Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
KENALI DUNIA AN 7.66
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini mengajak kita merenungkan skala kehancuran alam semesta yang luar biasa, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk melihat dengan jernih bahwa apa pun yang terbentuk pasti akan hancur. Dari perenungan ini, kita diajak untuk memahami apa arti kebebasan sejati yang melampaui segala pencapaian duniawi maupun surgawi.
Sang Buddha mengajarkan para bhikkhu tentang ketidakkekalan segala bentukan (saṅkhārā) melalui gambaran kosmik tentang kemunculan tujuh matahari secara bertahap yang mengeringkan, membakar, dan menghancurkan bumi hingga Gunung Sineru. Ia kemudian membandingkan dengan kisah guru Sunetta yang, meskipun mencapai pencapaian luhur melalui cinta kasih, tetap tidak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian karena tidak memahami empat hal mulia: moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, dan kebebasan.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
Pada suatu masa, para bhikkhu, ada seorang guru bernama Sunetta. Ia seorang pendiri aliran keagamaan dan bebas dari keinginan terhadap kenikmatan indra.
Once upon a time, there was a teacher named Sunetta. He was a religious founder and was free of desire for sensual pleasures.
Mereka yang, para bhikkhu, sepenuhnya memahami ajaran guru Sunetta tentang kelahiran kembali bersama para Dewa di alam Brahma, setelah hancurnya tubuh, setelah kematian, terlahir kembali di alam bahagia, bersama dengan para Dewa di alam Brahma.
Those who totally understood Sunetta’s teachings were—when their body broke up, after death—reborn in a good place, the company of Divinity.
Mereka yang tidak sepenuhnya memahami ajaran Sunetta, setelah hancurnya tubuh, setelah kematian, sebagian terlahir kembali bersama dengan para dewa yang mengendalikan ciptaan makhluk lain, sebagian lagi bersama dengan para dewa yang bersuka dalam ciptaan, sebagian lagi bersama dengan para dewa yang gembira, sebagian lagi bersama dengan para dewa Yama, sebagian lagi bersama dengan para dewa Tiga Puluh Tiga, dan sebagian lagi bersama dengan para dewa Empat Raja Besar. Sebagian terlahir kembali di tengah keluarga para khattiya kaya raya, sebagian di tengah keluarga para brahmana kaya raya, dan sebagian di tengah keluarga para perumah tangga kaya raya.
Of those who didn’t totally understand Sunetta’s teachings, some—when their body broke up, after death—were reborn in the company of the gods who control what is created by others. Some were reborn in the company of the gods who love to create, some with the joyful gods, some with the gods of Yama, some with the gods of the thirty-three, and some with the gods of the four great kings. Some were reborn in the company of well-to-do aristocrats or brahmins or householders.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
AN 7.66 · Sattasūriyasutta: Tujuh Matahari | Tiga Keranjang