Tasmiṁ, bhikkhave, samaye āraññikassa nāgassa evaṁ hoti:
Pada saat itu, para bhikkhu, gajah jantan liar itu berpikir:
At that time the wild bull elephant thinks:
Perumpamaan Gajah Jantan Liar di Hutan
Mari kita renungkan perumpamaan gajah liar ini sebagai cermin bagi kehidupan spiritual kita sendiri. Sutta ini mengajak kita untuk melihat bagaimana keterikatan pada keramaian dan interaksi sosial dapat menjadi penghalang, dan bagaimana keberanian untuk menyendiri membuka jalan menuju kedamaian batin yang mendalam.
Sutta ini menggunakan perumpamaan seekor gajah jantan liar yang merasa terganggu oleh kehadiran gajah-gajah lain dan memilih untuk menyendiri dari kawanannya. Perumpamaan ini dianalogikan dengan seorang bhikkhu yang merasa sesak oleh banyaknya orang di sekitarnya, lalu memilih tempat terpencil untuk berlatih meditasi. Melalui latihan ini, ia membersihkan pikirannya dari berbagai rintangan dan mencapai pencapaian spiritual yang mendalam, hingga akhirnya kekotoran batinnya lenyap.
Tasmiṁ, bhikkhave, samaye āraññikassa nāgassa evaṁ hoti:
Pada saat itu, para bhikkhu, gajah jantan liar itu berpikir:
At that time the wild bull elephant thinks:
‘ahaṁ kho etarahi ākiṇṇo viharāmi hatthīhi hatthinīhi hatthikalabhehi hatthicchāpehi.
‘Saat ini aku hidup sesak oleh gajah-gajah jantan, gajah-gajah betina, gajah-gajah muda, dan anak-anak gajah.
‘These days I live crowded by other males, females, younglings, and cubs.
Chinnaggāni ceva tiṇāni khādāmi, obhaggobhaggañca me sākhābhaṅgaṁ khādanti, āvilāni ca pānīyāni pivāmi, ogāhā ca me uttiṇṇassa hatthiniyo kāyaṁ upanighaṁsantiyo gacchanti.
Aku memakan rumput yang telah dipotong, dan mereka memakan ranting-ranting patahan yang telah ku tarik turun. Aku meminum air yang keruh, dan setelah mandi, gajah-gajah betina menggesek-gesekkan tubuhnya padaku.
I eat the grass they’ve trampled, and they eat the broken branches I’ve dragged down. I drink muddy water, and after my bath the female elephants bump into me.
Yannūnāhaṁ eko gaṇasmā vūpakaṭṭho vihareyyan’ti.
Bagaimana jika aku hidup sendirian, menyendiri dari kawanan?’
Why don’t I live alone, withdrawn from the herd?’
So aparena samayena eko gaṇasmā vūpakaṭṭho viharati, acchinnaggāni ceva tiṇāni khādati, obhaggobhaggañcassa sākhābhaṅgaṁ na khādanti, anāvilāni ca pānīyāni pivati, ogāhā cassa uttiṇṇassa na hatthiniyo kāyaṁ upanighaṁsantiyo gacchanti.
Kemudian, di lain waktu, ia hidup sendirian, menyendiri dari kawanan, dan ia memakan rumput yang tidak terpotong, dan gajah-gajah lain tidak memakan ranting-ranting patahan yang telah ia tarik turun. Ia tidak meminum air yang keruh, dan setelah mandi, gajah-gajah betina tidak menggesek-gesekkan tubuhnya padanya.
After some time he lives alone, withdrawn from the herd, and he eats untrampled grass, and other elephants don’t eat the broken branches he has dragged down. He doesn’t drink muddy water, and the female elephants don’t bump into him after his bath.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.