Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah yang kudengar:
So I have heard.
Sattasūriyasutta: Tujuh Matahari
Sutta ini mengajak kita merenungkan skala kehancuran alam semesta yang luar biasa, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk melihat dengan jernih bahwa apa pun yang terbentuk pasti akan hancur. Dari perenungan ini, kita diajak untuk memahami apa arti kebebasan sejati yang melampaui segala pencapaian duniawi maupun surgawi.
Sang Buddha mengajarkan para bhikkhu tentang ketidakkekalan segala bentukan (saṅkhārā) melalui gambaran kosmik tentang kemunculan tujuh matahari secara bertahap yang mengeringkan, membakar, dan menghancurkan bumi hingga Gunung Sineru. Ia kemudian membandingkan dengan kisah guru Sunetta yang, meskipun mencapai pencapaian luhur melalui cinta kasih, tetap tidak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian karena tidak memahami empat hal mulia: moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, dan kebebasan.
Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah yang kudengar:
So I have heard.
ekaṁ samayaṁ bhagavā vesāliyaṁ viharati ambapālivane.
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī, di Hutan Mangga Ambapālī.
At one time the Buddha was staying near Vesālī in Ambapālī’s Mango Grove.
Tatra kho bhagavā bhikkhū āmantesi:
Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:
There the Buddha addressed the mendicants,
“bhikkhavo”ti.
"Para bhikkhu!"
“Mendicants!”
“Bhadante”ti te bhikkhū bhagavato paccassosuṁ.
"Yang Mulia," jawab para bhikkhu itu kepada Sang Bhagavā.
“Venerable sir,” they replied.
Bhagavā etadavoca:
Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
The Buddha said this:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.