Attaññū ca kathaṁ hoti?
Dan bagaimanakah ia menjadi seorang yang mengenal dirinya sendiri?
And how are they one who has self-knowledge?
Sutta tentang Yang Mengetahui Ajaran
Sutta ini mengajak kita merenungkan kualitas-kualitas batin yang mendalam, bukan sekadar pengetahuan intelektual. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha merinci tujuh pengetahuan ini, terutama di bagian akhir yang menunjukkan pentingnya tidak hanya memahami, tetapi juga mempraktikkan Dhamma demi kebaikan diri sendiri dan orang lain.
Sutta ini membahas tujuh kualitas yang membuat seorang bhikkhu layak menerima persembahan dan menjadi ladang jasa yang tiada taranya bagi dunia. Ketujuh kualitas tersebut adalah mengetahui ajaran, mengetahui makna, mengenal diri sendiri, mengetahui kesederhanaan, mengetahui waktu yang tepat, mengetahui kumpulan orang, dan mengetahui individu-individu yang tinggi dan rendah. Bagian terakhir sutta menguraikan secara rinci bagaimana seorang bhikkhu memahami individu-individu melalui perbandingan berpasangan, dari yang tercela hingga yang terpuji.
Attaññū ca kathaṁ hoti?
Dan bagaimanakah ia menjadi seorang yang mengenal dirinya sendiri?
And how are they one who has self-knowledge?
Idha, bhikkhave, bhikkhu attānaṁ jānāti:
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu mengenal dirinya sendiri:
It’s when a mendicant has self-knowledge:
‘ettakomhi saddhāya sīlena sutena cāgena paññāya paṭibhānenā’ti.
‘Sedemikianlah keyakinanku, moralitasku, pembelajaranku, kedermawananku, kebijaksanaanku, dan kecerdasanku.’
‘This is the extent of my faith, ethics, learning, generosity, wisdom, and eloquence.’
No ce, bhikkhave, bhikkhu attānaṁ jāneyya:
Jika, para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak mengenal dirinya sendiri:
If a mendicant did not have self-knowledge,
‘ettakomhi saddhāya sīlena sutena cāgena paññāya paṭibhānenā’ti, nayidha ‘attaññū’ti vucceyya.
‘Sedemikianlah keyakinanku, moralitasku, pembelajaranku, kedermawananku, kebijaksanaanku, dan kecerdasanku,’ maka ia tidak akan disebut ‘seorang yang mengenal dirinya sendiri’.
they would not be called ‘one who has self-knowledge’.
Yasmā ca, bhikkhave, bhikkhu attānaṁ jānāti:
Tetapi karena, para bhikkhu, seorang bhikkhu mengenal dirinya sendiri:
But because they do have self-knowledge,
‘ettakomhi saddhāya sīlena sutena cāgena paññāya paṭibhānenā’ti, tasmā ‘attaññū’ti vuccati.
‘Sedemikianlah keyakinanku, moralitasku, pembelajaranku, kedermawananku, kebijaksanaanku, dan kecerdasanku,’ maka ia disebut ‘seorang yang mengenal dirinya sendiri’.
they are called ‘one who has self-knowledge’.
Iti dhammaññū, atthaññū, attaññū.
Demikianlah ia yang mengetahui ajaran, ia yang mengetahui makna, dan ia yang mengenal dirinya sendiri.
Such is the one who knows the teachings, the one who knows the meaning, and the one who has self-knowledge.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.