksi pangeran.

And the charioteer told the king about seeing the old man and the prince’s reaction.

dn14:2.3.6

Disvā maṁ etadavoca:

Setelah melihatku, ia berkata demikian:

dn14:2.3.7

“ayaṁ pana, samma sārathi, puriso kiṅkato, kesāpissa na yathā aññesaṁ, kāyopissa na yathā aññesan”ti?

"Tetapi, sahabatku sais, apakah yang terjadi pada orang ini, sehingga rambutnya tidak seperti rambut orang lain, dan tubuhnya pun tidak seperti tubuh orang lain?"

dn14:2.3.8

“Eso kho, deva, jiṇṇo nāmā”ti.

"Yang Mulia, orang ini disebut tua."

dn14:2.3.9

“Kiṁ paneso, samma sārathi, jiṇṇo nāmā”ti?

"Tetapi, sahabatku sais, apakah yang dimaksud dengan tua itu?"

dn14:2.3.10

“Eso kho, deva, jiṇṇo nāma na dāni tena ciraṁ jīvitabbaṁ bhavissatī”ti.

"Yang Mulia, orang yang disebut tua ini, tidak akan dapat hidup lama lagi."

dn14:2.3.11

“Kiṁ pana, samma sārathi, ahampi jarādhammo, jaraṁ anatīto”ti?

"Tetapi, sahabatku sais, apakah aku pun tunduk pada penuaan, belum melampaui penuaan?"

dn14:2.3.12

“Tvañca, deva, mayañcamha sabbe jarādhammā, jaraṁ anatītā”ti.

"Yang Mulia, baik Tuanku maupun kami semua, tunduk pada penuaan, belum melampaui penuaan."

dn14:2.3.13

“Tena hi, samma sārathi, alaṁ dānajja uyyānabhūmiyā, itova antepuraṁ paccaniyyāhī”ti.

"Kalau begitu, sahabatku sais, cukuplah untuk hari ini perjalanan ke taman. Bawalah aku kembali ke istana dari sini."

dn14:2.3.14

“Evaṁ, devā”ti kho ahaṁ, deva, vipassissa kumārassa paṭissutvā tatova antepuraṁ paccaniyyāsiṁ.

"Baik, Yang Mulia," sahutku, Yang Mulia, kepada Pangeran Vipassī, lalu aku membawanya kembali ke istana dari sana.

dn14:2.3.15

So kho, deva, kumāro antepuraṁ gato dukkhī dummano pajjhāyati:

Dan pangeran itu, Yang Mulia, setelah kembali ke istana, menjadi sedih, murung, dan merenung:

dn14:2.3.16

“dhiratthu kira, bho, jāti nāma, yatra hi nāma jātassa jarā paññāyissatī”’ti.

"Sungguh celaka, kelahiran ini, karena bagi yang telah dilahirkan, penuaan akan tampak."

dn14:2.4.0

6. Byādhitapurisa

6. Orang yang Sakit

6. The Sick Man

dn14:2.4.1

Atha kho, bhikkhave, bandhumassa rañño etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Raja Bandhumā berpikir:

Then King Bandhumā thought,

dn14:2.4.2

‘Mā heva kho vipassī kumāro na rajjaṁ kāresi, mā heva vipassī kumāro agārasmā anagāriyaṁ pabbaji, mā heva nemittānaṁ brāhmaṇānaṁ saccaṁ assa vacanan’ti.

"Jangan sampai Pangeran Vipassī tidak memerintah kerajaan, jangan sampai Pangeran Vipassī meninggalkan keduniawian menuju kehidupan tanpa rumah, dan jangan sampai perkataan para brahmana peramal itu menjadi kenyataan."

‘Prince Vipassī must not renounce the throne. He must not go forth from the lay life to homelessness. And the words of the brahmin soothsayers must not come true.’

dn14:2.4.3

Atha kho, bhikkhave, bandhumā rājā vipassissa kumārassa bhiyyoso mattāya pañca kāmaguṇāni upaṭṭhāpesi:

Kemudian, para bhikkhu, Raja Bandhumā menyediakan bagi Pangeran Vipassī lebih banyak lagi kenikmatan dari lima jenis keinginan indria:

To this end he provided the prince with even more of the five kinds of sensual stimulation,

dn14:2.4.4

‘yathā vipassī kumāro rajjaṁ kareyya, yathā vipassī kumāro na agārasmā anagāriyaṁ pabbajeyya, yathā nemittānaṁ brāhmaṇānaṁ micchā assa vacanan’ti.

"Agar Pangeran Vipassī memerintah kerajaan, agar Pangeran Vipassī tidak meninggalkan keduniawian menuju kehidupan tanpa rumah, dan agar perkataan para brahmana peramal itu menjadi salah."

dn14:2.4.5

Tatra sudaṁ, bhikkhave, vipassī kumāro pañcahi kāmaguṇehi samappito samaṅgībhūto paricāreti.

Pada saat itu, para bhikkhu, Pangeran Vipassī, yang dilengkapi dan dipenuhi dengan lima jenis keinginan indria, bersenang-senang dengannya.

with which the prince amused himself.

dn14:2.5.1

Atha kho, bhikkhave, vipassī kumāro bahūnaṁ vassānaṁ …pe…

Kemudian, para bhikkhu, setelah bertahun-tahun lamanya... (singkatnya) ... Pangeran Vipassī kembali menyuruh saisnya mengantarnya ke taman.

Then, after many thousand years had passed, Prince Vipassī had his charioteer drive him to the park once more.

dn14:2.6.1

Addasā kho, bhikkhave, vipassī kumāro uyyānabhūmiṁ niyyanto purisaṁ ābādhikaṁ dukkhitaṁ bāḷhagilānaṁ sake muttakarīse palipannaṁ semānaṁ aññehi vuṭṭhāpiyamānaṁ aññehi saṁvesiyamānaṁ.

Pangeran Vipassī, para bhikkhu, dalam perjalanan menuju taman, melihat seorang pria yang sakit, menderita, sakit parah, tergeletak di dalam kotoran dan air seninya sendiri, dibangunkan oleh sebagian orang dan dibaringkan oleh sebagian yang lain.

Along the way he saw a man who was sick, suffering, gravely ill, collapsed in his own urine and feces, being picked up by some and put down by others.

dn14:2.6.2

Disvā sārathiṁ āmantesi:

Setelah melihatnya, ia berkata kepada saisnya:

He addressed his charioteer,

dn14:2.6.3

‘ayaṁ pana, samma sārathi, puriso kiṅkato?

"Sahabatku sais, apakah yang telah dilakukan orang ini?"

‘My dear charioteer, what has that man done?

dn14:2.6.4

Akkhīnipissa na yathā aññesaṁ, saropissa na yathā aññesan’ti?

Matanya dan suaranya tidak seperti orang lain.’

For his eyes and his voice are unlike those of other men.’

dn14:2.6.5

‘Eso kho, deva, byādhito nāmā’ti.

‘Itu, Baginda, disebut orang sakit.’

‘That, Your Majesty, is called a sick man.’

dn14:2.6.6

‘Kiṁ paneso, samma sārathi, byādhito nāmā’ti?

‘Tetapi mengapa ia disebut orang sakit, sahabatku sais?’

‘But why is he called a sick man?’

dn14:2.6.7

‘Eso kho, deva, byādhito nāma appeva nāma tamhā ābādhā vuṭṭhaheyyā’ti.

‘Ia disebut orang sakit, Baginda; semoga ia sembuh dari penyakit itu.’

‘He’s called a sick man; hopefully he will recover from that illness.’

dn14:2.6.8

‘Kiṁ pana, samma sārathi, ahampi byādhidhammo, byādhiṁ anatīto’ti?

‘Tetapi, sahabatku sais, apakah aku pun tunduk pada sakit, belum terbebas dari sakit?’

‘But my dear charioteer, am I liable to fall sick? Am I not exempt from sickness?’

dn14:2.6.9

‘Tvañca, deva, mayañcamha sabbe byādhidhammā, byādhiṁ anatītā’ti.

‘Semua makhluk tunduk pada penyakit, Yang Mulia, termasuk Baginda. Tidak ada yang terbebas dari penyakit.’

‘Everyone is liable to fall sick, Your Majesty, including you. No one is exempt from sickness.’

dn14:2.6.10

‘Tena hi, samma sārathi, alaṁ dānajja uyyānabhūmiyā, itova antepuraṁ paccaniyyāhī’ti.

‘Kalau begitu, sahabatku kusir, cukuplah untuk hari ini perjalanan ke taman. Bawalah aku kembali ke istana.’

‘Well then, my dear charioteer, that’s enough of the park for today. Let’s return to the royal compound.’

dn14:2.6.11

‘Evaṁ, devā’ti kho, bhikkhave, sārathi vipassissa kumārassa paṭissutvā tatova antepuraṁ paccaniyyāsi.

‘Baik, Yang Mulia,’ jawab kusir Pangeran Vipassī, lalu segera membawanya kembali ke istana.

