an9.36:9.1 Seperti halnya, para bhikkhu, seorang pemanah atau murid pemanah yang berlatih pada boneka jerami atau gundukan tanah liat, dan kemudian, di kemudian hari, ia menjadi penembak jarak jauh, penembak tepat sasaran, yang mampu menembus sasaran yang besar;
an9.36:9.2 demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, menyadari ‘tidak ada apa pun’, dan berdiam dalam landasan kekosongan.
an9.36:9.3 Ia merenungkan fenomena apa pun yang ada di sana—yang termasuk dalam perasaan, persepsi, bentukan-bentukan, dan kesadaran—sebagai tidak kekal, sebagai penderitaan, sebagai penyakit, sebagai bisul, sebagai anak panah, sebagai celaka, sebagai sakit, sebagai asing, sebagai hancur, sebagai kosong, sebagai bukan-diri.
an9.36:9.4 Ia mengalihkan pikirannya dari fenomena-fenomena itu,
an9.36:9.5 dan setelah mengalihkan pikirannya dari fenomena-fenomena itu, ia mengarahkan pikirannya pada unsur tanpa-kematian:
an9.36:9.6 ‘Ini damai, ini luhur, yaitu: tenangnya segala bentukan, melepaskan segala kemelekatan, hancurnya nafsu, kebosanan, lenyapnya, Nibbāna.’
an9.36:9.7 Berdiam di sana, ia mencapai penghancuran noda-noda.
an9.36:9.8 Jika ia tidak mencapai penghancuran noda-noda, maka karena nafsu terhadap Dhamma itu, karena kegembiraan terhadap Dhamma itu, dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah, ia terlahir spontan, dan mencapai parinibbāna di alam itu, tidak akan kembali dari alam itu.
an9.36:9.9 ‘Aku katakan bahwa landasan kekosongan adalah dasar bagi penghancuran noda-noda.’
an9.36:9.10 Demikianlah apa yang telah dikatakan, dan karena itulah hal itu dikatakan.
