an9.63:1.1 “Pañcimāni, bhikkhave, sikkhādubbalyāni.
an9.63:1.2 Katamāni pañca?
an9.63:1.3 Pāṇātipāto, adinnādānaṁ, kāmesumicchācāro, musāvādo, surāmerayamajjapamādaṭṭhānaṁ—
an9.63:1.4 imāni kho, bhikkhave, pañca sikkhādubbalyāni.
Sikkhādubbalyasutta
Sutta ini menawarkan korelasi langsung antara moralitas dasar dan praktik meditasi. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha merangkai kelima kelemahan dengan empat penegakan perhatian sebagai penawar.
Dalam sutta ini, Sang Buddha membahas lima kelemahan dalam latihan—membunuh, mencuri, perbuatan asusila, berbohong, dan minuman keras—dan menegaskan bahwa untuk meninggalkannya, seorang bhikkhu harus mengembangkan empat penegakan perhatian (satipaṭṭhāna): merenungkan tubuh, perasaan, pikiran, dan fenomena.
an9.63:1.1 “Pañcimāni, bhikkhave, sikkhādubbalyāni.
an9.63:1.2 Katamāni pañca?
an9.63:1.3 Pāṇātipāto, adinnādānaṁ, kāmesumicchācāro, musāvādo, surāmerayamajjapamādaṭṭhānaṁ—
an9.63:1.4 imāni kho, bhikkhave, pañca sikkhādubbalyāni.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.