Atha kho vāseṭṭho māṇavo evamāha:
Kemudian Vāseṭṭha, pemuda itu, berkata:
Vāseṭṭha said this:
Khotbah tentang Para Ahli Tiga Veda
Sutta ini mengajak kita merenungkan tentang klaim kebenaran yang tidak berdasar dan pentingnya pengalaman langsung. Mari kita simak bagaimana Buddha menuntun dua brahmana muda ini dari sekadar keyakinan turun-temurun menuju pemahaman yang lebih dalam tentang jalan spiritual.
Dua brahmana muda, Vāseṭṭha dan Bhāradvāja, berselisih tentang jalan mana yang benar menuju kebersamaan dengan Brahmā. Mereka mendatangi Buddha untuk menyelesaikan perselisihan itu. Buddha menunjukkan bahwa klaim para brahmana ahli Veda tidak berdasar karena mereka mengajarkan jalan menuju sesuatu yang tidak mereka kenal atau lihat, lalu mengajarkan jalan sejati menuju alam Brahmā melalui pengembangan cinta kasih, belas kasih, kegembiraan, dan keseimbangan batin.
Atha kho vāseṭṭho māṇavo evamāha:
Kemudian Vāseṭṭha, pemuda itu, berkata:
Vāseṭṭha said this:
“ayameva ujumaggo, ayamañjasāyano niyyāniko niyyāti takkarassa brahmasahabyatāya, yvāyaṁ akkhāto brāhmaṇena pokkharasātinā”ti.
“Inilah jalan lurus, inilah jalan langsung yang membawa seseorang yang menempuhnya menuju kebersamaan dengan Brahmā, yaitu jalan yang dijelaskan oleh brahmana Pokkharasāti.”
“This is the only straight path, the direct route that delivers one who applies it to the company of Divinity; namely, that explained by the brahmin Pokkharasāti.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.