‘Yes, Your Majesty,’ replied the charioteer and did so.

dn14:2.6.12

Tatra sudaṁ, bhikkhave, vipassī kumāro antepuraṁ gato dukkhī dummano pajjhāyati:

Setibanya di istana, para bhikkhu, Pangeran Vipassī merenung dalam kesedihan dan duka:

Back at the royal compound, the prince brooded, miserable and sad:

dn14:2.6.13

‘dhiratthu kira, bho, jāti nāma, yatra hi nāma jātassa jarā paññāyissati, byādhi paññāyissatī’ti.

‘Celakalah kelahiran ini, karena bagi siapa pun yang dilahirkan, penuaan akan tampak, penyakit akan tampak.’

‘Curse this thing called rebirth, since old age and sickness will come to anyone who’s born.’

dn14:2.7.1

Atha kho, bhikkhave, bandhumā rājā sārathiṁ āmantāpetvā etadavoca:

Kemudian, para bhikkhu, Raja Bandhumā memanggil kusir kereta dan berkata,

Then King Bandhumā summoned the charioteer and said,

dn14:2.7.2

‘kacci, samma sārathi, kumāro uyyānabhūmiyā abhiramittha, kacci, samma sārathi, kumāro uyyānabhūmiyā attamano ahosī’ti?

‘Wahai kusir yang baik, apakah pangeran senang di taman? Apakah pangeran merasa bahagia di sana?’

‘My dear charioteer, I hope the prince enjoyed himself at the park? I hope he was happy there?’

dn14:2.7.3

‘Na kho, deva, kumāro uyyānabhūmiyā abhiramittha, na kho, deva, kumāro uyyānabhūmiyā attamano ahosī’ti.

‘Tidak, Baginda, pangeran tidak senang di taman, pangeran tidak merasa bahagia di sana.’

‘No, Your Majesty, the prince didn’t enjoy himself at the park.’

dn14:2.7.4

‘Kiṁ pana, samma sārathi, addasa kumāro uyyānabhūmiṁ niyyanto’ti?

‘Tetapi apakah yang ia lihat, sahabat sais, ketika pangeran sedang dalam perjalanan menuju taman?’

‘But what did he see on the way to the park?’

dn14:2.7.5

‘Addasā kho, deva, kumāro uyyānabhūmiṁ niyyanto purisaṁ ābādhikaṁ dukkhitaṁ bāḷhagilānaṁ sake muttakarīse palipannaṁ semānaṁ aññehi vuṭṭhāpiyamānaṁ aññehi saṁvesiyamānaṁ.

Dan, Baginda, ketika Pangeran sedang dalam perjalanan menuju taman, ia melihat seorang pria yang sakit, menderita, dan sangat parah sakitnya, tergeletak dalam kotoran dan air seninya sendiri, dibangunkan oleh orang lain dan dibaringkan oleh orang lain.

And the charioteer told the king about seeing the sick man and the prince’s reaction.

dn14:2.7.6

Disvā maṁ etadavoca:

Setelah melihatnya, ia berkata kepadaku:

dn14:2.7.7

“ayaṁ pana, samma sārathi, puriso kiṅkato, akkhīnipissa na yathā aññesaṁ, saropissa na yathā aññesan”ti?

“Sahabat kusir, siapakah orang ini? Matanya tidak seperti mata orang lain, suaranya pun tidak seperti suara orang lain?”

dn14:2.7.8

“Eso kho, deva, byādhito nāmā”ti.

“Yang Mulia, orang ini disebut sakit.”

dn14:2.7.9

“Kiṁ paneso, samma sārathi, byādhito nāmā”ti?

“Sahabat kusir, apakah yang disebut sakit itu?”

dn14:2.7.10

“Eso kho, deva, byādhito nāma appeva nāma tamhā ābādhā vuṭṭhaheyyā”ti.

“Yang Mulia, orang yang disebut sakit ini, mudah-mudahan ia dapat sembuh dari penyakitnya.”

dn14:2.7.11

“Kiṁ pana, samma sārathi, ahampi byādhidhammo, byādhiṁ anatīto”ti?

“Tetapi, sahabat sais, bukankah aku pun tunduk pada penyakit, belum melampaui penyakit?”

dn14:2.7.12

“Tvañca, deva, mayañcamha sabbe byādhidhammā, byādhiṁ anatītā”ti.

“Baginda dan kami semua tunduk pada penyakit, belum melampaui penyakit.”

dn14:2.7.13

“Tena hi, samma sārathi, alaṁ dānajja uyyānabhūmiyā, itova antepuraṁ paccaniyyāhī”ti.

“Kalau begitu, sahabat sais, cukuplah untuk hari ini perjalanan ke taman. Bawalah aku kembali ke istana sekarang.”

dn14:2.7.14

“Evaṁ, devā”ti kho ahaṁ, deva, vipassissa kumārassa paṭissutvā tatova antepuraṁ paccaniyyāsiṁ.

“Baik, Baginda,” sahutku, Baginda, kepada Pangeran Vipassī, lalu aku membawanya kembali ke istana.

dn14:2.7.15

So kho, deva, kumāro antepuraṁ gato dukkhī dummano pajjhāyati:

Dan pangeran itu, Baginda, setelah kembali ke istana, menjadi sedih, murung, dan merenung:

dn14:2.7.16

“dhiratthu kira, bho, jāti nāma, yatra hi nāma jātassa jarā paññāyissati, byādhi paññāyissatī”’ti.

“Sungguh celaka, kelahiran ini, karena bagi yang telah dilahirkan, penuaan akan tampak, penyakit akan tampak.”

dn14:2.8.0

7. Kālaṅkatapurisa

7. Orang yang Telah Meninggal

7. The Dead Man

dn14:2.8.1

Atha kho, bhikkhave, bandhumassa rañño etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Raja Bandhumā berpikir:

Then King Bandhumā thought,

dn14:2.8.2

‘mā heva kho vipassī kumāro na rajjaṁ kāresi, mā heva vipassī kumāro agārasmā anagāriyaṁ pabbaji, mā heva nemittānaṁ brāhmaṇānaṁ saccaṁ assa vacanan’ti.

“Jangan sampai Pangeran Vipassī tidak memerintah kerajaan, jangan sampai Pangeran Vipassī meninggalkan keduniawian menuju kehidupan tanpa rumah, dan jangan sampai perkataan para brahmana peramal menjadi kenyataan.”

‘Prince Vipassī must not renounce the throne. He must not go forth from the lay life to homelessness. And the words of the brahmin soothsayers must not come true.’

dn14:2.8.3

Atha kho, bhikkhave, bandhumā rājā vipassissa kumārassa bhiyyoso mattāya pañca kāmaguṇāni upaṭṭhāpesi:

Kemudian, para bhikkhu, Raja Bandhumā menyediakan bagi Pangeran Vipassī lebih banyak lagi kenikmatan indria yang lima macam:

To this end he provided the prince with even more of the five kinds of sensual stimulation,

dn14:2.8.4

‘yathā vipassī kumāro rajjaṁ kareyya, yathā vipassī kumāro na agārasmā anagāriyaṁ pabbajeyya, yathā nemittānaṁ brāhmaṇānaṁ micchā assa vacanan’ti.

‘seandainya Pangeran Vipassī memerintah kerajaan, seandainya Pangeran Vipassī tidak meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, maka perkataan para brahmana ahli ramal itu adalah keliru.’

dn14:2.9.1

Tatra sudaṁ, bhikkhave, vipassī kumāro pañcahi kāmaguṇehi samappito samaṅgībhūto paricāreti.

Pada saat itu, para bhikkhu, Pangeran Vipassī menikmati hiburan dengan dilengkapi dan dipenuhi oleh lima jenis kenikmatan indria.

with which the prince amused himself.

dn14:2.9.2

Atha kho, bhikkhave, vipassī kumāro bahūnaṁ vassānaṁ …pe…

Kemudian, para bhikkhu, setelah bertahun-tahun …pe…

Then, after many thousand years had passed, Prince Vipassī had his charioteer drive him to the park once more.

dn14:2.10.1

Addasā kho, bhikkhave, vipassī kumāro uyyānabhūmiṁ niyyanto mahājanakāyaṁ sannipatitaṁ nānārattānañca dussānaṁ vilātaṁ kayiramānaṁ.

Maka Pangeran Vipassī, para bhikkhu, ketika dalam perjalanan menuju taman, melihat sekumpulan besar orang berkumpul sedang membuat usungan dari kain-kain berbagai warna.

Along the way he saw a large crowd gathered making a bier out of garments of different colors.

dn14:2.10.2

Disvā sārathiṁ āmantesi:

Setelah melihatnya, ia berkata kepada saisnya:

He addressed his charioteer,

dn14:2.10.3

‘kiṁ nu kho so, samma sārathi, mahājanakāyo sannipatito nānārattānañca dussānaṁ vilātaṁ kayiratī’ti?

‘Sahabat kusir, mengapa orang banyak itu berkumpul dan membuat usungan dari kain berbagai warna?’

‘My dear charioteer, why is that crowd making a bier?’

dn14:2.10.4

‘Eso kho, deva, kālaṅkato nāmā’ti.

