“‘Ubhatobhāgavimutto, ubhatobhāgavimutto’ti, āvuso, vuccati.
“Sahabat, dikatakan ‘terbebas kedua cara, terbebas kedua cara.’
“Reverend, they speak of one ‘freed both ways’.
Sutta Terbebas Kedua Cara
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana pencapaian meditatif dipahami dalam kerangka ajaran Buddha, khususnya tentang makna kebebasan yang utuh. Mari kita simak dialog antara dua bhikkhu ini untuk memahami lebih dalam.
Dalam sutta ini, seorang bhikkhu bertanya kepada temannya tentang makna 'terbebas kedua cara' (ubhatobhāgavimutta) sebagaimana dibabarkan oleh Buddha. Temannya menjelaskan bahwa seseorang yang mencapai jhāna pertama hingga jhāna keempat, serta landasan-landasan tanpa bentuk, dan pada masing-masing tingkat itu ia menyentuh landasan tersebut dengan tubuhnya serta memahaminya dengan kebijaksanaan, disebut terbebas kedua cara secara tersirat. Kemudian, ketika ia melampaui landasan bukan persepsi maupun bukan non-persepsi dan mencapai lenyapnya persepsi dan perasaan, serta melihat dengan kebijaksanaan hingga kekotoran batinnya habis, maka ia disebut terbebas kedua cara secara definitif.
“‘Ubhatobhāgavimutto, ubhatobhāgavimutto’ti, āvuso, vuccati.
“Sahabat, dikatakan ‘terbebas kedua cara, terbebas kedua cara.’
“Reverend, they speak of one ‘freed both ways’.
Kittāvatā nu kho, āvuso, ubhatobhāgavimutto vutto bhagavatā”ti?
Sejauh apakah, sahabat, seseorang yang terbebas kedua cara itu dibabarkan oleh Bhagavā?”
What is the one freed both ways that the Buddha spoke of?”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.