Seyyathāpi, bhikkhave, kukkuṭiyā aṇḍāni aṭṭha vā dasa vā dvādasa vā.
Misalkan, para bhikkhu, ada seekor induk ayam dengan delapan, sepuluh, atau dua belas telur.
Suppose there was a chicken with eight or ten or twelve eggs.
Sutta tentang Pengembangan
Sutta ini mengajak kita merenungkan hakikat usaha spiritual: apakah pembebasan cukup diharapkan, atau perlu diusahakan dengan tekun? Melalui perumpamaan-perumpamaan yang sederhana namun dalam, kita diajak memahami bahwa perubahan batin terjadi melalui proses, bukan sekadar angan-angan.
Sutta ini menjelaskan pentingnya tekun dalam pengembangan batin (bhāvanā) melalui perumpamaan induk ayam yang mengerami telurnya. Buddha menegaskan bahwa keinginan semata untuk terbebas dari kekotoran batin tidak akan membuahkan hasil tanpa pengembangan yang sungguh-sungguh. Sebaliknya, dengan tekun berlatih, pembebasan akan terjadi secara alami, seperti anak ayam yang menetas dari telur yang dierami dengan baik.
Seyyathāpi, bhikkhave, kukkuṭiyā aṇḍāni aṭṭha vā dasa vā dvādasa vā.
Misalkan, para bhikkhu, ada seekor induk ayam dengan delapan, sepuluh, atau dua belas telur.
Suppose there was a chicken with eight or ten or twelve eggs.
Tānassu kukkuṭiyā sammā adhisayitāni, sammā pariseditāni, sammā paribhāvitāni.
Telur-telur itu dierami dengan baik oleh induk ayam, dihangatkan dengan baik, dan dirawat dengan baik.
And she properly sat on them to keep them warm and incubated.
Kiñcāpi tassā kukkuṭiyā na evaṁ icchā uppajjeyya:
Bahkan jika induk ayam itu tidak memiliki keinginan:
Even if that chicken doesn’t wish:
‘aho vata me kukkuṭapotakā pādanakhasikhāya vā mukhatuṇḍakena vā aṇḍakosaṁ padāletvā sotthinā abhinibbhijjeyyun’ti,
'Oh, semoga anak-anak ayamku memecahkan cangkang telur dengan ujung kuku kaki atau dengan paruhnya dan menetas dengan selamat!'
‘If only my chicks could break out of the eggshell with their claws and beak and hatch safely!’
atha kho bhabbāva te kukkuṭapotakā pādanakhasikhāya vā mukhatuṇḍakena vā aṇḍakosaṁ padāletvā sotthinā abhinibbhijjituṁ.
Namun, anak-anak ayam itu memang mampu memecahkan cangkang telur dengan ujung kuku kaki atau dengan paruhnya dan menetas dengan selamat.
Still they can break out and hatch safely.
Taṁ kissa hetu?
Mengapa demikian?
Why is that?
Tathā hi, bhikkhave, kukkuṭiyā aṇḍāni sammā adhisayitāni, sammā pariseditāni, sammā paribhāvitāni.
Karena, para bhikkhu, telur-telur itu telah dierami dengan baik oleh induk ayam, dihangatkan dengan baik, dan dirawat dengan baik.
Because she properly sat on them to keep them warm and incubated.
Evamevaṁ kho, bhikkhave, bhāvanaṁ anuyuttassa bhikkhuno viharato kiñcāpi na evaṁ icchā uppajjeyya:
Demikian pula, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu tekun berlatih pengembangan batin, bahkan jika ia tidak memiliki keinginan:
In the same way, when a mendicant is committed to development, they might not wish:
‘aho vata me anupādāya āsavehi cittaṁ vimucceyyā’ti,
'Oh, semoga pikiranku terbebas dari kekotoran batin melalui ketidakmelekatan!'
‘If only my mind were freed from the defilements by not grasping!’
atha khvassa anupādāya āsavehi cittaṁ vimuccati.
Maka pada saat itu juga, tanpa melekat, pikirannya terbebas dari kekotoran batin.
Even so, their mind is freed from defilements by not grasping.
Taṁ kissa hetu?
Apakah sebabnya?
Why is that?
‘Bhāvitattā’tissa vacanīyaṁ.
Harus dikatakan: 'Karena ia telah dikembangkan.'
You should say: ‘It’s because they are developed.’
Kissa bhāvitattā?
Dikembangkan dalam hal apa?
Developed in what?
Catunnaṁ satipaṭṭhānānaṁ …pe… ariyassa aṭṭhaṅgikassa maggassa.
Dalam empat penegakan perhatian, empat usaha benar, empat landasan kekuatan batin, lima indria, lima kekuatan, tujuh faktor pencerahan, dan jalan mulia berunsur delapan.
The four kinds of mindfulness meditation, the four right efforts, the four bases of psychic power, the five faculties, the five powers, the seven awakening factors, and the noble eightfold path.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.