‹
AN 8.81

Satisampajaññasutta

Sutta tentang Perhatian dan Pemahaman Jernih

Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA AN 8.81

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana satu kualitas dasar dapat menjadi akar dari seluruh perkembangan batin. Perhatikan baik-baik urutan sebab-akibat yang dipaparkan, dan bayangkan perumpamaan pohon yang digunakan untuk memperjelasnya.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Sutta ini adalah khotbah pendek Sang Buddha kepada para bhikkhu tentang pentingnya perhatian dan pemahaman jernih (satisampajañña) sebagai fondasi utama dalam praktik Dhamma. Beliau menjelaskan bagaimana ketiadaan kualitas ini menyebabkan runtuhnya seluruh kualitas baik lainnya, seperti rasa malu, pengendalian diri, hingga kebebasan akhir. Sebaliknya, dengan adanya perhatian dan pemahaman jernih, seluruh kualitas baik tersebut dapat tumbuh dan berkembang hingga mencapai pengetahuan dan penglihatan kebebasan.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
an8.81:2.1

Satisampajaññe, bhikkhave, sati satisampajaññasampannassa upanisasampannaṁ hoti hirottappaṁ.

Para bhikkhu, ketika perhatian dan pemahaman jernih ada, maka bagi seseorang yang memiliki perhatian dan pemahaman jernih, rasa malu dan takut akan akibat buruk memiliki landasan pendukung yang lengkap.

When there is mindfulness and situational awareness, one who has fulfilled mindfulness and situational awareness has fulfilled a vital condition for conscience and prudence.

an8.81:2.2

Hirottappe sati hirottappasampannassa upanisasampanno hoti indriyasaṁvaro.

Ketika rasa malu dan takut akan akibat buruk ada, maka bagi seseorang yang memiliki rasa malu dan takut akan akibat buruk, pengendalian indria memiliki landasan pendukung yang lengkap.

When there is conscience and prudence, one who has fulfilled conscience and prudence has fulfilled a vital condition for sense restraint.

an8.81:2.3

Indriyasaṁvare sati indriyasaṁvarasampannassa upanisasampannaṁ hoti sīlaṁ.

Ketika pengendalian indria ada, maka bagi seseorang yang memiliki pengendalian indria, moralitas memiliki landasan pendukung yang lengkap.

When there is sense restraint, one who has fulfilled sense restraint has fulfilled a vital condition for ethical conduct.

an8.81:2.4

Sīle sati sīlasampannassa upanisasampanno hoti sammāsamādhi.

Ketika moralitas ada, maka bagi seseorang yang memiliki moralitas, konsentrasi benar memiliki landasan pendukung yang lengkap.

When there is ethical conduct, one who has fulfilled ethical conduct has fulfilled a vital condition for right immersion.

an8.81:2.5

Sammāsamādhimhi sati sammāsamādhisampannassa upanisasampannaṁ hoti yathābhūtañāṇadassanaṁ.

Ketika konsentrasi benar ada, maka bagi seseorang yang memiliki konsentrasi benar, pengetahuan dan penglihatan sesuai kenyataan memiliki landasan pendukung yang lengkap.

When there is right immersion, one who has fulfilled right immersion has fulfilled a vital condition for true knowledge and vision.

an8.81:2.6

Yathābhūtañāṇadassane sati yathābhūtañāṇadassanasampannassa upanisasampanno hoti nibbidāvirāgo.

Ketika pengetahuan dan penglihatan sesuai kenyataan ada, maka bagi seseorang yang memiliki pengetahuan dan penglihatan sesuai kenyataan, kejijikan dan kebosanan terhadap dunia memiliki landasan pendukung yang lengkap.

When there is true knowledge and vision, one who has fulfilled true knowledge and vision has fulfilled a vital condition for disillusionment and dispassion.

an8.81:2.7

Nibbidāvirāge sati nibbidāvirāgasampannassa upanisasampannaṁ hoti vimuttiñāṇadassanaṁ.

Ketika terdapat kejijikan dan kebosanan, seseorang yang telah memenuhi kejijikan dan kebosanan telah memenuhi kondisi penting bagi pengetahuan dan penglihatan kebebasan.

When there is disillusionment and dispassion, one who has fulfilled disillusionment and dispassion has fulfilled a vital condition for knowledge and vision of freedom.

an8.81:2.8

Seyyathāpi, bhikkhave, rukkho sākhāpalāsasampanno. Tassa papaṭikāpi pāripūriṁ gacchati, tacopi … pheggupi … sāropi pāripūriṁ gacchati.

Misalkan, para bhikkhu, ada sebatang pohon yang lengkap dengan cabang dan dedaunan. Maka kulit kayunya, pepagannya, kayu lunaknya, dan kayu terasnya akan tumbuh hingga sempurna.

Suppose there was a tree that was complete with branches and foliage. Its shoots, bark, softwood, and heartwood would grow to fullness.

an8.81:2.9

Evamevaṁ kho, bhikkhave, satisampajaññe sati satisampajaññasampannassa upanisasampannaṁ hoti hirottappaṁ;

Demikian pula, para bhikkhu, ketika terdapat perhatian dan kewaspadaan penuh, seseorang yang telah memenuhi perhatian dan kewaspadaan penuh telah memenuhi kondisi penting bagi rasa malu dan rasa takut akan akibat buruk;

In the same way, when there is mindfulness and situational awareness, one who has fulfilled mindfulness and situational awareness has fulfilled a vital condition for conscience and prudence.

an8.81:2.10

hirottappe sati hirottappasampannassa upanisasampanno hoti …pe…

Ketika terdapat rasa malu dan rasa takut akan akibat buruk, seseorang yang telah memenuhi rasa malu dan rasa takut akan akibat buruk telah memenuhi kondisi penting bagi ... (diisi sesuai konteks) ...

When there is conscience and prudence …

an8.81:2.11

vimuttiñāṇadassanan”ti.

Seseorang yang telah memenuhi kejijikan dan kebosanan telah memenuhi kondisi penting bagi pengetahuan dan penglihatan kebebasan.”

One who has fulfilled disillusionment and dispassion has fulfilled a vital condition for knowledge and vision of freedom.”

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.