Katamā ca, bhikkhave, samajīvitā?
Dan apakah, para bhikkhu, kehidupan yang seimbang?
And what is accomplishment in balanced finances?
Khotbah tentang Pencapaian (Ke dua)
Khotbah ini memberikan panduan praktis yang jarang terlihat dalam kanon, karena secara khusus membahas kehidupan ideal seorang perumah tangga. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha merangkai keseimbangan antara urusan duniawi dan pengembangan spiritual dalam satu kesatuan yang utuh.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan delapan pencapaian yang dimiliki oleh seorang perumah tangga yang baik. Empat pencapaian pertama berkaitan dengan kehidupan duniawi—ketekunan dalam bekerja, melindungi kekayaan, memiliki teman yang baik, dan hidup seimbang dalam keuangan. Empat pencapaian berikutnya berkaitan dengan kehidupan spiritual—keyakinan, moralitas, kedermawanan, dan kebijaksanaan. Delapan kualitas ini disebut membawa kebahagiaan di kehidupan sekarang dan kehidupan mendatang.
Katamā ca, bhikkhave, samajīvitā?
Dan apakah, para bhikkhu, kehidupan yang seimbang?
And what is accomplishment in balanced finances?
Idha, bhikkhave, kulaputto āyañca bhogānaṁ viditvā vayañca bhogānaṁ viditvā samaṁ jīvikaṁ kappeti nāccogāḷhaṁ nātihīnaṁ: ‘evaṁ me āyo vayaṁ pariyādāya ṭhassati, na ca me vayo āyaṁ pariyādāya ṭhassatī’ti.
Di sini, para bhikkhu, seorang putra keluarga, setelah mengetahui pemasukan kekayaannya dan mengetahui pengeluaran kekayaannya, menjalankan kehidupan yang seimbang, tidak terlalu boros dan tidak terlalu kikir: ‘Dengan cara ini pemasukanku akan melebihi pengeluaranku, dan pengeluaranku tidak akan melebihi pemasukanku.’
It’s when a gentleman, knowing his income and expenditure, balances his finances, being neither too extravagant nor too frugal. He thinks, ‘In this way my income will exceed my expenditure, not the reverse.’
Seyyathāpi, bhikkhave, tulādhāro vā tulādhārantevāsī vā tulaṁ paggahetvā jānāti: ‘ettakena vā onataṁ, ettakena vā unnatan’ti;
Para bhikkhu, bagaikan seorang penimbang atau murid penimbang yang mengangkat timbangan mengetahui: ‘serendah ini atau setinggi ini’,
It’s like an appraiser or their apprentice who, holding up the scales, knows that it’s low by this much or high by this much.
evamevaṁ kho, bhikkhave, kulaputto āyañca bhogānaṁ viditvā vayañca bhogānaṁ viditvā samaṁ jīvikaṁ kappeti nāccogāḷhaṁ nātihīnaṁ: ‘evaṁ me āyo vayaṁ pariyādāya ṭhassati, na ca me vayo āyaṁ pariyādāya ṭhassatī’ti.
demikian pula, para bhikkhu, seorang putra keluarga yang mengetahui pemasukan dan pengeluaran kekayaannya, menjalankan kehidupan yang seimbang, tidak terlalu boros juga tidak terlalu kikir: ‘Dengan cara ini pemasukanku akan melebihi pengeluaranku, dan pengeluaranku tidak akan melebihi pemasukanku.’
In the same way, a gentleman, knowing his income and expenditure, balances his finances, being neither too extravagant nor too frugal. He thinks, ‘In this way my income will exceed my expenditure, not the reverse.’
Sacāyaṁ, bhikkhave, kulaputto appāyo samāno uḷāraṁ jīvikaṁ kappeti, tassa bhavanti vattāro ‘udumbarakhādī vāyaṁ kulaputto bhoge khādatī’ti.
Jika, para bhikkhu, seorang putra keluarga berpenghasilan sedikit namun menjalani kehidupan yang mewah, maka akan ada yang berkata: ‘Putra keluarga ini memakan kekayaannya seperti pemakan buah ara!’
If a gentleman has little income but an opulent life, there’ll be some who say: ‘This gentleman eats their wealth like a fig-eater!’
Sace panāyaṁ, bhikkhave, kulaputto mahāyo samāno kasiraṁ jīvikaṁ kappeti, tassa bhavanti vattāro: ‘ajeṭṭhamaraṇaṁ vāyaṁ kulaputto marissatī’ti.
Tetapi jika, para bhikkhu, seorang putra keluarga berpenghasilan besar namun menjalani kehidupan yang susah, maka akan ada yang berkata: ‘Putra keluarga ini akan mati kelaparan!’
If a gentleman has a large income but a spartan life, there’ll be some who say: ‘This gentleman is starving themselves to death!’
Yato ca khoyaṁ, bhikkhave, kulaputto āyañca bhogānaṁ viditvā vayañca bhogānaṁ viditvā samaṁ jīvikaṁ kappeti nāccogāḷhaṁ nātihīnaṁ: ‘evaṁ me āyo vayaṁ pariyādāya ṭhassati, na ca me vayo āyaṁ pariyādāya ṭhassatī’ti.
Akan tetapi, para bhikkhu, ketika seorang putra keluarga yang mengetahui pemasukan dan pengeluaran kekayaannya, menjalankan kehidupan yang seimbang, tidak terlalu boros juga tidak terlalu kikir: ‘Dengan cara ini pemasukanku akan melebihi pengeluaranku, dan pengeluaranku tidak akan melebihi pemasukanku.’
But a gentleman, knowing his income and expenditure, leads a balanced life, neither too extravagant nor too frugal, thinking, ‘In this way my income will exceed my expenditure, not the reverse.’
Ayaṁ vuccati, bhikkhave, samajīvitā.
Ini, para bhikkhu, disebut kehidupan yang seimbang.
This is called accomplishment in balanced finances.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.