Na bhikkhuniyā abhikkhuke āvāse vassaṁ upagantabbaṁ.
Seorang bhikkhunī tidak boleh menetap untuk masa vassa di tempat yang tidak ada bhikkhu.
A nun should not commence the rainy season residence in a monastery without monks.
Khotbah tentang Gotamī
Sutta ini mengisahkan momen penting dalam sejarah awal Buddhisme: perjuangan Mahāpajāpati Gotamī dan para perempuan Sakya untuk ditahbiskan. Bacalah dengan terbuka untuk memahami bagaimana Buddha merespons permohonan ini dan apa saja syarat yang kemudian ditetapkan.
Mahāpajāpati Gotamī, bibi sekaligus ibu asuh Buddha, memohon agar kaum perempuan diizinkan meninggalkan kehidupan rumah tangga menjadi bhikkhunī. Permohonannya ditolak tiga kali oleh Buddha, namun ia tetap bertekad dengan memotong rambut dan mengikuti Buddha ke Vesālī. Atas bantuan Ānanda, Buddha akhirnya menetapkan delapan prinsip penghormatan (garudhamma) sebagai syarat penahbisan bagi perempuan, yang diterima Mahāpajāpati Gotamī. Sutta ditutup dengan penjelasan Buddha tentang dampak penahbisan perempuan terhadap lamanya Dhamma bertahan di dunia.
Na bhikkhuniyā abhikkhuke āvāse vassaṁ upagantabbaṁ.
Seorang bhikkhunī tidak boleh menetap untuk masa vassa di tempat yang tidak ada bhikkhu.
A nun should not commence the rainy season residence in a monastery without monks.
Ayampi dhammo sakkatvā garuṁ katvā mānetvā pūjetvā yāvajīvaṁ anatikkamanīyo.
Prinsip ini harus dihormati, dijunjung tinggi, dimuliakan, dan dipuja, dan tidak boleh dilanggar selama hidup masih berlangsung.
This principle should be honored, respected, esteemed, and venerated, and not transgressed so long as life lasts.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.