Evaṁ vutte, bhante, hatthako maṁ etadavoca:
Setelah itu, Yang Mulia, Hatthaka berkata kepadaku:
Khotbah tentang Hatthaka (1)
Sutta ini adalah sebuah cerita pendek yang menunjukkan bagaimana Sang Buddha menghargai kualitas-kualitas baik pada seorang perumah tangga, dan bagaimana kualitas yang paling dalam, yaitu kerendahan hati, justru menjadi puncak pujian. Perhatikan bagaimana reaksi Hatthaka terhadap pujian tersebut menjadi kunci dari keseluruhan sutta.
Sang Buddha menyampaikan kepada para bhikkhu bahwa perumah tangga Hatthaka dari Āḷavī memiliki tujuh kualitas menakjubkan: keyakinan, moralitas, rasa malu, kehati-hatian, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan. Seorang bhikkhu kemudian mengunjungi Hatthaka untuk menyampaikan pujian ini, dan Hatthaka merasa lega karena tidak ada umat awam yang mendengarnya. Ketika bhikkhu itu melaporkan hal ini kepada Sang Buddha, Beliau menambahkan kualitas kedelapan yang bahkan lebih menonjol: sifat tidak banyak menuntut (appicchatā), karena Hatthaka tidak ingin kualitas baiknya diketahui orang lain.
Evaṁ vutte, bhante, hatthako maṁ etadavoca:
Setelah itu, Yang Mulia, Hatthaka berkata kepadaku:
‘kaccittha, bhante, na koci gihī ahosi odātavasano’ti?
‘Apakah di sini, Yang Mulia, ada seorang perumah tangga yang mengenakan jubah putih?’
‘Na hettha, āvuso, koci gihī ahosi odātavasano’ti.
‘Tidak ada di sini, sahabat, seorang perumah tangga yang mengenakan jubah putih.’
‘Sādhu, bhante, yadettha na koci gihī ahosi odātavasano’”ti.
‘Baik sekali, Yang Mulia, bahwa di sini tidak ada seorang perumah tangga yang mengenakan jubah putih.’”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.