‘Itu, Baginda, untuk seseorang yang telah meninggal dunia.’

‘That, Your Majesty, is for someone who’s departed.’

dn14:2.10.5

‘Tena hi, samma sārathi, yena so kālaṅkato tena rathaṁ pesehī’ti.

‘Kalau begitu, sahabat kusir, bawalah kereta menuju orang yang telah meninggal itu.’

‘Well then, drive the chariot up to the departed.’

dn14:2.10.6

‘Evaṁ, devā’ti kho, bhikkhave, sārathi vipassissa kumārassa paṭissutvā yena so kālaṅkato tena rathaṁ pesesi.

“Baiklah, Baginda,” jawab sais itu, para bhikkhu, setelah mendengar perkataan Pangeran Vipassī, ia pun mengarahkan kereta menuju tempat orang yang telah meninggal itu.

‘Yes, Your Majesty,’ replied the charioteer, and did so.

dn14:2.10.7

Addasā kho, bhikkhave, vipassī kumāro petaṁ kālaṅkataṁ, disvā sārathiṁ āmantesi:

Kemudian, para bhikkhu, Pangeran Vipassī melihat mayat orang yang telah meninggal itu. Setelah melihatnya, ia berkata kepada saisnya:

When the prince saw the corpse of the departed, he addressed the charioteer,

dn14:2.10.8

‘kiṁ panāyaṁ, samma sārathi, kālaṅkato nāmā’ti?

‘Tetapi mengapa, sahabat sais, ia disebut telah meninggal dunia?’

‘But why is he called departed?’

dn14:2.10.9

‘Eso kho, deva, kālaṅkato nāma. Na dāni taṁ dakkhanti mātā vā pitā vā aññe vā ñātisālohitā, sopi na dakkhissati mātaraṁ vā pitaraṁ vā aññe vā ñātisālohite’ti.

‘Ia disebut telah meninggal dunia, Baginda, karena kini ibu dan ayahnya, sanak saudara dan kerabatnya tidak akan melihatnya lagi, dan ia pun tidak akan melihat lagi ibu dan ayahnya, sanak saudara dan kerabatnya.’

‘He’s called departed because now his mother and father, his relatives and kin shall see him no more, and he shall never again see them.’

dn14:2.10.10

‘Kiṁ pana, samma sārathi, ahampi maraṇadhammo maraṇaṁ anatīto;

‘Tetapi, sahabat sais, apakah aku pun tunduk pada kematian, belum melampaui kematian?

‘But my dear charioteer, am I liable to die? Am I not exempt from death?

dn14:2.10.11

mampi na dakkhanti devo vā devī vā aññe vā ñātisālohitā;

Apakah raja dan ratu serta sanak saudara dan kerabatku yang lain tidak akan melihatku lagi?

Will the king and queen and my other relatives and kin see me no more?

dn14:2.10.12

ahampi na dakkhissāmi devaṁ vā deviṁ vā aññe vā ñātisālohite’ti?

Dan apakah aku tidak akan pernah lagi melihat mereka?”

And shall I never again see them?’

dn14:2.10.13

‘Tvañca, deva, mayañcamha sabbe maraṇadhammā maraṇaṁ anatītā;

‘Baginda, kami semua—termasuk Baginda—tunduk pada kematian dan tak seorang pun dapat melampaui kematian.

‘Everyone is liable to die, Your Majesty, including you. No one is exempt from death.

dn14:2.10.14

tampi na dakkhanti devo vā devī vā aññe vā ñātisālohitā;

Raja, permaisuri, serta sanak saudara lainnya tidak akan dapat melihat Baginda lagi,

The king and queen and your other relatives and kin shall see you no more,

dn14:2.10.15

tvampi na dakkhissasi devaṁ vā deviṁ vā aññe vā ñātisālohite’ti.

dan Baginda pun tidak akan dapat melihat mereka lagi.’

and you shall never again see them.’

dn14:2.10.16

‘Tena hi, samma sārathi, alaṁ dānajja uyyānabhūmiyā, itova antepuraṁ paccaniyyāhī’ti.

‘Kalau begitu, sahabatku sais, cukuplah untuk hari ini kita ke taman. Bawalah aku kembali ke istana.’

‘Well then, my dear charioteer, that’s enough of the park for today. Let’s return to the royal compound.’

dn14:2.10.17

‘Evaṁ, devā’ti kho, bhikkhave, sārathi vipassissa kumārassa paṭissutvā tatova antepuraṁ paccaniyyāsi.

‘Baik, Baginda,’ jawab sais Pangeran Vipassī, lalu ia membawa Pangeran kembali ke istana.

‘Yes, Your Majesty,’ replied the charioteer and did so.

dn14:2.10.18

Tatra sudaṁ, bhikkhave, vipassī kumāro antepuraṁ gato dukkhī dummano pajjhāyati:

Para bhikkhu, ketika Pangeran Vipassī kembali ke istana, ia merenung dengan sedih dan pilu:

Back at the royal compound, the prince brooded, miserable and sad:

dn14:2.10.19

‘dhiratthu kira, bho, jāti nāma, yatra hi nāma jātassa jarā paññāyissati, byādhi paññāyissati, maraṇaṁ paññāyissatī’ti.

‘Celakalah kelahiran ini, karena siapa pun yang dilahirkan pasti akan mengalami penuaan, penyakit, dan kematian.’

‘Curse this thing called rebirth, since old age, sickness, and death will come to anyone who’s born.’

dn14:2.11.1

Atha kho, bhikkhave, bandhumā rājā sārathiṁ āmantāpetvā etadavoca:

Kemudian, para bhikkhu, Raja Bandhumā memanggil kusir kereta dan berkata,

Then King Bandhumā summoned the charioteer and said,

dn14:2.11.2

‘kacci, samma sārathi, kumāro uyyānabhūmiyā abhiramittha, kacci, samma sārathi, kumāro uyyānabhūmiyā attamano ahosī’ti?

‘Sahabatku kusir, apakah pangeran menikmati perjalanannya ke taman? Apakah ia merasa senang di sana?’

‘My dear charioteer, I hope the prince enjoyed himself at the park? I hope he was happy there?’

dn14:2.11.3

‘Na kho, deva, kumāro uyyānabhūmiyā abhiramittha, na kho, deva, kumāro uyyānabhūmiyā attamano ahosī’ti.

‘Tidak, Baginda, pangeran tidak menikmati perjalanannya ke taman. Ia tidak merasa senang di sana.’

‘No, Your Majesty, the prince didn’t enjoy himself at the park.’

dn14:2.11.4

‘Kiṁ pana, samma sārathi, addasa kumāro uyyānabhūmiṁ niyyanto’ti?

‘Lalu, sahabatku kusir, apakah yang ia lihat dalam perjalanan ke taman?’

‘But what did he see on the way to the park?’

dn14:2.11.5

‘Addasā kho, deva, kumāro uyyānabhūmiṁ niyyanto mahājanakāyaṁ sannipatitaṁ nānārattānañca dussānaṁ vilātaṁ kayiramānaṁ.

Kusir itu pun menceritakan kepada raja tentang orang mati yang dilihatnya dan reaksi pangeran.

And the charioteer told the king about seeing the dead man and the prince’s reaction.

dn14:2.11.6

Disvā maṁ etadavoca:

Setelah melihatnya, ia berkata kepadaku:

dn14:2.11.7

“kiṁ nu kho so, samma sārathi, mahājanakāyo sannipatito nānārattānañca dussānaṁ vilātaṁ kayiratī”ti?

‘Sahabatku kusir, mengapa orang banyak ini berkumpul dengan berbagai kain yang dihamparkan?’

dn14:2.11.8

“Eso kho, deva, kālaṅkato nāmā”ti.

‘Yang Mulia, itu adalah orang yang telah meninggal dunia.’

dn14:2.11.9

“Tena hi, samma sārathi, yena so kālaṅkato tena rathaṁ pesehī”ti.

“Kalau begitu, sahabat kusir, bawalah kereta ke tempat orang itu meninggal.”

dn14:2.11.10

“Evaṁ, devā”ti kho ahaṁ, deva, vipassissa kumārassa paṭissutvā yena so kālaṅkato tena rathaṁ pesesiṁ.

“Baik, Baginda,” jawabku, Baginda, setelah menyanggupi Pangeran Vipassī, aku membawa kereta ke tempat orang itu meninggal.

dn14:2.11.11

Addasā kho, deva, kumāro petaṁ kālaṅkataṁ, disvā maṁ etadavoca:

Pangeran itu, Baginda, melihat mayat orang yang telah meninggal itu; setelah melihatnya, ia berkata kepadaku:

dn14:2.11.12

“kiṁ panāyaṁ, samma sārathi, kālaṅkato nāmā”ti?

“Sahabat kusir, apakah yang disebut meninggal ini?”

dn14:2.11.13

“Eso kho, deva, kālaṅkato nāma.

“Inilah, Baginda, yang disebut meninggal.

dn14:2.11.14

Na dāni taṁ dakkhanti mātā vā pitā vā aññe vā ñātisālohitā, sopi na dakkhissati mātaraṁ vā pitaraṁ vā aññe vā ñātisālohite”ti.

