Iti buddho abhiññāya,
Demikianlah Sang Buddha, dengan pengetahuan langsung,
And so the Buddha, having insight,
Sattasūriyasutta: Tujuh Matahari
Sutta ini mengajak kita merenungkan skala kehancuran alam semesta yang luar biasa, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk melihat dengan jernih bahwa apa pun yang terbentuk pasti akan hancur. Dari perenungan ini, kita diajak untuk memahami apa arti kebebasan sejati yang melampaui segala pencapaian duniawi maupun surgawi.
Sang Buddha mengajarkan para bhikkhu tentang ketidakkekalan segala bentukan (saṅkhārā) melalui gambaran kosmik tentang kemunculan tujuh matahari secara bertahap yang mengeringkan, membakar, dan menghancurkan bumi hingga Gunung Sineru. Ia kemudian membandingkan dengan kisah guru Sunetta yang, meskipun mencapai pencapaian luhur melalui cinta kasih, tetap tidak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian karena tidak memahami empat hal mulia: moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, dan kebebasan.
Iti buddho abhiññāya,
Demikianlah Sang Buddha, dengan pengetahuan langsung,
And so the Buddha, having insight,
dhammamakkhāsi bhikkhunaṁ;
mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhu;
explained this teaching to the mendicants.
Dukkhassantakaro satthā,
Sang Guru yang telah mengakhiri penderitaan,
The Teacher has made an end of suffering;
cakkhumā parinibbuto”ti.
yang memiliki penglihatan jernih, telah padam sempurna.”
seeing clearly, he is quenched.”
Dutiyaṁ.
Bagian kedua.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.