an8.11:12.1 “Evamevaṁ kho ahaṁ, brāhmaṇa, avijjāgatāya pajāya aṇḍabhūtāya pariyonaddhāya avijjaṇḍakosaṁ padāletvā ekova loke anuttaraṁ sammāsambodhiṁ abhisambuddho.
an8.11:12.2 Ahañhi, brāhmaṇa, jeṭṭho seṭṭho lokassa.
Khotbah di Verañjā
Dalam sutta ini, kita akan menyaksikan dialog antara Sang Buddha dan seorang brahmana yang menguji Beliau dengan tuduhan-tuduhan. Perhatikan bagaimana Sang Buddha membalikkan setiap tuduhan dengan makna yang lebih dalam, dan bagaimana perumpamaan anak ayam menjadi kunci untuk memahami pencapaian-Nya.
Brahmana Verañja menuduh Buddha tidak menghormati para brahmana tua dan tidak memiliki berbagai kualitas baik. Buddha menjawab dengan menjelaskan bahwa tuduhan-tuduhan itu benar dalam arti yang berbeda: ia telah melampaui kenikmatan indria, mengajarkan ketidakberlakuan atas kejahatan, pemusnahan nafsu, dan seterusnya. Melalui perumpamaan anak ayam yang menetas, Buddha menunjukkan bahwa ia telah memecahkan cangkang ketidaktahuan dan mencapai pencerahan sempurna, sehingga ia layak disebut yang tertua di dunia. Brahmana itu akhirnya berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.
an8.11:12.1 “Evamevaṁ kho ahaṁ, brāhmaṇa, avijjāgatāya pajāya aṇḍabhūtāya pariyonaddhāya avijjaṇḍakosaṁ padāletvā ekova loke anuttaraṁ sammāsambodhiṁ abhisambuddho.
an8.11:12.2 Ahañhi, brāhmaṇa, jeṭṭho seṭṭho lokassa.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.