Sekarang ibu atau ayahnya atau sanak saudara lainnya tidak akan melihatnya lagi, dan ia pun tidak akan melihat ibu atau ayahnya atau sanak saudara lainnya lagi.”

dn14:2.11.15

“Kiṁ pana, samma sārathi, ahampi maraṇadhammo maraṇaṁ anatīto;

“Sahabat kusir, apakah aku pun tunduk pada kematian, belum melampaui kematian;

dn14:2.11.16

mampi na dakkhanti devo vā devī vā aññe vā ñātisālohitā;

apakah raja atau permaisuri atau sanak saudara lainnya tidak akan melihatku lagi;

dn14:2.11.17

ahampi na dakkhissāmi devaṁ vā deviṁ vā aññe vā ñātisālohite”ti?

dan aku pun tidak akan melihat raja atau permaisuri atau sanak saudara lainnya lagi?”

dn14:2.11.18

“Tvañca, deva, mayañcamha sabbe maraṇadhammā maraṇaṁ anatītā;

“Baginda, engkau dan kami semua tunduk pada kematian, belum melampaui kematian.”

dn14:2.11.19

tampi na dakkhanti devo vā devī vā aññe vā ñātisālohitā, tvampi na dakkhissasi devaṁ vā deviṁ vā aññe vā ñātisālohite”ti.

Mereka tidak akan melihatnya—baik dewa maupun dewi, atau sanak saudara lainnya. Engkau pun tidak akan melihat dewa atau dewi, ataupun sanak saudara lainnya.”

dn14:2.11.20

“Tena hi, samma sārathi, alaṁ dānajja uyyānabhūmiyā, itova antepuraṁ paccaniyyāhī”ti.

“Kalau begitu, sahabat kusir, cukuplah untuk hari ini perjalanan ke taman. Bawalah aku kembali ke istana sekarang.”

dn14:2.11.21

“Evaṁ, devā”ti kho ahaṁ, deva, vipassissa kumārassa paṭissutvā tatova antepuraṁ paccaniyyāsiṁ.

“Baik, Baginda,” sahutku, Baginda, setelah menerima perintah Pangeran Vipassī, aku pun membawanya kembali ke istana dari sana.

dn14:2.11.22

So kho, deva, kumāro antepuraṁ gato dukkhī dummano pajjhāyati:

Setelah tiba di istana, Baginda, pangeran itu bersedih, berduka, dan merenung:

dn14:2.11.23

“dhiratthu kira, bho, jāti nāma, yatra hi nāma jātassa jarā paññāyissati, byādhi paññāyissati, maraṇaṁ paññāyissatī”’ti.

“Sungguh celaka, kelahiran ini—karena bagi yang telah dilahirkan, penuaan akan tampak, penyakit akan tampak, dan kematian akan tampak.””

dn14:2.12.1

Atha kho, bhikkhave, bandhumassa rañño etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Raja Bandhumā berpikir,

Then King Bandhumā thought,

dn14:2.12.2

‘mā heva kho vipassī kumāro na rajjaṁ kāresi, mā heva vipassī kumāro agārasmā anagāriyaṁ pabbaji, mā heva nemittānaṁ brāhmaṇānaṁ saccaṁ assa vacanan’ti.

‘Jangan sampai Pangeran Vipassī tidak memerintah kerajaan, jangan sampai Pangeran Vipassī meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan jangan sampai perkataan para brahmana peramal itu menjadi kenyataan.’

‘Prince Vipassī must not renounce the throne. He must not go forth from the lay life to homelessness. And the words of the brahmin soothsayers must not come true.’

dn14:2.12.3

Atha kho, bhikkhave, bandhumā rājā vipassissa kumārassa bhiyyoso mattāya pañca kāmaguṇāni upaṭṭhāpesi:

Kemudian, para bhikkhu, Raja Bandhumā menyediakan bagi Pangeran Vipassī lebih banyak lagi kenikmatan indria yang lima macam,

To this end he provided the prince with even more of the five kinds of sensual stimulation,

dn14:2.12.4

‘yathā vipassī kumāro rajjaṁ kareyya, yathā vipassī kumāro na agārasmā anagāriyaṁ pabbajeyya, yathā nemittānaṁ brāhmaṇānaṁ micchā assa vacanan’ti.

‘agar Pangeran Vipassī dapat memerintah kerajaan, agar Pangeran Vipassī tidak meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan agar perkataan para brahmana peramal itu menjadi keliru.’

dn14:2.13.1

Tatra sudaṁ, bhikkhave, vipassī kumāro pañcahi kāmaguṇehi samappito samaṅgībhūto paricāreti.

Dengan demikian, para bhikkhu, Pangeran Vipassī bersenang-senang, diberkahi dan dilengkapi dengan lima jenis kenikmatan indria.

with which the prince amused himself.

dn14:2.13.2

Atha kho, bhikkhave, vipassī kumāro bahūnaṁ vassānaṁ bahūnaṁ vassasatānaṁ bahūnaṁ vassasahassānaṁ accayena sārathiṁ āmantesi:

Kemudian, para bhikkhu, setelah berlalunya bertahun-tahun, berabad-abad, dan beribu-ribu tahun, Pangeran Vipassī berkata kepada saisnya:

Then, after many thousand years had passed, Prince Vipassī had his charioteer drive him to the park once more.

dn14:2.13.3

‘yojehi, samma sārathi, bhaddāni bhaddāni yānāni, uyyānabhūmiṁ gacchāma subhūmidassanāyā’ti.

‘Siapkanlah, sahabat sais, kereta-kereta yang bagus, kita akan pergi ke taman untuk melihat pemandangan yang indah.’

dn14:2.13.4

‘Evaṁ, devā’ti kho, bhikkhave, sārathi vipassissa kumārassa paṭissutvā bhaddāni bhaddāni yānāni yojetvā vipassissa kumārassa paṭivedesi:

‘Baik, Tuanku,’ jawab sais itu kepada Pangeran Vipassī, lalu ia menyiapkan kereta-kereta yang bagus dan memberitahukan kepada Pangeran Vipassī:

dn14:2.13.5

‘yuttāni kho te, deva, bhaddāni bhaddāni yānāni,

‘Kereta-kereta yang bagus telah siap, Tuanku.’

dn14:2.13.6

yassadāni kālaṁ maññasī’ti.

Sekarang, pikirkanlah waktu yang tepat.’

dn14:2.13.7

Atha kho, bhikkhave, vipassī kumāro bhaddaṁ bhaddaṁ yānaṁ abhiruhitvā bhaddehi bhaddehi yānehi uyyānabhūmiṁ niyyāsi.

Kemudian, para bhikkhu, Pangeran Vipassī menaiki kereta yang paling baik, dan dengan kereta-kereta yang paling baik itu, ia berangkat menuju taman hiburan.

dn14:2.14.1

Addasā kho, bhikkhave, vipassī kumāro uyyānabhūmiṁ niyyanto purisaṁ bhaṇḍuṁ pabbajitaṁ kāsāyavasanaṁ.

Para bhikkhu, dalam perjalanan menuju taman hiburan, Pangeran Vipassī melihat seorang pria yang telah mencukur rambutnya, mengenakan jubah kuning, dan telah meninggalkan kehidupan rumah tangga.

Along the way he saw a man, a renunciate with shaven head, wearing an ocher robe.

dn14:2.14.2

Disvā sārathiṁ āmantesi:

Setelah melihatnya, ia berkata kepada saisnya:

He addressed his charioteer,

dn14:2.14.3

‘ayaṁ pana, samma sārathi, puriso kiṅkato?

‘Sais yang baik, apakah yang telah dilakukan oleh pria itu?

‘My dear charioteer, what has that man done?

dn14:2.14.4

Sīsampissa na yathā aññesaṁ, vatthānipissa na yathā aññesan’ti?

Kepala dan pakaiannya tidak seperti orang lain?”

For his head and his clothes are unlike those of other men.’

dn14:2.14.5

‘Eso kho, deva, pabbajito nāmā’ti.

“Itu, Baginda, disebut seorang pertapa.”

‘That, Your Majesty, is called a renunciate.’

dn14:2.14.6

‘Kiṁ paneso, samma sārathi, pabbajito nāmā’ti?

“Tetapi mengapa ia disebut pertapa, sahabat kusir?”

‘But why is he called a renunciate?’

dn14:2.14.7

‘Eso kho, deva, pabbajito nāma sādhu dhammacariyā sādhu samacariyā sādhu kusalakiriyā sādhu puññakiriyā sādhu avihiṁsā sādhu bhūtānukampā’ti.

“Ia disebut pertapa, Baginda, karena ia menjunjung tinggi perilaku yang baik dan adil, perbuatan terampil, perbuatan bajik, tidak menyakiti, dan welas asih terhadap makhluk hidup.”

‘He is called a renunciate because he celebrates principled and fair conduct, skillful actions, good deeds, harmlessness, and sympathy for living creatures.’

dn14:2.14.8

‘Sādhu kho so, samma sārathi, pabbajito nāma, sādhu dhammacariyā sādhu samacariyā sādhu kusalakiriyā sādhu puññakiriyā sādhu avihiṁsā sādhu bhūtānukampā.

