Lābho alābho ca yasāyaso ca,
Perolehan dan kehilangan, ketenaran dan kehinaan,
Gain and loss, fame and disgrace,
Paṭhamalokadhammasutta
Sutta ini mengajak kita merenungkan delapan pasang pengalaman yang akrab dalam kehidupan sehari-hari—untung-rugi, terkenal-terlupakan, dipuji-dicela, senang-susah. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menggambarkan sifat sementara dari semua kondisi ini dan bagaimana sikap bijaksana terhadapnya dapat membawa kedamaian.
Dalam sutta ini, Sang Buddha mengajarkan tentang delapan kondisi duniawi—perolehan dan kehilangan, ketenaran dan kehinaan, celaan dan pujian, kebahagiaan dan penderitaan—yang selalu mengelilingi dunia dan kehidupan manusia. Ia menjelaskan bahwa kondisi-kondisi ini bersifat tidak kekal dan senantiasa berubah. Seorang yang bijaksana dan penuh perhatian, dengan memahami sifat ini, tidak terganggu oleh hal-hal yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, sehingga mencapai kedamaian dan melampaui kelahiran kembali.
Lābho alābho ca yasāyaso ca,
Perolehan dan kehilangan, ketenaran dan kehinaan,
Gain and loss, fame and disgrace,
Nindā pasaṁsā ca sukhaṁ dukhañca;
celaan dan pujian, serta kebahagiaan dan penderitaan;
blame and praise, and pleasure and pain.
Ete aniccā manujesu dhammā,
Kondisi-kondisi ini pada manusia adalah tidak kekal,
These qualities among mankind are impermanent,
Asassatā vipariṇāmadhammā.
tidak abadi, dan bersifat berubah.
transient, and perishable.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.