an8.11:16.1So evaṁ samāhite citte parisuddhe pariyodāte anaṅgaṇe vigatūpakkilese mudubhūte kammaniye ṭhite āneñjappatte sattānaṁ cutūpapātañāṇāya cittaṁ abhininnāmesiṁ.
Ketika pikiranku terkonsentrasi demikian—murni, jernih, tanpa cela, bebas dari kekotoran, lunak, lentur, stabil, dan tak tergoyahkan—aku mengarahkannya menuju pengetahuan tentang kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk.
When my mind had immersed in samādhi like this—purified, bright, flawless, rid of corruptions, pliable, workable, steady, and imperturbable—I extended it toward knowledge of the death and rebirth of sentient beings.
an8.11:16.2So dibbena cakkhunā visuddhena atikkantamānusakena satte passāmi cavamāne upapajjamāne hīne paṇīte suvaṇṇe dubbaṇṇe, sugate duggate yathākammūpage satte pajānāmi: ‘ime vata bhonto sattā kāyaduccaritena samannāgatā, vacīduccaritena samannāgatā, manoduccaritena samannāgatā, ariyānaṁ upavādakā, micchādiṭṭhikā, micchādiṭṭhikammasamādānā. Te kāyassa bhedā paraṁ maraṇā apāyaṁ duggatiṁ vinipātaṁ nirayaṁ upapannāti. Ime vā pana bhonto sattā kāyasucaritena samannāgatā, vacīsucaritena samannāgatā, manosucaritena samannāgatā, ariyānaṁ anupavādakā, sammādiṭṭhikā, sammādiṭṭhikammasamādānā. Te kāyassa bhedā paraṁ maraṇā sugatiṁ saggaṁ lokaṁ upapannā’ti. Iti dibbena cakkhunā visuddhena atikkantamānusakena satte passāmi cavamāne upapajjamāne hīne paṇīte suvaṇṇe dubbaṇṇe, sugate duggate yathākammūpage satte pajānāmi.
Dengan mata dewa yang murni dan melampaui manusia, aku melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali—rendah dan mulia, cantik dan buruk, di alam bahagia atau alam sengsara. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk mengikuti perbuatan mereka: 'Makhluk-makhluk yang terhormat ini melakukan perbuatan buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Mereka mencela para mulia; mereka berpandangan salah; dan mereka bertindak berdasarkan pandangan salah itu. Setelah kematian, saat tubuh hancur, mereka terlahir kembali di alam kehilangan, alam sengsara, alam rendah, neraka. Namun makhluk-makhluk yang terhormat ini melakukan perbuatan baik melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Mereka tidak pernah mencela para mulia; mereka berpandangan benar; dan mereka bertindak berdasarkan pandangan benar itu. Setelah kematian, saat tubuh hancur, mereka terlahir kembali di alam bahagia, alam surga.' Demikianlah, dengan mata dewa yang murni dan melampaui manusia, aku melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali—rendah dan mulia, cantik dan buruk, di alam bahagia atau alam sengsara. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk mengikuti perbuatan mereka.
With clairvoyance that is purified and superhuman, I saw sentient beings passing away and being reborn—inferior and superior, beautiful and ugly, in a good place or a bad place. I understood how sentient beings pass on according to their deeds: ‘These dear beings did bad things by way of body, speech, and mind. They denounced the noble ones; they had wrong view; and they chose to act out of that wrong view. When their body broke up, after death, they were reborn in a place of loss, a bad place, the underworld, hell. These dear beings, however, did good things by way of body, speech, and mind. They never denounced the noble ones; they had right view; and they chose to act out of that right view. When their body broke up, after death, they were reborn in a good place, a heavenly realm.’ And so, with clairvoyance that is purified and superhuman, I saw sentient beings passing away and being reborn—inferior and superior, beautiful and ugly, in a good place or a bad place. I understood how sentient beings pass on according to their deeds.