Atha kho, bhikkhave, sunettassa satthuno etadahosi:
Kemudian, para bhikkhu, guru Sunetta berpikir:
Then the teacher Sunetta thought:
Sattasūriyasutta: Tujuh Matahari
Sutta ini mengajak kita merenungkan skala kehancuran alam semesta yang luar biasa, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk melihat dengan jernih bahwa apa pun yang terbentuk pasti akan hancur. Dari perenungan ini, kita diajak untuk memahami apa arti kebebasan sejati yang melampaui segala pencapaian duniawi maupun surgawi.
Sang Buddha mengajarkan para bhikkhu tentang ketidakkekalan segala bentukan (saṅkhārā) melalui gambaran kosmik tentang kemunculan tujuh matahari secara bertahap yang mengeringkan, membakar, dan menghancurkan bumi hingga Gunung Sineru. Ia kemudian membandingkan dengan kisah guru Sunetta yang, meskipun mencapai pencapaian luhur melalui cinta kasih, tetap tidak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian karena tidak memahami empat hal mulia: moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, dan kebebasan.
Atha kho, bhikkhave, sunettassa satthuno etadahosi:
Kemudian, para bhikkhu, guru Sunetta berpikir:
Then the teacher Sunetta thought:
‘na kho metaṁ patirūpaṁ yohaṁ sāvakānaṁ samasamagatiyo assaṁ abhisamparāyaṁ, yannūnāhaṁ uttari mettaṁ bhāveyyan’ti.
‘Tidaklah layak bagiku jika aku terlahir kembali di kehidupan mendatang di tempat yang sama persis dengan para siswaku. Mengapa aku tidak mengembangkan cinta kasih lebih lanjut?’
‘It’s not proper for me to be reborn in the next life in exactly the same place as my disciples. Why don’t I further develop love?’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.