“Baiklah, sahabat kusir, sungguh baik orang yang disebut pertapa itu, yang menjunjung tinggi perilaku yang baik dan adil, perbuatan terampil, perbuatan bajik, tidak menyakiti, dan welas asih terhadap makhluk hidup.

‘Then I celebrate the one called a renunciate, who celebrates principled and fair conduct, skillful actions, good deeds, harmlessness, and sympathy for living creatures!

dn14:2.14.9

Tena hi, samma sārathi, yena so pabbajito tena rathaṁ pesehī’ti.

Kalau begitu, sahabat kusir, arahkan kereta menuju tempat orang yang telah meninggalkan keduniawian itu.’

Well then, drive the chariot up to that renunciate.’

dn14:2.14.10

‘Evaṁ, devā’ti kho, bhikkhave, sārathi vipassissa kumārassa paṭissutvā yena so pabbajito tena rathaṁ pesesi.

‘Baiklah, Yang Mulia,’ jawab kusir Pangeran Vipassī, lalu ia mengarahkan kereta ke tempat orang yang telah meninggalkan keduniawian itu.

‘Yes, Your Majesty,’ replied the charioteer, and did so.

dn14:2.14.11

Atha kho, bhikkhave, vipassī kumāro taṁ pabbajitaṁ etadavoca:

Kemudian, para bhikkhu, Pangeran Vipassī berkata kepada orang yang telah meninggalkan keduniawian itu:

Then Prince Vipassī said to that renunciate,

dn14:2.14.12

‘tvaṁ pana, samma, kiṅkato,

‘Sahabat, apa yang telah engkau lakukan?

‘My dear, what have you done?

dn14:2.14.13

sīsampi te na yathā aññesaṁ, vatthānipi te na yathā aññesan’ti?

Kepalamu tidak seperti kepala orang lain, dan pakaianmu pun tidak seperti pakaian orang lain.’

For your head and your clothes are unlike those of other men.’

dn14:2.14.14

‘Ahaṁ kho, deva, pabbajito nāmā’ti.

‘Yang Mulia, aku ini disebut seorang pertapa.’

‘Your Majesty, I am what is called a renunciate.’

dn14:2.14.15

‘Kiṁ pana tvaṁ, samma, pabbajito nāmā’ti?

‘Tetapi mengapa engkau, sahabat, disebut seorang pertapa?’

‘But why are you called a renunciate?’

dn14:2.14.16

‘Ahaṁ kho, deva, pabbajito nāma, sādhu dhammacariyā sādhu samacariyā sādhu kusalakiriyā sādhu puññakiriyā sādhu avihiṁsā sādhu bhūtānukampā’ti.

‘Aku disebut pertapa, Yang Mulia, karena menjunjung tinggi perilaku yang selaras dengan Dhamma, perilaku yang selaras, perbuatan terampil, perbuatan baik, tidak menyakiti, dan belas kasih terhadap makhluk hidup.’

‘I am called a renunciate because I celebrate principled and fair conduct, skillful actions, good deeds, harmlessness, and sympathy for living creatures.’

dn14:2.14.17

‘Sādhu kho tvaṁ, samma, pabbajito nāma sādhu dhammacariyā sādhu samacariyā sādhu kusalakiriyā sādhu puññakiriyā sādhu avihiṁsā sādhu bhūtānukampā’ti.

‘Maka aku menjunjung tinggi orang yang disebut pertapa, yang menjunjung tinggi perilaku yang selaras dengan Dhamma, perilaku yang selaras, perbuatan terampil, perbuatan baik, tidak menyakiti, dan belas kasih terhadap makhluk hidup!’

‘Then I celebrate the one called a renunciate, who celebrates principled and fair conduct, skillful actions, good deeds, harmlessness, and sympathy for living creatures!’

dn14:2.15.0

9. Bodhisattapabbajjā

9. Pelepasan Keduniawian Bodhisatta

9. The Going Forth

dn14:2.15.1

Atha kho, bhikkhave, vipassī kumāro sārathiṁ āmantesi:

Kemudian, para bhikkhu, Pangeran Vipassī berkata kepada saisnya:

Then the prince addressed the charioteer,

dn14:2.15.2

‘tena hi, samma sārathi, rathaṁ ādāya itova antepuraṁ paccaniyyāhi.

‘Baiklah, saisku yang terkasih, bawalah kereta ini dan kembalilah ke istana.

‘Well then, my dear charioteer, take the chariot and return to the royal compound.

dn14:2.15.3

Ahaṁ pana idheva kesamassuṁ ohāretvā kāsāyāni vatthāni acchādetvā agārasmā anagāriyaṁ pabbajissāmī’ti.

Adapun aku, di sini juga akan mencukur rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’

I shall shave off my hair and beard right here, dress in ocher robes, and go forth from the lay life to homelessness.’

dn14:2.15.4

‘Evaṁ, devā’ti kho, bhikkhave, sārathi vipassissa kumārassa paṭissutvā rathaṁ ādāya tatova antepuraṁ paccaniyyāsi.

‘Baik, Yang Mulia,’ jawab sais itu kepada Pangeran Vipassī, lalu membawa kereta dan kembali ke istana.

‘Yes, Your Majesty,’ replied the charioteer and did so.

dn14:2.15.5

Vipassī pana kumāro tattheva kesamassuṁ ohāretvā kāsāyāni vatthāni acchādetvā agārasmā anagāriyaṁ pabbaji.

Adapun Pangeran Vipassī, di tempat itu juga mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

Then Prince Vipassī shaved off his hair and beard, dressed in ocher robes, and went forth from the lay life to homelessness.

dn14:2.16.0

10. Mahājanakāyaanupabbajjā

10. Sekelompok Besar Meninggalkan Keduniawian

10. A Great Crowd Goes Forth

dn14:2.16.1

Assosi kho, bhikkhave, bandhumatiyā rājadhāniyā mahājanakāyo caturāsītipāṇasahassāni:

Para bhikkhu, sekelompok besar yang terdiri dari delapan puluh empat ribu orang di ibu kota Bandhumatī mendengar,

A large crowd of 84,000 people in the capital of Bandhumatī heard

dn14:2.16.2

‘vipassī kira kumāro kesamassuṁ ohāretvā kāsāyāni vatthāni acchādetvā agārasmā anagāriyaṁ pabbajito’ti.

bahwa Pangeran Vipassī telah mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

that Vipassī had gone forth.

dn14:2.16.3

Sutvāna tesaṁ etadahosi:

Maka mereka berpikir,

It occurred to them,

dn14:2.16.4

‘na hi nūna so orako dhammavinayo, na sā orakā pabbajjā, yattha vipassī kumāro kesamassuṁ ohāretvā kāsāyāni vatthāni acchādetvā agārasmā anagāriyaṁ pabbajito.

‘Sungguh, ini bukanlah ajaran dan disiplin yang biasa, bukan pula kehidupan pertapaan yang biasa, yang di dalamnya Pangeran Vipassī telah meninggalkan keduniawian, mencukur rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning, dan pergi dari rumah menuju kehidupan tanpa rumah.

‘This must be no ordinary teaching and training, no ordinary going forth in which Prince Vipassī has gone forth.

dn14:2.16.5

Vipassīpi nāma kumāro kesamassuṁ ohāretvā kāsāyāni vatthāni acchādetvā agārasmā anagāriyaṁ pabbajissati, kimaṅgaṁ pana mayan’ti.

Jika Pangeran Vipassī saja pergi meninggalkan keduniawian, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama?

If even the prince goes forth, why don’t we do the same?’

dn14:2.16.6

Atha kho, so bhikkhave, mahājanakāyo caturāsītipāṇasahassāni kesamassuṁ ohāretvā kāsāyāni vatthāni acchādetvā vipassiṁ bodhisattaṁ agārasmā anagāriyaṁ pabbajitaṁ anupabbajiṁsu.

Kemudian, para bhikkhu, kumpulan besar yang terdiri dari 84.000 orang itu mencukur rambut dan janggut mereka, mengenakan jubah kuning, dan mengikuti Bodhisatta Vipassī yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

Then that great crowd of 84,000 people shaved off their hair and beard, dressed in ocher robes, and followed the one intent on awakening, Vipassī, by going forth from the lay life to homelessness.

dn14:2.16.7

Tāya sudaṁ, bhikkhave, parisāya parivuto vipassī bodhisatto gāmanigamajanapadarājadhānīsu cārikaṁ carati.

Dengan dikelilingi oleh kumpulan itu, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berkelana berkeliling mengunjungi desa-desa, kota-kota dagang, dan ibu kota kerajaan.

