Taṁ kiṁ maññatha, bhikkhave,
Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu,
What do you think, mendicants?
Sutta Perumpamaan Api Besar
Sutta ini menggunakan perumpamaan yang sangat gamblang dan mengerikan untuk menekankan satu poin penting tentang kemurnian moral dalam kehidupan pertapaan. Saat membacanya, perhatikan bagaimana Sang Buddha membalikkan intuisi kita tentang apa yang lebih baik, dan renungkan mengapa ia menggunakan gambaran yang begitu ekstrem untuk menyampaikan ajarannya.
Sang Buddha sedang berkelana di negeri Kosala bersama para bhikkhu ketika Beliau melihat tumpukan api besar yang menyala. Beliau mengajukan serangkaian pertanyaan retoris yang membandingkan penderitaan fisik yang mengerikan dengan kenikmatan duniawi dan penerimaan penghormatan serta dukungan materi. Jawabannya mengejutkan: bagi seorang bhikkhu yang tidak bermoral, justru lebih baik mengalami siksaan fisik yang paling mengerikan sekalipun daripada menikmati kehormatan dan kebutuhan hidup dari umat, karena siksaan fisik hanya berakhir pada kematian, sedangkan penyalahgunaan dukungan umat berakibat kelahiran kembali di alam sengsara. Sutta ditutup dengan ajakan untuk berlatih dengan tekun demi kebaikan diri sendiri, orang lain, dan kedua belah pihak, serta dampak kuat yang ditimbulkannya pada para bhikkhu yang mendengarnya.
Taṁ kiṁ maññatha, bhikkhave,
Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu,
What do you think, mendicants?
katamaṁ nu kho varaṁ—yaṁ balavā puriso tattena ayopaṭṭena ādittena sampajjalitena sajotibhūtena kāyaṁ sampaliveṭheyya, yaṁ vā khattiyamahāsālānaṁ vā brāhmaṇamahāsālānaṁ vā gahapatimahāsālānaṁ vā saddhādeyyaṁ cīvaraṁ paribhuñjeyyā”ti?
manakah yang lebih baik—bahwa seorang kuat membungkus tubuhmu dengan lembaran besi yang panas membara, menyala-nyala, dan berkobar-kobar, atau bahwa engkau menggunakan jubah yang diberikan dengan keyakinan oleh para bangsawan kaya, para brahmana kaya, atau para perumah tangga kaya?”
Which is better—to have a strong man wrap you up in a red-hot sheet of iron, burning, blazing, and glowing? Or to enjoy the use of a robe given in faith by well-to-do aristocrats or brahmins or householders?”
“Etadeva, bhante, varaṁ—yaṁ khattiyamahāsālānaṁ vā …pe…
“Inilah yang lebih baik, Bhante—bahwa kami menggunakan jubah yang diberikan dengan keyakinan oleh para bangsawan kaya, para brahmana kaya, atau para perumah tangga kaya.
“Sir, it would be much better to enjoy the use of a robe given in faith by well-to-do aristocrats or brahmins or householders.
saddhādeyyaṁ cīvaraṁ paribhuñjeyya, dukkhañhetaṁ, bhante, yaṁ balavā puriso tattena ayopaṭṭena ādittena sampajjalitena sajotibhūtena kāyaṁ sampaliveṭheyyā”ti.
Karena menyakitkan, Bhante, jika seorang kuat membungkus tubuh dengan lembaran besi yang panas membara, menyala-nyala, dan berkobar-kobar.”
For it would be painful to have a strong man wrap you up in a red-hot sheet of iron, burning, blazing, and glowing.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.