Kathañca, bhikkhave, visaṁyogo hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, keterlepasan terjadi?
And how does unyoking come about?
Khotbah tentang Pengikatan dan Pelepasan
Khotbah ini mengajak kita merenungkan bagaimana identitas dan hasrat saling terkait. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menguraikan mekanisme halus yang mengikat dan membebaskan batin.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha mengajarkan tentang bagaimana keterikatan (saṁyoga) dan keterlepasan (visaṁyoga) terjadi, dengan menggunakan contoh identitas gender. Beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang terpaku pada identitas gender sendiri dan kemudian terangsang oleh lawan jenis, maka ia terikat. Sebaliknya, ketika seseorang tidak melekat pada identitas gender sendiri dan tidak terangsang oleh lawan jenis, maka ia terbebas dari keterikatan.
Kathañca, bhikkhave, visaṁyogo hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, keterlepasan terjadi?
And how does unyoking come about?
Itthī, bhikkhave, ajjhattaṁ itthindriyaṁ na manasi karoti—
Seorang wanita, para bhikkhu, tidak memperhatikan kewanitaan batinnya—
A woman doesn’t focus on her own femininity:
itthikuttaṁ itthākappaṁ itthividhaṁ itthicchandaṁ itthissaraṁ itthālaṅkāraṁ.
gerak-gerik kewanitaan, penampilan kewanitaan, cara kewanitaan, keinginan kewanitaan, suara kewanitaan, dan perhiasan kewanitaan.
her feminine moves, feminine appearance, feminine ways, feminine desires, feminine voice, and feminine adornment.
Sā tattha na rajjati, sā tatra nābhiramati.
Ia tidak bergairah terhadap hal itu dan tidak bersenang karenanya.
She isn’t stimulated by this and takes no pleasure in it.
Sā tattha arattā tatra anabhiratā bahiddhā purisindriyaṁ na manasi karoti—
Karena tidak bergairah dan tidak bersenang terhadap hal itu, ia tidak memperhatikan kejantanan pihak luar—
So she doesn’t focus on the masculinity of others:
purisakuttaṁ purisākappaṁ purisavidhaṁ purisacchandaṁ purisassaraṁ purisālaṅkāraṁ.
gerak-gerik kejantanan, penampilan kejantanan, cara kejantanan, keinginan kejantanan, suara kejantanan, dan perhiasan kejantanan.
masculine moves, masculine appearance, masculine ways, masculine desires, masculine voice, and masculine adornment.
Sā tattha na rajjati, tatra nābhiramati.
Ia tidak bergairah terhadap hal itu dan tidak bersenang karenanya.
She isn’t stimulated by this and takes no pleasure in it.
Sā tattha arattā tatra anabhiratā bahiddhā saṁyogaṁ nākaṅkhati.
Karena tidak bergairah dan tidak bersenang terhadap hal itu, ia tidak menginginkan keterikatan dengan pihak luar.
So she doesn’t desire to yoke herself to another.
Yañcassā saṁyogapaccayā uppajjati sukhaṁ somanassaṁ tañca nākaṅkhati.
Dan kebahagiaan serta kegembiraan yang muncul akibat keterikatan itu pun tidak ia dambakan.
Nor does she desire the pleasure and happiness that comes from such yoking.
Itthatte, bhikkhave, anabhiratā sattā purisesu visaṁyogaṁ gatā.
Para bhikkhu, makhluk-makhluk yang tidak bersenang dalam kewanitaan mereka menjadi terlepas dari pria.
Sentient beings who do not relish their femininity are not yoked to men.
Evaṁ kho, bhikkhave, itthī itthattaṁ ativattati.
Demikianlah, para bhikkhu, seorang wanita melampaui kewanitaan dirinya.
This is how a woman transcends her femininity.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.