Escorted by that assembly, Vipassī wandered on tour among the villages, towns, and capital cities.

dn14:2.17.1

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa rahogatassa paṭisallīnassa evaṁ cetaso parivitakko udapādi:

Kemudian, para bhikkhu, ketika Bodhisatta Vipassī sedang berada dalam keheningan dan kesunyian, muncul dalam pikirannya perenungan ini:

Then as he was in private retreat this thought came to his mind,

dn14:2.17.2

‘na kho metaṁ patirūpaṁ yohaṁ ākiṇṇo viharāmi, yannūnāhaṁ eko gaṇamhā vūpakaṭṭho vihareyyan’ti.

'Sungguh tidaklah pantas bagiku untuk hidup di tengah keramaian. Alangkah baiknya jika aku hidup sendirian, menyendiri dari kumpulan orang banyak.'

‘It’s not appropriate for me to live in a crowd. Why don’t I live alone, withdrawn from the group?’

dn14:2.17.3

Atha kho, bhikkhave, vipassī bodhisatto aparena samayena eko gaṇamhā vūpakaṭṭho vihāsi, aññeneva tāni caturāsītipabbajitasahassāni agamaṁsu, aññena maggena vipassī bodhisatto.

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī pada waktu yang lain berdiam menyendiri, terasing dari kelompoknya. Delapan puluh empat ribu pengikutnya pergi melalui satu jalan, sementara Bodhisatta Vipassī pergi melalui jalan yang lain.

After some time he withdrew from the group to live alone. The 84,000 went one way, but Vipassī went another.

dn14:2.18.0

11. Bodhisattaabhinivesa

11. Pencapaian Bodhisatta

11. Vipassī’s Reflections

dn14:2.18.1

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa vāsūpagatassa rahogatassa paṭisallīnassa evaṁ cetaso parivitakko udapādi:

Kemudian, para bhikkhu, ketika Bodhisatta Vipassī sedang berdiam, menyendiri dalam keterasingan, muncullah dalam pikirannya perenungan ini:

Then as Vipassī, the one intent on awakening, was in private retreat in his dwelling, this thought came to his mind,

dn14:2.18.2

‘kicchaṁ vatāyaṁ loko āpanno, jāyati ca jīyati ca mīyati ca cavati ca upapajjati ca, atha ca panimassa dukkhassa nissaraṇaṁ nappajānāti jarāmaraṇassa,

‘Sungguh, dunia ini telah jatuh ke dalam kesulitan. Ia dilahirkan, menjadi tua, mati, meninggal dunia, dan terlahir kembali, namun ia tidak memahami jalan keluar dari penderitaan ini, dari usia tua dan kematian.

‘Alas, this world has fallen into trouble. It’s born, grows old, dies, passes away, and is reborn, yet it doesn’t understand how to escape from this suffering, from old age and death.

dn14:2.18.3

kudāssu nāma imassa dukkhassa nissaraṇaṁ paññāyissati jarāmaraṇassā’ti?

Oh, kapankah jalan keluar dari penderitaan ini, dari usia tua dan kematian, akan ditemukan?’

Oh, when will an escape be found from this suffering, from old age and death?’

dn14:2.18.4

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.18.5

‘kimhi nu kho sati jarāmaraṇaṁ hoti, kiṁpaccayā jarāmaraṇan’ti?

‘Ketika apakah yang ada, maka usia tua dan kematian muncul? Apakah syarat bagi usia tua dan kematian?’

‘When what exists is there old age and death? What is a requirement for old age and death?’

dn14:2.18.6

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui perhatian yang bijaksana, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.18.7

‘jātiyā kho sati jarāmaraṇaṁ hoti, jātipaccayā jarāmaraṇan’ti.

‘Ketika kelahiran ada, maka usia tua dan kematian muncul. Kelahiran adalah syarat bagi usia tua dan kematian.’

‘When rebirth exists there’s old age and death. Rebirth is a requirement for old age and death.’

dn14:2.18.8

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.18.9

‘kimhi nu kho sati jāti hoti, kiṁpaccayā jātī’ti?

‘Dengan adanya apakah kelahiran terjadi, dan apakah syarat bagi kelahiran?’

‘When what exists is there rebirth? What is a requirement for rebirth?’

dn14:2.18.10

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang cermat, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.18.11

‘bhave kho sati jāti hoti, bhavapaccayā jātī’ti.

‘Dengan adanya kelangsungan hidup, maka kelahiran terjadi; kelangsungan hidup adalah syarat bagi kelahiran.’

‘When continued existence exists there’s rebirth. Continued existence is a requirement for rebirth.’

dn14:2.18.12

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.18.13

‘kimhi nu kho sati bhavo hoti, kiṁpaccayā bhavo’ti?

‘Dengan adanya apakah kelangsungan hidup terjadi, dan apakah syarat bagi kelangsungan hidup?’

‘When what exists is there continued existence? What is a requirement for continued existence?’

dn14:2.18.14

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang cermat, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.18.15

‘upādāne kho sati bhavo hoti, upādānapaccayā bhavo’ti.

‘Dengan adanya kemelekatan, maka kelangsungan hidup terjadi; kemelekatan adalah syarat bagi kelangsungan hidup.’

‘When grasping exists there’s continued existence. Grasping is a requirement for continued existence.’

dn14:2.18.16

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.18.17

‘kimhi nu kho sati upādānaṁ hoti, kiṁpaccayā upādānan’ti?

‘Dengan adanya apakah kemelekatan terjadi, dan apakah syarat bagi kemelekatan?’

‘When what exists is there grasping? What is a requirement for grasping?’

dn14:2.18.18

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang cermat, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.18.19

‘taṇhāya kho sati upādānaṁ hoti, taṇhāpaccayā upādānan’ti.

‘Ketika ada nafsu keinginan, maka ada kemelekatan. Nafsu keinginan adalah syarat bagi kemelekatan.’

‘When craving exists there’s grasping. Craving is a requirement for grasping.’

dn14:2.18.20

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.18.21

‘kimhi nu kho sati taṇhā hoti, kiṁpaccayā taṇhā’ti?

‘Ketika apakah yang ada, maka ada nafsu keinginan? Apakah syarat bagi nafsu keinginan?’

‘When what exists is there craving? What is a requirement for craving?’

dn14:2.18.22

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui perhatian yang seksama, Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.18.23

‘vedanāya kho sati taṇhā hoti, vedanāpaccayā taṇhā’ti.

‘Ketika ada perasaan, maka ada nafsu keinginan. Perasaan adalah syarat bagi nafsu keinginan.’

‘When feeling exists there’s craving. Feeling is a requirement for craving.’

dn14:2.18.24

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.18.25

‘kimhi nu kho sati vedanā hoti, kiṁpaccayā vedanā’ti?

‘Ketika apakah yang ada, maka ada perasaan? Apakah syarat bagi perasaan?’

‘When what exists is there feeling? What is a requirement for feeling?’

dn14:2.18.26

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui perhatian yang seksama, Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.18.27

‘phasse kho sati vedanā hoti, phassapaccayā vedanā’ti.

‘Ketika ada kontak, maka ada perasaan. Kontak adalah syarat bagi perasaan.’

‘When contact exists there’s feeling. Contact is a requirement for feeling.’

dn14:2.18.28

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.18.29

‘kimhi nu kho sati phasso hoti, kiṁpaccayā phasso’ti?

‘Ketika apakah yang ada, maka ada kontak? Apakah syarat bagi kontak?’

‘When what exists is there contact? What is a requirement for contact?’

dn14:2.18.30

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui perhatian yang seksama, Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.18.31

‘saḷāyatane kho sati phasso hoti, saḷāyatanapaccayā phasso’ti.

‘Ketika ada enam landasan indra, maka ada kontak. Enam landasan indra adalah syarat bagi kontak.’

‘When the six sense fields exist there’s contact. The six sense fields are requirements for contact.’

dn14:2.18.32

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.18.33

‘kimhi nu kho sati saḷāyatanaṁ hoti, kiṁpaccayā saḷāyatanan’ti?

‘Ketika apakah yang ada, maka ada enam landasan indra? Apakah syarat bagi enam landasan indra?’

‘When what exists are there the six sense fields? What is a requirement for the six sense fields?’

dn14:2.18.34

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui perhatian yang seksama, Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.18.35

‘nāmarūpe kho sati saḷāyatanaṁ hoti, nāmarūpapaccayā saḷāyatanan’ti.

‘Ketika ada nama-dan-bentuk, maka ada enam landasan indra. Nama-dan-bentuk adalah syarat bagi enam landasan indra.’

‘When name and form exist there are the six sense fields. Name and form are requirements for the six sense fields.’

dn14:2.18.36

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.18.37

‘kimhi nu kho sati nāmarūpaṁ hoti, kiṁpaccayā nāmarūpan’ti?

‘Ketika apakah yang ada, maka ada nama-dan-bentuk? Apakah syarat bagi nama-dan-bentuk?’

‘When what exists are there name and form? What is a requirement for name and form?’

dn14:2.18.38

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui perhatian yang seksama, Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.18.39

‘viññāṇe kho sati nāmarūpaṁ hoti, viññāṇapaccayā nāmarūpan’ti.

‘Ketika kesadaran ada, maka nama-dan-bentuk muncul; kesadaran adalah syarat bagi nama-dan-bentuk.’

