an7.66:10.1 Tatra, bhikkhave, ko mantā ko saddhātā:
an7.66:10.2 ‘ayañca pathavī sineru ca pabbatarājā dayhissanti vinassissanti, na bhavissantī’ti aññatra diṭṭhapadehi?
Sattasūriyasutta: Tujuh Matahari
Sutta ini mengajak kita merenungkan skala kehancuran alam semesta yang luar biasa, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk melihat dengan jernih bahwa apa pun yang terbentuk pasti akan hancur. Dari perenungan ini, kita diajak untuk memahami apa arti kebebasan sejati yang melampaui segala pencapaian duniawi maupun surgawi.
Sang Buddha mengajarkan para bhikkhu tentang ketidakkekalan segala bentukan (saṅkhārā) melalui gambaran kosmik tentang kemunculan tujuh matahari secara bertahap yang mengeringkan, membakar, dan menghancurkan bumi hingga Gunung Sineru. Ia kemudian membandingkan dengan kisah guru Sunetta yang, meskipun mencapai pencapaian luhur melalui cinta kasih, tetap tidak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian karena tidak memahami empat hal mulia: moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, dan kebebasan.
an7.66:10.1 Tatra, bhikkhave, ko mantā ko saddhātā:
an7.66:10.2 ‘ayañca pathavī sineru ca pabbatarājā dayhissanti vinassissanti, na bhavissantī’ti aññatra diṭṭhapadehi?
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.