Ekaṁ samayaṁ āyasmā ānando kosambiyaṁ viharati ghositārāme.
Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda sedang menetap di Kosambī, di vihara Ghosita.
At one time Venerable Ānanda was staying near Kosambī in Ghosita’s monastery.
Khotbah tentang Ānanda
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kebebasan sejati justru ditemukan di tengah keterbatasan, dan bagaimana pikiran dapat melampaui pengalaman indrawi biasa melalui latihan meditasi.
Yang Mulia Ānanda menyampaikan kekagumannya pada Sang Buddha yang telah menemukan jalan keluar dari kesempitan indria. Ia menjelaskan bahwa seseorang dapat tidak mengalami landasan indria meskipun indria dan objeknya masih ada, dan bahwa hal ini terjadi dalam pencapaian-pencapaian meditatif tanpa bentuk. Ia kemudian mengutip percakapannya dengan seorang bhikkhunī tentang konsentrasi yang buahnya adalah pencerahan.
Ekaṁ samayaṁ āyasmā ānando kosambiyaṁ viharati ghositārāme.
Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda sedang menetap di Kosambī, di vihara Ghosita.
At one time Venerable Ānanda was staying near Kosambī in Ghosita’s monastery.
Tatra kho āyasmā ānando bhikkhū āmantesi:
Di sana Yang Mulia Ānanda berkata kepada para bhikkhu:
There Ānanda addressed the mendicants:
“āvuso bhikkhave”ti.
"Sahabat-sahabat para bhikkhu!"
“Reverends, mendicants!”
“Āvuso”ti kho te bhikkhū āyasmato ānandassa paccassosuṁ.
"Sahabat," jawab para bhikkhu itu kepada Yang Mulia Ānanda.
“Reverend,” they replied.
Āyasmā ānando etadavoca:
Yang Mulia Ānanda berkata demikian:
Ānanda said this:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.