‘When consciousness exists there are name and form. Consciousness is a requirement for name and form.’

dn14:2.18.40

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.18.41

‘kimhi nu kho sati viññāṇaṁ hoti, kiṁpaccayā viññāṇan’ti?

‘Ketika apakah yang ada, kesadaran muncul? Apakah syarat bagi kesadaran?’

‘When what exists is there consciousness? What is a requirement for consciousness?’

dn14:2.18.42

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui perhatian yang seksama, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.18.43

‘nāmarūpe kho sati viññāṇaṁ hoti, nāmarūpapaccayā viññāṇan’ti.

‘Ketika nama-dan-bentuk ada, kesadaran muncul; nama-dan-bentuk adalah syarat bagi kesadaran.’

‘When name and form exist there’s consciousness. Name and form are requirements for consciousness.’

dn14:2.19.1

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.19.2

‘paccudāvattati kho idaṁ viññāṇaṁ nāmarūpamhā, nāparaṁ gacchati.

‘Kesadaran ini berbalik dari nama-dan-bentuk, tidak melampaui itu.’

‘This consciousness turns back from name and form, and doesn’t go beyond that.’

dn14:2.19.3

Ettāvatā jāyetha vā jiyyetha vā miyyetha vā cavetha vā upapajjetha vā, yadidaṁ

Sejauh itulah seseorang dapat terlahir kembali, menjadi tua, meninggal, berpindah, atau muncul kembali, yaitu:

This is the extent to which one may be reborn, grow old, die, pass away, or reappear. That is:

dn14:2.19.4

nāmarūpapaccayā viññāṇaṁ, viññāṇapaccayā nāmarūpaṁ, nāmarūpapaccayā saḷāyatanaṁ, saḷāyatanapaccayā phasso, phassapaccayā vedanā, vedanāpaccayā taṇhā, taṇhāpaccayā upādānaṁ, upādānapaccayā bhavo, bhavapaccayā jāti, jātipaccayā jarāmaraṇaṁ sokaparidevadukkhadomanassupāyāsā sambhavanti.

Nama dan bentuk adalah syarat bagi kesadaran. Kesadaran adalah syarat bagi nama dan bentuk. Nama dan bentuk adalah syarat bagi enam bidang indra. Enam bidang indra adalah syarat bagi kontak. Kontak adalah syarat bagi perasaan. Perasaan adalah syarat bagi nafsu keinginan. Nafsu keinginan adalah syarat bagi kemelekatan. Kemelekatan adalah syarat bagi kelangsungan eksistensi. Kelangsungan eksistensi adalah syarat bagi kelahiran kembali. Kelahiran kembali adalah syarat bagi usia tua dan kematian, duka, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputusasaan untuk muncul.

Name and form are requirements for consciousness. Consciousness is a requirement for name and form. Name and form are requirements for the six sense fields. The six sense fields are requirements for contact. Contact is a requirement for feeling. Feeling is a requirement for craving. Craving is a requirement for grasping. Grasping is a requirement for continued existence. Continued existence is a requirement for rebirth. Rebirth is a requirement for old age and death, sorrow, lamentation, pain, sadness, and distress to come to be.

dn14:2.19.5

Evametassa kevalassa dukkhakkhandhassa samudayo hoti’.

Demikianlah asal mula seluruh massa penderitaan ini terjadi.’

That is how this entire mass of suffering originates.’

dn14:2.19.6

‘Samudayo samudayo’ti kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa pubbe ananussutesu dhammesu cakkhuṁ udapādi, ñāṇaṁ udapādi, paññā udapādi, vijjā udapādi, āloko udapādi.

‘Muncul, muncul’ — demikianlah, para bhikkhu, pada Bodhisatta Vipassī, dalam hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya, muncullah mata, muncullah pengetahuan, muncullah kebijaksanaan, muncullah pemahaman, muncullah cahaya.

‘Origination, origination.’ Such was the vision, knowledge, wisdom, realization, and light that arose in Vipassī, the one intent on awakening, regarding teachings not learned before from another.

dn14:2.20.1

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.20.2

‘kimhi nu kho asati jarāmaraṇaṁ na hoti, kissa nirodhā jarāmaraṇanirodho’ti?

‘Ketika apakah yang tidak ada, maka penuaan dan kematian tidak ada? Dengan lenyapnya apakah, maka penuaan dan kematian lenyap?’

‘When what doesn’t exist is there no old age and death? When what ceases do old age and death cease?’

dn14:2.20.3

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang seksama, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.20.4

‘jātiyā kho asati jarāmaraṇaṁ na hoti, jātinirodhā jarāmaraṇanirodho’ti.

‘Ketika kelahiran tidak ada, maka penuaan dan kematian tidak ada. Dengan lenyapnya kelahiran, maka penuaan dan kematian lenyap.’

‘When rebirth doesn’t exist there’s no old age and death. When rebirth ceases, old age and death cease.’

dn14:2.20.5

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.20.6

‘kimhi nu kho asati jāti na hoti, kissa nirodhā jātinirodho’ti?

‘Ketika apakah yang tidak ada, maka kelahiran tidak ada? Dengan lenyapnya apakah, maka kelahiran lenyap?’

‘When what doesn’t exist is there no rebirth? When what ceases does rebirth cease?’

dn14:2.20.7

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang seksama, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.20.8

‘bhave kho asati jāti na hoti, bhavanirodhā jātinirodho’ti.

‘Ketika penjelmaan tidak ada, maka kelahiran tidak ada. Dengan lenyapnya penjelmaan, maka kelahiran lenyap.’

‘When continued existence doesn’t exist there’s no rebirth. When continued existence ceases, rebirth ceases.’

dn14:2.20.9

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.20.10

‘kimhi nu kho asati bhavo na hoti, kissa nirodhā bhavanirodho’ti?

‘Ketika apakah yang tidak ada maka kelangsungan hidup tidak terjadi? Ketika apakah yang berhenti maka kelangsungan hidup berhenti?’

‘When what doesn’t exist is there no continued existence? When what ceases does continued existence cease?’

dn14:2.20.11

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang seksama, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.20.12

‘upādāne kho asati bhavo na hoti, upādānanirodhā bhavanirodho’ti.

‘Ketika kemelekatan tidak ada, kelangsungan hidup tidak terjadi. Ketika kemelekatan berhenti, kelangsungan hidup berhenti.’

‘When grasping doesn’t exist there’s no continued existence. When grasping ceases, continued existence ceases.’

dn14:2.20.13

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.20.14

‘kimhi nu kho asati upādānaṁ na hoti, kissa nirodhā upādānanirodho’ti?

‘Ketika apakah yang tidak ada maka kemelekatan tidak terjadi? Ketika apakah yang berhenti maka kemelekatan berhenti?’

‘When what doesn’t exist is there no grasping? When what ceases does grasping cease?’

dn14:2.20.15

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang seksama, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.20.16

‘taṇhāya kho asati upādānaṁ na hoti, taṇhānirodhā upādānanirodho’ti.

‘Ketika nafsu keinginan tidak ada, kemelekatan tidak terjadi. Ketika nafsu keinginan berhenti, kemelekatan berhenti.’

‘When craving doesn’t exist there’s no grasping. When craving ceases, grasping ceases.’

dn14:2.20.17

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.20.18

‘kimhi nu kho asati taṇhā na hoti, kissa nirodhā taṇhānirodho’ti?

‘Ketika apakah yang tidak ada maka nafsu keinginan tidak terjadi? Ketika apakah yang berhenti maka nafsu keinginan berhenti?’

‘When what doesn’t exist is there no craving? When what ceases does craving cease?’

dn14:2.20.19

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang seksama, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.20.20

‘vedanāya kho asati taṇhā na hoti, vedanānirodhā taṇhānirodho’ti.

‘Ketika perasaan tidak ada, nafsu keinginan tidak terjadi. Ketika perasaan berhenti, nafsu keinginan berhenti.’

‘When feeling doesn’t exist there’s no craving. When feeling ceases, craving ceases.’

dn14:2.20.21

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.20.22

‘kimhi nu kho asati vedanā na hoti, kissa nirodhā vedanānirodho’ti?

‘Ketika apakah yang tidak ada maka perasaan tidak terjadi? Ketika apakah yang berhenti maka perasaan berhenti?’

‘When what doesn’t exist is there no feeling? When what ceases does feeling cease?’

dn14:2.20.23

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang seksama, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.20.24

‘phasse kho asati vedanā na hoti, phassanirodhā vedanānirodho’ti.

‘Ketika kontak tidak ada, perasaan tidak terjadi. Ketika kontak berhenti, perasaan berhenti.’

‘When contact doesn’t exist there’s no feeling. When contact ceases, feeling ceases.’

dn14:2.20.25

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.20.26

‘kimhi nu kho asati phasso na hoti, kissa nirodhā phassanirodho’ti?

‘Ketika apakah yang tidak ada maka kontak tidak terjadi? Ketika apakah yang berhenti maka kontak berhenti?’

‘When what doesn’t exist is there no contact? When what ceases does contact cease?’

dn14:2.20.27

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang seksama, Bodhisatta Vipassī menembus dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.20.28

‘saḷāyatane kho asati phasso na hoti, saḷāyatananirodhā phassanirodho’ti.

‘Ketika enam landasan indra tidak ada, kontak tidak terjadi. Ketika enam landasan indra berhenti, kontak berhenti.’

‘When the six sense fields don’t exist there’s no contact. When the six sense fields cease, contact ceases.’

dn14:2.20.29

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.20.30

‘kimhi nu kho asati saḷāyatanaṁ na hoti, kissa nirodhā saḷāyatananirodho’ti?

‘Ketika apakah yang tidak ada sehingga enam bidang indra tidak muncul? Ketika apakah yang lenyap sehingga enam bidang indra lenyap?’

‘When what doesn’t exist are there no six sense fields? When what ceases do the six sense fields cease?’

dn14:2.20.31

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan seksama pada pikiran, Bodhisatta Vipassī mencapai penembusan dengan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.20.32

‘nāmarūpe kho asati saḷāyatanaṁ na hoti, nāmarūpanirodhā saḷāyatananirodho’ti.

‘Ketika nama-dan-bentuk tidak ada, enam bidang indra tidak muncul; dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, enam bidang indra lenyap.’

‘When name and form don’t exist there are no six sense fields. When name and form cease, the six sense fields cease.’

dn14:2.20.33

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir,

Then Vipassī thought,

dn14:2.20.34

‘kimhi nu kho asati nāmarūpaṁ na hoti, kissa nirodhā nāmarūpanirodho’ti?

‘Ketika apakah yang tidak ada sehingga nama-dan-bentuk tidak muncul, dan dengan lenyapnya apakah maka nama-dan-bentuk lenyap?’

‘When what doesn’t exist are there no name and form? When what ceases do name and form cease?’

dn14:2.20.35

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang cermat, Bodhisatta Vipassī memperoleh penembusan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.20.36

‘viññāṇe kho asati nāmarūpaṁ na hoti, viññāṇanirodhā nāmarūpanirodho’ti.

‘Ketika kesadaran tidak ada, maka nama-dan-bentuk tidak muncul; dengan lenyapnya kesadaran, lenyap pula nama-dan-bentuk.’

‘When consciousness doesn’t exist there are no name and form. When consciousness ceases, name and form cease.’

dn14:2.20.37

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.20.38

‘kimhi nu kho asati viññāṇaṁ na hoti, kissa nirodhā viññāṇanirodho’ti?

‘Ketika apakah yang tidak ada, maka kesadaran tidak muncul? Dengan lenyapnya apakah, kesadaran menjadi lenyap?’

‘When what doesn’t exist is there no consciousness? When what ceases does consciousness cease?’

dn14:2.20.39

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa yoniso manasikārā ahu paññāya abhisamayo:

Kemudian, para bhikkhu, melalui pengamatan yang cermat, Bodhisatta Vipassī memperoleh penembusan kebijaksanaan:

Then, through rational application of mind, Vipassī penetrated with wisdom,

dn14:2.20.40

‘nāmarūpe kho asati viññāṇaṁ na hoti, nāmarūpanirodhā viññāṇanirodho’ti.

‘Ketika nama dan bentuk tidak ada, kesadaran tidak muncul; dengan lenyapnya nama dan bentuk, kesadaran lenyap.’

‘When name and form don’t exist there’s no consciousness. When name and form cease, consciousness ceases.’

dn14:2.21.1

Atha kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa etadahosi:

Kemudian, para bhikkhu, Bodhisatta Vipassī berpikir:

Then Vipassī thought,

dn14:2.21.2

‘adhigato kho myāyaṁ maggo sambodhāya yadidaṁ—

‘Aku telah menemukan jalan menuju pencerahan, yaitu:

‘I have discovered the path to awakening. That is:

dn14:2.21.3

nāmarūpanirodhā viññāṇanirodho, viññāṇanirodhā nāmarūpanirodho, nāmarūpanirodhā saḷāyatananirodho, saḷāyatananirodhā phassanirodho, phassanirodhā vedanānirodho, vedanānirodhā taṇhānirodho, taṇhānirodhā upādānanirodho, upādānanirodhā bhavanirodho, bhavanirodhā jātinirodho, jātinirodhā jarāmaraṇaṁ sokaparidevadukkhadomanassupāyāsā nirujjhanti.

dengan lenyapnya nama dan bentuk, kesadaran lenyap; dengan lenyapnya kesadaran, nama dan bentuk lenyap; dengan lenyapnya nama dan bentuk, enam indra lenyap; dengan lenyapnya enam indra, kontak lenyap; dengan lenyapnya kontak, perasaan lenyap; dengan lenyapnya perasaan, nafsu keinginan lenyap; dengan lenyapnya nafsu keinginan, kemelekatan lenyap; dengan lenyapnya kemelekatan, kelangsungan hidup lenyap; dengan lenyapnya kelangsungan hidup, kelahiran lenyap; dengan lenyapnya kelahiran, penuaan dan kematian, duka, ratapan, penderitaan, kesedihan, dan keputusasaan lenyap.

When name and form cease, consciousness ceases. When consciousness ceases, name and form cease. When name and form cease, the six sense fields cease. When the six sense fields cease, contact ceases. When contact ceases, feeling ceases. When feeling ceases, craving ceases. When craving ceases, grasping ceases. When grasping ceases, continued existence ceases. When continued existence ceases, rebirth ceases. When rebirth ceases, old age and death, sorrow, lamentation, pain, sadness, and distress cease.

dn14:2.21.4

Evametassa kevalassa dukkhakkhandhassa nirodho hoti’.

Demikianlah lenyapnya seluruh kumpulan penderitaan ini.’

That is how this entire mass of suffering ceases.’

dn14:2.21.5

‘Nirodho nirodho’ti kho, bhikkhave, vipassissa bodhisattassa pubbe ananussutesu dhammesu cakkhuṁ udapādi, ñāṇaṁ udapādi, paññā udapādi, vijjā udapādi, āloko udapādi.

‘Kelenyapan, kelenyapan’—demikianlah, para bhikkhu, pada Bodhisatta Vipassī yang sedang bermeditasi, muncullah mata, muncullah pengetahuan, muncullah kebijaksanaan, muncullah pemahaman, muncullah cahaya terhadap hal-hal yang belum pernah didengarnya sebelumnya.

‘Cessation, cessation.’ Such was the vision, knowledge, wisdom, realization, and light that arose in Vipassī, the one intent on awakening, regarding teachings not learned before from another.

dn14:2.22.1

Atha kho, bhikkhave, vipassī bodhisatto aparena samayena pañcasu upādānakkhandhesu udayabbayānupassī vihāsi:

Kemudian, para bhikkhu, pada waktu yang lain, Bodhisatta Vipassī berdiam dengan merenungkan muncul dan lenyapnya lima kelompok unsur yang melekat pada kemelekatan:

After some time he meditated observing rise and fall in the five grasping aggregates.

dn14:2.22.2

‘iti rūpaṁ, iti rūpassa samudayo, iti rūpassa atthaṅgamo;

‘Demikianlah bentuk, demikianlah asal-mula bentuk, demikianlah lenyapnya bentuk.

‘Such is form, such is the origin of form, such is the disappearance of form.

dn14:2.22.3

iti vedanā, iti vedanāya samudayo, iti vedanāya atthaṅgamo;

Demikianlah perasaan, demikianlah asal mula perasaan, demikianlah lenyapnya perasaan;

Such is feeling, such is the origin of feeling, such is the disappearance of feeling.

dn14:2.22.4

iti saññā, iti saññāya samudayo, iti saññāya atthaṅgamo;

Demikianlah persepsi, demikianlah asal mula persepsi, demikianlah lenyapnya persepsi.

Such is perception, such is the origin of perception, such is the disappearance of perception.

dn14:2.22.5

iti saṅkhārā, iti saṅkhārānaṁ samudayo, iti saṅkhārānaṁ atthaṅgamo;

Demikianlah pilihan-pilihan, demikianlah asal mula pilihan-pilihan, demikianlah lenyapnya pilihan-pilihan.

Such are choices, such is the origin of choices, such is the disappearance of choices.

dn14:2.22.6

iti viññāṇaṁ, iti viññāṇassa samudayo, iti viññāṇassa atthaṅgamo’ti,

Demikianlah kesadaran, demikianlah asal mula kesadaran, demikianlah lenyapnya kesadaran.’

Such is consciousness, such is the origin of consciousness, such is the disappearance of consciousness.’

dn14:2.22.7

tassa pañcasu upādānakkhandhesu udayabbayānupassino viharato na cirasseva anupādāya āsavehi cittaṁ vimuccīti.

Ketika ia berdiam dengan merenungkan muncul dan lenyapnya lima kelompok kemelekatan, maka tidak lama kemudian pikirannya terbebaskan dari kekotoran batin dengan tidak melekat.

Meditating like this his mind was soon freed from defilements by not grasping.

dn14:2.22.8

Dutiyabhāṇavāro.

Bab pembacaan kedua.

The second recitation section.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.